Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Bagian 2) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Bagian 2)


Karya Hana Fatwa

Dan tiap ba'da isya tiba, mama akan duduk menemani kami belajar, dan lagi-lagi di kamar kecil kami, satu-satunya kamar tempat kami tidur dan bergelung bersama selama puluhan tahun. Memang hanya ada dua bilik di rumah kami waktu itu. Satu kamar kami dan bilik lainnya adalah ruang tamu. Masih kuingat, aku paling suka belajar di ambang pintu kamar kami. Mama berkali-kali menegurku, karena penerangan lampu di ambang pintu tentu sangat tidak baik untuk membaca. Aku selalu bersikeras, dan akhirnya mama mengizinkan, jika hanya untuk menghafalkan perkalian saja. Sementara aku menghafalkan perkalian, mama menyimaknya seksama, terkadang sambil lalu-lalang, keluar masuk kamar. Sepertinya sibuk sekali. Entah apa yang dikerjakannya. Aku lupa, karena lebih konsentrasi pada deretan perkalian yang kuhafalkan. Tapi, yang tak pernah kulupa, ia tak lepas menyimak hafalanku di antara kesibukannya itu.

Di lain waktu, ba’da jama’ah isya’, dua orang lelaki tak dikenal masuk rumah kami. Berjaket hitam, menyeramkan sekali. Mama yang lebih dulu menyadari kehadiran mereka segera meminta kami melepas dan menyembunyikan gelang-anting sederhana yang kami kenakan, dan meminta kami duduk merapat ke tubuhnya. Kami mengkeret di balik rukuh lebarnya yang belum sempat ia buka selepas berdoa tadi. Ketika dua lelaki itu masuk tanpa mengucap salam, ia bangkit menghadapi mereka bak hero berjubah. Begitu tangguhnya!

Aku tak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti, dua lelaki berkumis lebat itu segera pergi dan Mama berbisik pelan pada kami setelah itu,

“Kita aman, nak!”

Dan hari demi hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang kami lalui, kami hanya berempat. Ya, berempat. Aku, dua kakak perempuanku, dan perempuan tangguh itu: Mamaku!

Sepuluh tahun yang kami lewati tanpa Baba membuat Mama tak terlalu tergantung pada Baba. Ia biasa mencari penghasilan tambahan. Apa saja, asal kami bisa terus bertahan, karena kiriman uang dari Baba juga tak seberapa. Kadang habis menyicil hutang Baba untuk biaya keberangkatannya ke Makkah. Tertatih, tapi Alhamdulillah, kami bisa hidup sederhana namun bahagia, hingga akhirnya Baba pulang enam tahun kemudian.

Pikirku, segala penderitaan Mama akan berakhir. Tapi, nyatanya, aku salah besar. Baba menikah lagi, diam-diam! Sayangnya, tepat saat hari-hari menjelang kelahiran adik lelakiku.

Perih.

Luka.

Ibarat kaca pecah, tak akan bisa seorang pun yang bisa merapatkan kembali pecahan-pecahan hati Mama yang hancur, tidak juga Baba!

Aku tahu, tahun demi tahun yang Mama lewati setelah itu adalah hari-hari yang dilewatinya dengan berdarah-darah. Mencoba menerima kembali lelaki yang tak dinyana melukai hatinya sedalam ini. Hingga kini pun, aku tahu, Mama tak pernah memaafkan kesalahan itu. Satu hal yang membuat Mama tetap bertahan hanyalah kami, anak-anaknya. Ia sakit, sangat sakit, tapi cukup baginya saja. Aku tak tahu, bagaimana ia bisa bertahan selama itu; hidup dengan kekuatannya sendiri. Hingga puncaknya, Baba meninggal di tahun 2004 karena penyakit komplikasi yang dideritanya bertahun-tahun, meninggalkan dua orang yatim, adik-adikku.

Mungkin saja aku tidak akan mampu membendung perih ini, kalau saja tak ada Mama di sampingku. Aku sedang menjalani ujian semester, ketika hari kelabu itu terjadi. Siapa pun mungkin tak akan menyangka aku akan masuk hari itu dan duduk mengerjakan soal di antara deretan bangku ujian. Satu hal yang membuatku kuat hanyalah: Mama!

