Dalimin Ngotot Mau Bangun Mesjid (Ditanggapi KH Ahmad Bahaudin Nursalim) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dalimin Ngotot Mau Bangun Mesjid (Ditanggapi KH Ahmad Bahaudin Nursalim)




Dalimin orang terkaya di kampung Silalima. Dalimin seperti yang diceritakan pada serial Salimin dan Dalimin adalah adik kakak dari Salimin yang ustad. Dalimin punya usaha susu kambing etawa. Begitu banyak kambing di kebunnya. Dari susu kambing etawa inilah yang mengantarkan Dalimin menjadi orang terkaya di kampung Silalima.

Seperti cerita-cerita sebelumnya Dalimin selalu ingin mengungguli popularitas Salimin. Ingin mengungguli jumlah tamu yang datang ke rumah Salimin. Makanya ia ngotot mau mendirikan mesjid terbesar di kampung Silalima. Tapi, Salimin menegurnya dengan keras bahwa rencana pembangunan mesjid oleh Dalimin dipandang sebagai tidak beradab kepada leluhur dan menyalahi aturan pembangunan mesjid baru.

"Tidak karena kaya kemudian seenaknya mau bangun mesjid!" Tegas Salimin dalam ceramah malam Jumatnya.

"Bangun mesjid bukan seperti bangun indomart dan alfamart." Tambahnya.

Ceramah Salimin menjadi pukulan hebat bagi Dalimin. Dia tak perlu hadir pada ceramah Salimin, tapi ia tahu kata per kata yang disampaikan Salimin. Ia punya cctv berupa manusia yang bernama Kadrun.

Dalimin menyepak kopi yang bertengger di atas meja ruang tamunya. Saking malkelnya dengan isi ceramah Salimin. Untung tidak kena wajah Kadrun.

"Bagaimana ini juragan?" Tanya Kadrun.

"Tetap jalan. Pembangunan mesjid ini kan niat dan cita-cita yang mulia. Tanpa atau dengan mulut Salimin, mesjid tetap harus dibangun. Memangnya dia saja yang mau masuk surga?"

"Apa lagi kata si bangsat itu?" Tanya Dalimin ke Kadrun.

"Kampung kita kan seukuran foto 3x4 Tuan, artinya kampung yang sempit. Katanya, tidak boleh ada dua mesjid dalam radius seluas kampung kita!"

"Terus, apa katanya lagi?"

"Katanya lagi, mesjid utama Silalima kita: Darul Jannah adalah mesjid leluhur kita. Kalau sampai ada mesjid baru di dekatnya, dianggap su'ul adab!"

"Bangsat bener si Salimin ini!" Dalimin tambah panas. Tambah marah.

"Kita pastikan pembangunan mesjid baru berjalan dengan baik. Kita sukseskan dengan darah sekalipun. Ingat, membela mesjid ganjarannya surga!"

"Siap Tuan!"

Dalimin memperkuat orang-orang (panitian pembangunan mesjid). Ia perkuat secara ekonomi. Tiap orang panitia yang sukarela membantu pembangunan mesjid baru, ia tanggung kebutuhannya. Tiap anggota keluarga dalam kepanitiaan setiap hari diberi bansos 300 ribu rupiah. Itu baru uang transport, kata Dalimin. Dalimin juga tiap minggu berbagi 1 kuintal beras kepada anggota panitia pembangunan mesjid. Ia yakin, membangun mesjid dan menanggung kehidupan para panitia pembangunannya akan membuatnya dijamin surga oleh Tuhan. Toh, aku membuatkan rumah untuk Tuhan, bisiknya dalam hati.

“Kita beri nama apa mesjid kita ini Tuan? Mau saya buatkan banner dan berita di media sosial!” Tanya Kadrun selaku ketua panitia pembangunan mesjid.

“Apa bahasa arabnya dijamin surga?” Tanya Dalimin.

