Bandung dan Tisa by Indah Leoni - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bandung dan Tisa by Indah Leoni


Sebelumnya maaf kalau saya lancang dan mengganggu, tapi saya mau menanyakan satu hal; bagaimana jika kita diberi waktu sebentar lagi, kamu mau mengulang atau tetap memilih hilang?

Barangkali katamu benar, bahwa kota Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang sangat bahagia.

Wisata alamnya yang beragam lengkap dengan banyak kenangannya, sekali waktu aku ingin kembali ke sana lagi. Benar sekali kata orang, bahwa kita seringkali merindukan sebuah kota, bukan karena ada apa di kota itu, tapi karena seseorang di sana.

Pemandangan kota yang bisa kita jumpai lewat wilayah atas Puncak Bintang, misalnya.

Pun, kebun teh Sukawana yang jadi alternatif ketika kita sedang ingin jauh dari khalayak ramai.

Semua itu kerap kali membuatku bertanya, kota seindah itu diciptakan untuk apa dan siapa?

Ah iya, lupa aku, bagian berkesan ketika kita ke Museum Geologi bersama satu orang temanmu. Dia merengek kelaparan, dia sampai kesurupan di warung makan seberang jalan. Katamu dia hanya berpura-pura saat itu karena malu, sendoknya jatuh ke lantai, ketika mau mengambilnya kursinya malah kejengklang. Astaga.

Kalau mengingat destinasi wisata kota sejuk itu, aku teringat Tangkuban Perahu. Kisah yang amat sangat terkenal. Aku jadi bersyukur, karena wanita jaman sekarang hanya minta dimengerti, bukan minta dibuatkan candi atau perahu. Gimana ya, kalau aku bersekutu dengan jin untuk memenuhi permintaan anehmu. Kau kan selalu bilang mau merasakan jadi batu, hewan bahkan tumbuhan. Pun juga ingin menjadi penguasa di negerinya Princess Jasmine, Agrabah.


Dalam duniaku yang sungguh kelam, semesta menjawab segala keingintahuanku tentang kota cantik ini; dihadirkan kamu untukku. Tapi karena terlalu bahagia, aku sampai lupa bahwa bisa saja semesta sedang bermain teka-teki denganku. Lihatlah, sekarang kamu tidak disampingku, dan kembali kuajukan banyak tanya pada semesta.

Kurasa aku jatuh cinta. Jatuh berkali-kali pada keindahan kota Bandung. Pada kerlap-kerlip lampu di pinggir jalan, pada deru kendaraan, pada hiruk-pikuk yang tiada henti, pada jajanan pinggir jalan yang mampu mengganjal perut, pada bising obrolan random manusia-manusia; ada yang tertawa lepas, ada yang menangis tersedu, ada yang murung sekali wajahnya, seperti kemeja kusut yang lupa disetrika. Aku seperti dirayu untuk mengelilingi kota yang tidak pernah tidur itu.

Aku selalu dibuat takjub pada pemandangan hangatnya. Seseorang yang membantu orang lain untuk diberitahu alamat, misalnya. Atau sesederhana cucu yang sedang menyuapi neneknya sepotong roti. Aku akan selalu jatuh cinta pada kota yang tercipta saat Tuhan sedang jatuh cinta, hingga mengenalkanku pada dia yang selalu terselip dari banyaknya doa meski curi-curi waktu disela kesibukan untuk berkata; Tuhan, aku jatuh cinta tiap hari pada perempuan yang di kepalanya ingin jadi batu kali.

Suatu petang, di saat aku harus menikmati senja seorang diri, semburat kemerahan di ufuk barat seolah melukis indah wajahmu, teduh senyummu, hangat sapamu. Dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, hatiku masih saja mencari sosokmu. Dan untuk sekali lagi, atas banyak mengapaku, harus aku jawab dan simpulkan sendiri; bahwa, sebaik apa pun kita, manusia akan selalu tergantikan meski kita beri segala.

