Surat Putu Wijaya Ke-2 Kepada Saya - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Putu Wijaya Ke-2 Kepada Saya





Salam, terimakasih atas komentar WARTEG. Kini kami sedang menggarap FATAMORGANA. Sebuah drama dan DUKUN PALSU sebuah komedi. Kali ini untuk SCTV.

Perjalanan seorang penulis/seniman, umumnya penuh dengan lika-liku yang cendrung ditindih oleh luka-duka dan nestapa. Tetapi semua itu bukan tidak ada artinya. Semua itu justru merupakan sebuah persiapan untuk meloncat. Kalau lulus, bisa menerobos semua itu, dia akan jadi. Tetapi apa syaratnya supaya bisa lulus sulit untuk ditetapkan. Karena pada masing-masing orang berbeda medan. Tetapi perbedaan itu sendiri sangat bermanfaat untuk menentukan orijinalitas. Usaha yang terus-menerus, kegigihan dan kebandelan bekerja, tak akan pernah sia-sia. Hanya soal waktu saja. Mengeluh sangat manusiawi. Seorang pengarang penuh dengan keluhan, karena itu ia menjadi pengarang. Tetapi manusia yang penuh dengan keluhan yang mengeluh tidak akan menjadi pengarang. Manusia yang penuh keluhan dalam hidupnya yang memutuskan tidak mengeluh, tetapi bekerja akan menjadi pengarang yang baik.

Saya kira tak perlu menjadi orang lain, menjadi diri sendiri itulah yang terbaik. Tetapi bagaimana menjadi diri sendiri, kalau dirinya tidak dikenal, itu juga amat sulit. Harus mencari sebuah cermin. Tetapi cermin seperti itu tidak ada yang menjual, bahkan memang tidak pernah nampak. Harus dibuat sendiri di dalam batin masing-masing. Proses adalah bagian dari cermin setiap orang. Proses akan mengantarkan setiap orang. Hanya soal kesabaran dan ketekunan. Dan mencari diri itu hanya bisa dilakukan sendiri.

Bagaimana menulis, bisa diajarkan, tetapi tidak terlalu mudah dipraktikkan. Karena kadangkala bukan tidak diketahui caranya, hanya ketika dilaksanakan dengan resep yang sama, hasilnya bisa lain. Ini berarti memerlukan jam terbang. Pengasahan ke dalam. Pertapaan dan semedi dalam dirinya sendiri. Menjadl penulis adalah menjadi pertapa. Mengisi diri. Dengan kata lain wawasan dan gagasan. Gabungan keduanya akan merupakan kombinasi yang sangat bagus. Saya kira akan bertemu dengan sendirinya nanti di dalam proses. Menulis bukan lari jarak pendek, tetapi adalah lari marathon. Bertahun-tahun. Semakin lama semakin sulit. Namun dalam kesulitan-kesulitan itu lahir berbagai penemuan yang mengherankan, yang tak terbayangkan sebelumnya. Jadi kalau mau jadi penulis memang harus bersiap kontrak panjang tanpa memikirkan hasilnya. Kalau tidak, lebih baik lupakan semua itu. Karena menulis adalah pekerjaan yang berbahaya, mahal, sulit, karena tidak ada jaminan apa-apa. Setiap penulis yang terkenal dan nomor satu sekali pun pernah atau barangkali terus-menerus kecewa pada dirinya sendiri. Karena itu ia terus menulis. Pemenang nobel dari Jepang, Kawabata, bunuh diri karena ia merasa malu, tak mampu lagi menulis sebagaimana yang sudah pernah ditulisnya. Kita tidak usah bunuh diri. Kita coba saja lagi setiap kali gagal atau tak berhasil.

Kalau mau membuat teater, memang harus berkelompok. Tetapi kalau mau menulis, lebih baik tetap sendirian. Menulis bukan pekerjaan rame-rame. Menulis adalah pekerjaan yang sepi dan kesunyian.





Posting Komentar untuk "Surat Putu Wijaya Ke-2 Kepada Saya "

  • Bagikan