“Sebentar, Tuan!” Kadrun merogoh hape dari kantongnya. Ia ingin mencari terjemah kata ‘dijamin surga.’ Ia menggunakan translate google. Ia coba terjemahkan kata: dijamin surga dan jaminan surga serta orang-orang yang dijamin surga.

“Tuan, ini ditemukan beberapa nama. Tuan pilih atau Tuan tentukan sendiri menurut versi Tuan!”

“Apa saja?”

“Shaghil Aljana (penghuni surga), Janad Madmuna (dijamin surga), dan Daman Aljana (jaminan surga).” (hancur tata kata bahasa Arabnya, maklum translate google).

“Wah, pasaran semua nama yang kamu temukan!”

“Maaf, Tuan!”

“Begini, mesjid kita ini kita beri nama Jannaty Bagaimana?”

“Wah, cocok Tuan! Tuan memang ahli surga!”

Saat perbincangan seru itu, Salimin di luar memberi salam.

“Ada Salimin Tuan!” periksa Kadrun.

“Suruh masuk! Aku memang gemes sama si bangsat itu!”

Salimin dipersilakan duduk sama Kadrun, bukan sama Dalimin.

“Ada apa?” Dalimin memulai pembicaraan. “Tentang mesjidku kan?” Lanjutnya.

“Benar, sepertinya kita perlu mendiskusikan lebih serius.”

“Kamu tidak lihat pembangunannya sudah 80 persen? Kamu buta bahwa orang-orang sangat bergantung kepada mesjid untuk jaminan surga?”

“Itulah yang perlu kita diskusikan!”

“Rasanya kamu buang-buang waktu kami saja!”

“Ini akan jadi masalah secara fiqih!”

“itu urusanmu! Maaf aku tidak bisa melayani. Aku harus memimpin orang-orangku membangun surga!”

Salimin ditinggal begitu saja. Kadrun menemani, tapi tak sepatah katapun. Akhirnya Salimin pergi meninggalkan rumah kakaknya.

Keesokan harinya terjadi aksi demo di sekitar pembangunan mesjid. Orang-orang kampung Silalima memprotes pembangunan mesjid Jannaty dilanjutkan sementara para pekerja bangunan mesjid terus bekerja dengan penuh semangat. Tidak berapa lama, terjadilah kerusuhan. Para pekerja menggunakan alat-alat kerjanya sebagai senjata. Ada pacul, linggis, besi coran, sekrop, dan sebagainya. Pihak pendemo membawa senjata tajam beneran seperti golok, sabit, pedang, bahkan samurai.

“Jangan takut mati! Kalian sudah ditunggu di surga! Jangan ragu, aku yang menjamin kehidupan keluargamu, jika kalian syahid!” Teriak Dalimin.

Terjadilah pertumpahan darah pada hari Jumat di area pembangunan mesjid. Sepuluh orang dari pekerja tewas. Tiga orang dari pihak pendemo juga tumbang. Total tiga belas orang meninggal sia-sia.

“Kalian yang mati, tidak akan sia-sia!” Dalimin memberi semangat menjual surganya.

Kerusuhan berhenti ketika datang sepasukan polisi, tentara, dan babinsa. Semua diborgol dan digelandang ke polsek Silalima.

Urusan pembangunan mesjid pun masuk sidang pengadilan. Keputusan pengadilan: pembangunan mesjid Jannaty dilanjutkan.


Tamat


Berikut pandangan Kyai Haji Ahmad Bahaudin Nursalim tentang pembangunan mesjid pada menit ke 34;20 sampai 36:36. Ada beberapa syarat pembangunan mesjid baru. Bukan karena alasan kaya dan ingin bersedekah. Silakan menonton dengan bijak.



Mengenai siapa Dalimin dan Salimin bisa dibaca juga tautan di bawah ini.



Sumber: https://www.malakattribunenews.com/

Posting Komentar untuk "Dalimin Ngotot Mau Bangun Mesjid (Ditanggapi KH Ahmad Bahaudin Nursalim)"