Kita adalah refleksi nyata dari satu jiwa dua tubuh. Apa yang menjadi kesukaanmu adalah juga kesukaanku. Kamu suka film horor, aku juga. Kamu lebih suka bulan purnama, aku pun. Pokoknya kita sedikit berdebat banyak diskusinya, karena memang senyaman dan senyambung itu. Sekarang, kamu apa kabar? Kudengar, dengan lelaki yang saat ini bersamamu, kalian suka bertengkar ya? bahkan untuk hal kecil seperti makan ketoprak pake lontong apa tidak. Kata orang ya, ketidaksamaan itu sengaja dibuat untuk menyatukan dua hal berlawanan agar bisa saling melengkapi. Sama seperti magnet yang tidak akan pernah bertemu di kutub yang sama. Padahal, menurutku alangkah lebih bagusnya jika yang sama itu disatukan, entah akan selaras apa.

Kalau aku punya kekuatan, ingin sekali aku memutar waktu. Mengembalikan segala kenang di masa lalu; hidup di masa itu saja. Tapi aku hanya manusia biasa, yang punya berbagai batas. Punya berbagai penghalang. Kekuatanku pun, hanya sebatas tetap bertahan di tengah badai. Tidak lebih.

Bolehkah aku rindu? Pada tatapan mata yang dulu mampu menelanjangiku dengan teduhnya, yang dulu hangat dalam peluknya, yang dulu manis dalam sikapnya, yang dulu kuat menggetarkan jiwa. Kalau boleh, biarkan aku menari dalam khayal, bernyanyi dalam kenang,

memeluk mimpi yang kian patah, mendekap harap yang kian pupus, menggenggam janji yang kian menguap.

Malam itu, di Pinisi Resto yang letaknya di pinggir Situ Patenggang, kamu tertawa cantik sekali disinari temaramnya cahaya neon, kamu tertawa karena aku kolot sekali dalam menyatakan rasa. Sekadar; “ Tisa, mau ya jadi pacarku?”



“ jangan mau denganku, aku banyak kurangnya.” Itu yang kamu katakan sambil menyeruput strawberry smoothiemu.

“ engga, Sa. Justru kamu wanita hebat.” “ serius, jangan mau denganku.”

“ aku ditolak, nih?” “ maaf ya?”

“ gapapa,” meski sebenarnya aku kecewa, semoga nanti Tisa mau.

Tisa itu benar-benar berbeda dari perempuan kebanyakan. Selama mengenalnya kurang lebih lima bulan, dia selalu saja membuatku takjub atas pola pikirnya yang unik. Ada saja hal yang mungkin terdengar membosankan namun menjadi seru ketika dilakukan bersamanya. Misalnya dengan jalan ke Perpustakaan, dalam pikiranku akan sangat membosankan duduk diam membaca buku, tapi nyatanya tidak. Tisa selalu punya cara membuatnya lebih berwarna, mengajak diskusi tentang isi bukunya contohnya.

Singkatnya, saat itu kita lagi di taman kota, ceritanya Tisa sedang mengapresiasi dirinya sendiri yang berhasil memenangkan lomba menulis puisi dengan mendatangi tempat yang indah dan makan makanan favorit seorang diri, tapi aku malah datang menganggunya. Haha.

Sepotong martabak manis siap dia makan, dan aku menyatakan perasaanku lagi padanya.

Kupikir, ini waktu yang baik karena ia sedang sangat bahagia, tapi ternyata aku ditolak lagi.

“ Naufal, kuberi tips jitu dalam menyatakan perasaan pada seorang perempuan ya, katakanlah di waktu yang tepat.”

“ loh, memangnya sekarang salah ya?”

“ salah sekali. Pertama, aku sedang menikmati waktu sendiri itu artinya sedang tidak ingin diganggu siapapun. Kedua, coba apresiasi hal yang membuat perempuan yang kamu sukai itu bahagia, kesampingkan dulu niatmu itu, meskipun baik tapi perempuan itu bisa ilfeel padamu yang lebih mau mengajak pacaran daripada mengucap selamat.”

