RAHASIA RAMA - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RAHASIA RAMA

 



Oleh: Widayanti Rose

 

Keluarga Rama tiba-tiba riuh. Ibu marah melihat Rama yang hanya uring-uringan di ranjang.

“Rama, ayo bangun. Sudah siang ini. Kamu harus sekolah.” Ucap Ibu di samping ranjang Rama.

Rama diam saja dengan memeluk guling kesayangan  berwarna biru.

“Ayo Rama. Nanti kamu telat.” Desak Ibunya lagi.

Rama diam saja, Ibu makin geram. Tidak biasanya Rama bersikap seperti ini.

“Ayo bangun lalu mandi!” Ibu menarik tangan Rama untuk mengajaknya mandi, tapi tak sedikit pun ia beranjak.

“Kamu kenapa sih?”

Rama menenggelamkan mukanya pada guling yang dia peluk, seperti orang sedang ketakutan.

“Kamu sakit? Ha?”

Tangan Ibu memegang kening Rama. Tak terasa panas. Lalu kenapa dia tidak mau ke sekolah?

“Ayo  bicara, apa ada yang menggangguku di sekolah?”

Pelukan Rama semakin erat. Tangannya menepis guling.

Ibu semakin heran pada sikap Rama yang begitu aneh. Berbagai cara telah dilakukan untuk membujuknya bangun dan segera ke sekolah.

Sia-sia.

Rama tetap saja menyembunyikan wajahnya di guling.

Ibu merasa ada yang aneh pada anak semata wayangnya ini. Apalagi saat dia membawakan sarapan ke kamar,  Rama  semakin histeris.

“Ulat ulaaaat...! Aku gak mau makan.” Teriaknya sambil menyembunyikan kembali wajahnya.

Ibu semakin bingung. Seharian ini Rama tak makan dan minum sedikit pun.

Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Akhirnya Ibu meminta bantuan Ustadz Badrun dan Bu Masti tetangganya.

Ustad Badrun dikenal sebagai orang yang sering mengobati pasapaen.

Keduanya datang melihat keadaan Rama yang masih terbaring di ranjang.

“Sejak kapan dia begini Bu?” Tanya Ustadz Badrun

“Setelah bangun tidur dia seperti ini, Ustadz.”

Ibu menceritakan bagaimana awal Rama menjadi seperti ini. Dia juga mengingat-ingat kejadian di hari sebelumnya.

“Kemarin sepulang sekolah dia gak mau diajak makan, padahal paginya dia tidak sempat sarapan karena berangkat pagi. Katanya dia sudah makan di sekolah.” Kata Ibu menjelaskan.

“Biasanya dia main sama temannya, tapi kemarin hanya diam saja di rumah. Duduk termenung di teras.” Kembali Ibu bercerita.

Ustadz Badrun menyimak, sambil duduk di tepi ranjang. Ia memegang kening Rama sambil membacakan shalawat . 

“Ulat. Ulat Paman Badrun..!” Tiba-tiba Rama berteriak pada Ustadz Badrun di sampingnya.

Ustadz Badrun memegang tangannya dan menenangkan Rama.

Beberapa saat kemudian, Rama diam dan melepas guling yang dari tadi di peluknya.

“Ceritakan pada paman. Apa yang sebenarnya menimpamu.” Ucap Ustadz Badrun seraya mengusap muka Rama pelan.

Rama mulai terisak. Dia menangis sesenggukan.

“Maafkan Rama. Rama yang salah. Hu hu..” Jawabnya masih dengan tangis.

Ustadz Badrun membiarkan Rama menuntaskan tangisnya. Setelah tenang, dia mulai bertanya lagi.

“Kenapa kamu minta maaf, kesalahan apa yang kamu lakukan?” Tanya Ustadz Badrun lemah lemBut.

“Jangan marah sama Rama ya, Bu.” Rama melihat ke arah Ibunya yang masih panik di tepi ranjang.

“Ibu gak akan marah Rama, kamu cerita ada apa?” Jawab Ibu.

“Kemarin, ...” Kembali Rama terisak,

Setelah tenang, dia kembali membuka suara.

“Rama menemukan uang di kelas saat piket, dua rIbu. Awalnya saya letakkan di kotak temuan, tapi Rama ambil lagi dan membelikannya makanan.”

Ibu dan Bu Masti saling pandang.

“Rama salah, Bu, huhu..” Kembali Rama terisak.

Ibu menghampiri Rama dan memeluknya erat.

“Kemarin Rama gak mau diajak makan, karena Rama sudah kenyang dengan uang yang Rama temukan. Tapi tadi malam..”

Rama berhenti bercerita sejenak.

“Tadi malam Rama mimpi, Bu. Rama mimpi makan nasi goreng kesukaan Rama. Rasanya enak sekali. Rama melahapnya dengan nikmat. Tapi setelah nasi tinggal separuh, tiba-tiba nasinya menjadi ulat semua, Bu.”

Rama mempererat pelukannya pada Ibu.

Ibu membelai rambut Rama dengan penuh kasih sayang. Akhirnya dia mengerti kenapa sejak bangun tidur Rama menjadi ketakutan.

“Begitulah, Nak.Sebetulnya mimpimu itu sebagai peringatan karena kamu telah makan dari uang yang bukan milikmu.” Kembali Ibu membelai rambut Rama.

“Ya Rama, walaupun hanya dua ribu tapi bukan karena besar kecilnya. Itu adalah uang haram. Jika kamu memakannya, sama dengan kamu makan ulat seperti dalam mimpimu.” Kata Ustadz Badrun memberi nasihat.

“Maafkan aku Ibu, Paman. Aku salah. Aku janji akan mengembalikan uangnya pada Bu guru dan minta maaf.”

Ibu mengajak Rama untuk bangun. Rama akhirnya mau mandi, membersihkan tubuhnya setelah seharian hanya tidur di ranjang.

Dia pun mau makan nasi yang disediakan Ibu tanpa merasa takut menjadi ulat seperti dalam mimpinya.

Keesokan harinya, Rama telah bersiap ke sekolah. Dia menerima uang dua lembar dua ribuan dan satu logam seribuan dari Ibu.

“Ini dua ribu untuk mengganti uang yang kemarin kamu ambil nak. Dan sisanya untuk uang jajan kamu.” Ucap Ibu saat Rama bersalaman.

“Ibu, uang dua ribu ini saya kembalikan pada Bu Guru. Dan ini sisanya aku kembalikan, hari ini aku gak usah dapat uang jajan Bu.” Rama menyodorkan kembali sisa uangnya pada Ibu.

Gak apa-apa, Nak. ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu mau mengakui kesalahanmu. Bawa saja.” Ibu meletakkan kembali ke dalam saku Rama.

Rama pun berangkat sekolah dengan berjalan kaki.

Sesampainya di sekolah, dia langsung menemui Bu Yanti di ruang guru untuk mengembalikan uang yang kemarin diambilnya.

Bu guru berterima kasih dan memuji keberanian Rama untuk meminta maaf.



(Dalam Buku Antologi Cerita Anak: Kupu-Kupu Emas)

Posting Komentar untuk "RAHASIA RAMA"

  • Bagikan