Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Special Mother's Day) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Special Mother's Day)



Karya Hana Fatwa

Dialah Fathimah. Nama yang mengingatkanku pada putri cantik Sang Nabi. Cocok sekali. Usianya sudah kepala empat, namun wajahnya masih sesegar 20 tahunan. Para tetanggaku bilang, saat perawan dulu, dialah bunga desa. Di kampusnya dulu, ia juga jadi rebutan. Namun, tak ada seorang lelaki pun yang bisa merebut hatinya yang mahal itu. Aku tersenyum mendengarnya, hiperbolis banget! Tapi, memang begitulah.

Bahkan saat ia menjadi nenek dari satu cucu putri pertamanya di usianya yang ke-48 tahun, orang-orang yang baru mengenalnya akan bertanya tak percaya: “Ah, masa’ neneknya? Bukan Budenya, tho?”

Dan orang-orang yang lama tak menjumpainya akan berkomentar takjub: “Subhanallah, makin muda aja. Makin cantik aja. Makin seger aja” dan makin-makin lainnya, yang ujung-ujungnya, “Apa sih resep awet muda ibu? Bisikin, doong…!” Ih!

Ya, dialah Fathimah Al-Batoul. Fathimah yang perawan. Fathimah yang cantik dan tetap segar di usianya yang sudah tak muda lagi.

Dan Fathimah itu… Mamaku!

***

Melihat senyumnya yang rekah, mendengar tawanya yang renyah, kelakar-kelakar ringannya, dan air mukanya yang bersinar, mungkin siapa pun akan mengira hidup Mama begitu mulus, tenang, dan diliputi bahagia. Tapi, lihatlah gurat-gurat usia di wajahnya. Geguratan itu yang membuatku selalu takjub tiap kali memandang lekat wajahnya. Betapa berat hidup yang harus dijalaninya, dan betapa ia begitu kuat!

Terpaan hidup itu sudah biasa ia hadapi. Ia tegar, saat ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk kuliah, karena harus menikah dengan lelaki pilihan Mbah selepas Aliyah. Mencoba mencintai laki-laki yang sama sekali asing baginya. Namun, saat rasa itu mulai hadir, masalah keluarga dari kedua belah pihak pun muncul dan membuat Mama harus ikhlas dipisahkan. Cinta dan rumah tangga yang susah payah ia bangun lagi-lagi harus dikuburnya dalam-dalam.

Mama kembali bisa mengecap bangku kuliah, tapi kembali ia harus menegarkan hati, saat lagi-lagi Mbah menikahkannya diam-diam dan memintanya Mama pulang, tepat dua hari sebelum hari H sidang munaqasyah skripsi.

Lelaki itu yang kemudian kusebut Baba.

Saat tujuh bulan Mama mengandung kakak perempuanku, konon Baba memboyong Mama ke Makkah, dengan niat menunaikan ibadah haji, sekalian muqim untuk menimba ilmu pada Syeikh Maliki. Hidup di negeri orang tentu tak senyaman hidup di kampong sendiri. Sepetak flat yang hanya mampu Baba sewa untuk tempat tinggal mereka berdua menjadi saksi hari-hari berat yang dilewatinya.

Sementara Baba mencari tambahan penghasilan sebagai guide jama'ah haji, Mama memilih menunda ibadah hajinya, hingga ia melahirkan. Saat kakak pertamaku berumur setahun, barulah Mama menunaikan ibadah haji. Bisa dibayangkan betapa repotnya berhaji sambil menggendong anak kecil berusia setahun. Meninggalkannya di flat, juga lebih tidak mungkin lagi, karena tak ada yang menjaganya.

Terik matahari dan jutaan orang yang berdesakan dari penjuru negara membuat kondisi Mama lemah. Sementara balita dalam gendongannya menangis tak henti sejak tadi. Perbekalan yang dibawanya habis sudah. Siang itu, di bawah terik matahari yang memanggang kota Mina, Mama berlari, mencari minuman, meminta belas kasihan dari jama'ah haji yang berdesakan untuk memberinya sedikit air. Andai terlambat sedetik saja, nyawa anak kecil dalam gendongannya tak akan tertolong. Gadis kecil itu tumbuh cantik hingga Mama mengandung anak kedua, kakak perempuanku.

Ada hal yang hingga kini tak bisa dilupakannya, yang selalu ia dengungkan dalam cerita-ceritanya saat kami beranjak kanak-kanak. Dulu, saat Mama harus membereskan flat, mencuci, atau juga memasak, ia harus mengikat kaki dua gadis kecilnya ke kaki meja, agar tak keluar flat. Dasar anak-anak, mereka menaiki meja dan deretan kitab-kitab Baba di atasnya, menjadikannya tempat duduk bersantai yang nyaman, lalu dengan cueknya, ngompol di sana, menambah satu lagi daftar pekerjaan rumah Mama.

Empat tahun kemudian, Baba membawa Mama pulang bersama dua orang putrinya, dan satu orang lagi dalam kandungan Mama: aku!

Masih tersave dengan baik dalam ingatanku, saat Baba memutuskan muqim kembali di Makkah, kuhabiskan masa kecilku bersamanya. Mama membesarkan kami seorang diri. Bayangkan, betapa repotnya mengasuh tiga orang anak perempuan yang hanya selisih satu tahunan.

Dulu sekali, tiap malam selepas maghrib di rumah kecil kami yang lengang, biasanya, aku duduk di ambang pintu kamar kecil kami, mengantre di belakang dua kakak perempuanku, menunggu giliran menghafal surah-surah pendek, sementara Mama mendengarkan dengan seksama di kamarnya, tetap dalam balutan rukuhnya di atas sajadah. Sesekali, ia mengoreksi hafalan kami yang kurang, memperbaiki tajwidnya, atau sekedar menyalahkan dengan gumaman, pertanda kami harus memperbaiki kesalahan kami sendiri. Alih-alih mengingat-ingat hafalan, aku malah asyik bermain-main. Hatta, ketika tiba giliranku, surah yang kubaca itu-itu saja, surah Al-Ma’un, karena mirip dengan nama tukang cukur Mbah Kakungku.




Sumber gambar: https://steemit.com/mom/@ubaid7866/mother









Posting Komentar untuk "Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Special Mother's Day)"

  • Bagikan