Sudah kubilang Tisa itu unik. Kalau mungkin kebanyakan perempuan akan senang diperlakukan demikian, Tisa tidak. Dari ucapannya, aku bisa belajar, bahwa buatlah perempuan terkesan dahulu maka hatinya bisa diberi.

Mungkin sekitar satu bulan, komunikasi dan pertemuanku dengan Tisa bisa dihitung jari. Selain karena merasa bersalah, aku juga sedang mencari cara bagaimana perempuan unik itu bisa jadi milikku. Karena serius, aku jatuh cinta sedalam itu padanya.

Sebenarnya inginku sederhana; bisa memeluknya erat tanpa perlu aksara rasa yang berlebihan. Ketika kukatakan aku cinta, maka itu sebenar-benarnya cinta. Bukan bualan atau sekadar kalimat penenang. Karena memang, aku ingin sekali tertawa dan menghabiskan sisa usia dengannya. Belum pernah ada perempuan yang membuatku takjub sedemikiannya, dia benar-benar berbeda.

Caranya berpikir, caranya melihat masalah dari berbagai sudut pandang, caranya memperlakukan manusia lain, caranya mengerti dunia yang sekejam itu kadang-kadang, caranya bertahan dan bangkit. Aku suka. Kapan aku jatuh cinta dengannya, aku tidak bisa menjawab. Tapi benar, aku jatuh cinta pertama kali ketika melihatnya tertawa. Dan akan selalu jatuh pada setiap inci dirinya.

Hari kedua terakhir bulan Desember, hari yang tidak akan pernah aku lupa. Entah karena apa, akhirnya Tisa menerimaku setelah diberi banyak pertanyaan olehnya. Ya, tidak banyak yang berubah dari sikap kami ketika telah menjadi sepasang kekasih, bahkan Tisa semakin absurd tingkahnya.

Pesan Tisa yang akan selalu aku ingat adalah; “ buat seseorang tersenyum setiap hari, tapi jangan lupa kalau kamu seseorang juga. Karena segimana pun caraku membuatmu merasa berharga, tidak akan ada yang bisa menyaingi dirimu sendiri dalam menjagamu.”

Tuhan, Kamu baik sekali mengizinkan perempuan ini hadir dalam hidupku. Aku janji akan membuatnya bahagia. Izinkan kami menua bersama.

Bulan di malam itu menjadi saksi, betapa bersyukurnya aku dimiliki dan memiliki Tisa.

Perempuan yang punya banyak cara membuatku terkesima.

Kurang lebih dua tahun sudah hubungan kami, tapi kami jadi sering berdebat. Aku yang di Jakarta dan Tisa yang di Bandung jadi sulit bertemu, meski jaraknya tidak terlalu jauh. Hari itu, Tisa datang ke apartemenku, katanya ingin menyelesaikan masalah yang sedang terjadi antara kami berdua.

Bukannya selesai, kami bahkan semakin bertengkar sampai aku marah sekali dan malah mengusirnya. Aku sudah bilang kan kalau Tisa itu berbeda, dia tidak marah dan langsung pergi begitu saja, tapi dia menghampiriku dan memelukku sambil berkata; “ kamu punyaku kan? Aku boleh pergi bawa punyaku?” Astaga, demi Tuhan, aku jadi lupa apa yang membuatku marah sekali saat itu.

Mengkilas balik kisah antara aku dan Tisa, sebenarnya sulit menemukan ketidakcocokan kami berdua. Mustahil rasanya jika kami harus berpisah hanya karena alasan tidak cocok. Tapi itu yang dikatakan Tisa di hari ulang tahunku; “ Naufal, kita berakhir saja ya? kurasa kita sudah tidak cocok lagi.” Ujarnya ketika ia meneleponku jam dua malam.