“Simpan tangismu dalam hati saja, nak” itu kata yang kuingat. Mantra yang membuat kami kuat waktu itu. Tapi, ternyata orang-orang usil itu malah mengartikannya dengan amat sangat picik.

Kami senang kehilangan Baba, kata mereka.

Itu karena kami sudah lelah merawat Baba, komentar yang lain.

Sayangnya, mereka orang dekat kami. Orang yang kami sebut keluarga. Mungkin saja mereka tak kenal arti TEGAR! Sayang sekali….

Bagaimana pun life must go on. Dan sejarah itu pun terulang. Masih dengan lakon yang sama, tapi kali ini aku merasakan perjuangan yang sebenarnya. Aku menyaksikan tiap detail potongan-potongan hidup kami, dan aku merasakan kedewasaanku tumbuh bersamanya.

Mama tetaplah perempuan yang tegar itu! Yang membesarkan kami dengan didikannya yang keras, disiplin, dan penuh aturan. Didikan yang sama yang didapatnya dari Mbah Putri. Ketika kecil dulu, mungkin aku akan menangis diam-diam, ketika Mama memarahiku, entah karena kesalahan kecil atau nilaiku yang anjlok. Mama memang paling ketat menjaga belajar kami, dan selalu menuntut kami menjadi yang terbaik di sekolah. Mamalah yang begitu optimis memondokkanku di luar Madura dalam kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan setelah Baba meninggal. Itu kemudian kumengerti, karena Mama tak ingin putra-putrinya bernasib sama seperti dirinya.

“Sakit Mama tidak boleh terulang. Cukup Mama saja”

Maka, saat dua kakak perempuanku lulus cum laude dan menjadi wisuda terbaik, aku melihat mata Mama berkaca-kaca. Saat akhirnya kakak pertamaku menikah, aku melihat mata bening Mama basah oleh air mata haru.

Mama termasuk orang yang tertutup. Ia jarang sekali mengeluh pada kami, anak-anaknya seberat apa pun beban pikirannya. Tapi kutahu, Mama sering menangis diam-diam di kamarnya. Menangis dalam doa-doa panjangnya. Hatinya menangis di antara tawanya yang renyah.

Beban itu demikian beratnya, hingga Mama menderita Batu Empedu dan sering mengalami kecemasan yang sangat. Kata dokter, kondisi mental Mama sangat lemah. Biasanya, Mama tidak akan tidur semalaman, ketika kecemasannya datang. Tapi, lagi-lagi, Mama menolak setiap kali aku menawarkan diri menemaninya semalaman suntuk.

Katanya, “Nanti pasti nyenyak sendiri”.

Mungkin benar, pintu surga akan dibuka ketika seorang anak memandang lekat wajah ibunya. Di bening mata Mama, aku temukan ketegaran dan kekuatan, seolah berkata: Laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha…

Sekali lagi, di mataku, Mama demikian tangguhnya dan aku akan lakukan apa pun untuknya.

Jika dulu Mama mencari tambahan penghasilan untuk menghidupi kami, entah itu buka warung atau berbisnis pakaian muslimah, maka aku akan melakukan hal yang sama, namun dengan cara dan kemampuanku sendiri.

Aku menerima tawaran pekerjaan di antara kesibukanku di kampus, aku menulis dan mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Jujur, selain tentu lillahi ta’ala, aku melakukan semua itu untuk Mama, untuk ketenangan dan kebahagiaan yang begitu sulit ia kecap.

Hari-hariku yang lelah dengan tumpukan pekerjaan, tugas-tugas kuliah, naskah-naskah tulisan yang belum rampung, sama sekali belum sebanding dengan lelah batin Mama selama puluhan tahun usianya.

Ya, siapa yang akan menyangka, di balik wajah Fathimah yang segar itu, hatinya menangis. Tak ada yang akan mengira, karena ia akan selalu bilang:

“Simpan tangismu di hati saja, dan biarkan hanya Dia yang Tahu…"

Mungkin, aku tidak mewarisi kecantikannya, tapi aku ingin mewarisi ketegarannya.

Selamat Hari Ibu, Mama! (*)

Sumber gambar: https://steemit.com/mom/@ubaid7866/mother

Kalau mau pasang twibbon merayakan Hari Ibu 2021 bisa dipilih pada tautan di bawah ini.

Posting Komentar untuk "Fathimah Cantik Itu Hero-ku! (Bagian 2)"