Aku paham betul bagaimana seorang Tisa, seaneh apa pun jalan pikirannya, dia tidak semudah itu menyerah jika saja masalahnya hanya tidak cocok. Pasti ada hal lain yang mengharuskan dia mengucapkan kalimat itu.

Benar, dugaanku benar. Temannya mengatakannya padaku, Tisa sengaja berkata demikian supaya aku membencinya dan cepat melupakannya karena lusa ia akan dinikahkan dengan lelaki pilihan ayahnya.

Aku merasa berhak memperjuangkan Tisa, tapi aku paham betul Tisa itu tidak bisa membantah ucapan ayahnya sekalipun itu menyakiti hatinya sendiri. Seketika aku teringat kalimat Almarhum kakak perempuanku, katanya tingkatan tertinggi dari mencintai adalah ketika kamu berdoa menyebut namanya, bukan meminta agar dijodohkan tapi meminta agar hatimu dilapangkan melepasnya.

Tidak ada ungkapan rasa sakit yang bisa menggambarkan bagaimana hatiku patah saat itu. Dengan linangan air mata, aku menggelar sajadah dan melangitkan banyak doa agar Tisa selalu bahagia dalam hidupnya. Agar tak kurang apa pun, agar selalu dilimpahi kasih, agar selalu tersenyum seberat apa pun yang harus ia lalui. Aku tidak akan egois dengan membencinya, karena aku tahu seberat apa keputusan yang harus Tisa ambil. Sama dengan aku, ini pasti sangat menyakitkan untuknya. Dengan itu, Tisa, kudoakan agar Tuhan memberimu hati yang lapang untuk menerima rasa sakit.

Tisa, perempuan yang akan selalu indah bagaimana pun air mata berusaha merusak cantiknya. Barangkali kamu lupa, ini aku, lelaki yang tidak pernah sekalipun absen mendoakan agar kau selalu bahagia.

Janji-janji dan banyaknya mimpi kita, aku anggap tuntas. Aku anggap selesai. Meski berat awalnya, tapi selama kamu mampu tertawa, aku baik-baik saja.

Selamat menikah, Tisa. Ucapan ini tulus dari hati seseorang yang sangat bermimpi mengenakan jas pengantin dan mengucap Qobiltu Nikaha atas namamu. Doaku banyak untukmu, dan biarkan aku selalu menyertakan namamu dalam jutaan bait yang ikhlas kuudarakan.

Tisa, pernah kubilang aku akan selalu menunggumu, bukan? Pahamilah bahwa itu bukan bualan belaka, aku serius. Kelak, jika semua orang berlomba-lomba mematahkan hati dan semangatmu, aku rasa kamu tahu kemana kamu harus pulang. Jangan takut, kembali saja, aku tidak kemana-mana.

Kutitip salam pada kerit bambu, barangkali ia bisa membuatmu merasai dari ributnya. Tertitip rinduku pada debur ombak yang akan selalu membawa tiap rasaku. Bisakah kau merasakan cintaku dari tetes hujan di bulan Agustus? Yang terdengar mustahil namun memang begitu adanya.

Hari ini kamu menikah, kamu pasti cantik sekali mengenakan gaun pengantin. Boleh aku titip kata? Sampaikan pada dia, lelaki yang menjadi imammu dalam hal apapun di dunia ini, tolong jaga dan cintai Tisa seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

Sekali lagi selamat menikah, untukmu, perwujudan dari semua keindahan yang rela aku tanggalkan. Dariku, refleksi atas segala kemalangan yang kau tinggalkan.

Tisa, kuharap bersama dengan kado pernikahan yang kukirim, kamu juga membaca surat yang isinya biasa saja namun ditulis dengan sangat ikhlasnya.

Semoga kamu selalu percaya, bahwa masih ada lelaki yang mencintai setulus ini.

Bandung, akhirnya aku mengerti sekarang. Bahwa keindahanmu, tercipta untuk dikenang, bukan untuk siapa-siapa.

















Nama : Indah Leony

Posting Komentar untuk "Bandung dan Tisa by Indah Leoni"

  • Bagikan