Perempuan Itu Akhirnya Rubuh - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan Itu Akhirnya Rubuh




 

 

Perempuan itu akhirnya tak sanggup lagi. Ia rubuh, runtuh. Dokter berkesimpulan ia sakit paru-paru. Walaupun begitu ia tetap berusaha tegakkan kaki dan tulang belakangnya untuk merawat anaknya yang juga sakit. Tuhan pun menegakkan suami perempuan itu untuk merawat keduanya.

Yang ia sesali, ia tak bisa dengan sempurna merawat anak dan suaminya. Ia tertatih ke dapur menyiapkan makan dan menyuapi anak perempuan sulungnya. Ia juga berusaha bisa menyuguhkan kopi pagi dan sore serta makan untuk suaminya. Ia berusaha bertahan, tapi akhirnya ia tak sanggup lagi. Ia memutuskan ingin mengamar di rumah sakit atas kerelaannya sendiri.

Perjuangannya untuk sembuh telah melewati banyak dokter. Ia mengira hanya sakit karena keletihan. Ia bolak-balik minta dikerokin, mungkin hanya masuk angin. Dokter terakhir yang memeriksanya mengarahkan ke dokter paru setelah melihat hasil foto X-ray. Ia mendadak lebih pucat. Ia tiba-tiba berkeringat lebih dingin. Ia tak percaya dengan kesimpulan dokter.

Ia adalah isteriku, tersayang. Akulah yang pada akhirnya merawat keduanya, isteri dan anak sulungku. Akulah yang mengantar periksa ke beberapa dokter. Dua-duanya kubonceng dengan sepeda motor. Kasihan melihat istriku menelan banyak obat. Dokter tak pernah mencari penyebabnya. Mereka hanya memilihkan obat untuk meredakan keluhan. Hingga pada akhirnya bertemu dengan dokter yang kritis, Dr. Nova. Dialah yang kemudian menyarankan foto x-ray. Darinyalah diperoleh kejelasan apa sebenarnya penyakit isteri dan anakku. Dilakukanlah beberapa tes dahak dan darah sedangkan anakku hanya cukup pada tes darah.

Anakku positif demam berdarah dan thypus sekaligus sedangkan isteriku menunggu tes lanjutan untuk menyimpulkan apakah benar-benar TBC atau tidak. Karena sakit yang tak sanggup lagi ditahan, ia memintaku untuk diantar ke rumah sakit. Ia memutuskan opname untuk dirinya sendiri.

“Sakit juga peparing sebagaimana sehat. Ketika kita sakit, itulah saat paling dekat dengan Tuhan. Sabar dan terima sebagaimana ketika diberi sehat. Jangan terlalu dipikirkan biar lekas sembuh!” Begitu ujarku kepada isteri dan anakku.

“Iya, ayah!” Sahut isteriku sangat lemah.

Walaupun begitu, isteriku adalah perempuan super. Ia adalah pahlawan rumah tangga di mataku. Anak dan isteriku sering kutinggal karena harus bekerja di kota yang jauh. Jadi semua-muanya ia yang urus. Mulai dari membangunkan tidur, belanja, mencuci, memasak, mengantar anak-anak sekolah, menjemput mereka pulang, semua dilakukannya dengan riang. Sungguh ia memang perempuan super di mataku. Mungkin juga di mata keluarga besarku dan orang-orang yang mengenal.

Aku telah setengah memaksa meminta kepada Tuhan untuk kesembuhan mereka, tapi Tuhan belum berkenan malah memberi mereka judul penyakit yang cukup menyesakkan dadaku. Dalam hati aku merasa menyesal tidak mampu menjaga mereka. Aku pasrah karena semua bukan kuasaku. Yang ada di benakku, aku hanya berusaha mencari jalan kesembuhan untuk mereka sedangkan hasil pasti bukan urusanku.

Dengan rasa sayang kucium kening mereka. Kubelai rambut mereka sambil mengeja doa. Beberapa orang yang menyangiku kumintai kiriman surat Al Fatihah untuk anak dan isteriku. Beberapa telah mengirimnya dengan tulus.

“Maafin Mama telah ngerepotin Ayah!” Ujar isteriku.

Ngomong apa Mama. Itu dah tanggung jawab dan kewajiban Ayah! Ayah melakukannya dengan senang hati.”

Dalam keadaan sakit pun ia masih memikirkanku. Ia tak tega melihatku mengantar-jemput periksa ke dokter dan mencari jalan kesembuhan lain. Aku kelihatan capek katanya. Sungguh dalam sakit pun ia masih memikirkan suami. Sungguh ia perempuan yang amat baik. Sungguh ia isteri yang tak boleh Tuhan menghalanginya ke surga. Sungguh ia bidadari surga.

Aku sudah meninggalkan pekerjaan beberapa hari. Tak seperti biasa aku meninggalkan kerja terlalu lama. Pimpinanku memang sangat baik hingga selalu memaklumi keadaanku. Andai bukan dia, pasti aku sudah dipanggil inspektorat untuk diberi teguran keras dan membuat surat pernyataan bermaterai.

Kepulanganku beberapa kali sepertinya memang ditakdirkan merawat anak dan isteriku. Sebulan lebih isteriku dalam kondisi batuk. Ketika berjauhan melalui pesan selalu kutanya kabar. Ia selalu mengatakan bahwa kondisinya sudah mendingan hanya untuk membuatku senang. Kenyataannya kondisi yang ia kirim melalui pesan tak sama dengan keadaan yang sebenarnya. Ia mengeluh sangat sakit bagian perut atas ketika sedang batuk.

Jumat siang mereka mulai masuk rumah sakit dengan jaminan BPJS kelas 1. Karena kelas 1 penuh, maka pihak rumah sakit menitipkan mereka di kamar VIP. Aku berusaha menego pihak layanan kamar rumah sakit agar tempat isteri dan  anakku berdekatan, tapi mereka kesulitan dengan alasan hampir semua kamar penuh. Tapi, Tuhan berkehendak lain ternyata isteri dan anakku berada di kamar yang sangat berdekatan tanpa diatur sebelumnya. Alhamdulillah.

Mulailah pemandangan kamar yang bukan hotel itu dengan penampakan botol infus, ranjang, meja, lemari, dan kamar mandi serta hilir-mudik para perawat.

Selama di rumah sakit, kupikir sendirian. Ternyata sepupu dan ipar membantu menjaga isteri dan anakku. Para kakek nenek anakku juga ikut membantu membawakan bantal guling, makanan, dan kopi kesukaanku. Tamu-tamu berdatangan memberikan keceriaan. Doa-doa bertebaran di berbagai media sosial untuk kesembuhan anak dan isteriku.

Seorang paranormal, temanku, melihat kondisi isteriku seperti terkena serangan santet. Ia menyebut serangan itu berupa seekor kelelawar besar. Ada-ada saja. Zaman melenial begini masih ada saja orang yang kurang kerjaan dengan meluapkan nafsu jahat. Pasrah saja kepada Tuhan.

“Kamu kangen Mama?” tanyaku kepada anakku di kamar lain.

Ia hanya mengangguk dengan senyum tipis.

Karena sudah beberapa hari tidak bertemu, Tepat hari Ahad, kuminta tolong kepada perawat untuk bisa mempertemukan mereka berdua. Dengan didorong kursi roda, sampailah anakku di kamar mamanya.

“Mamaaa!” teriak anakku. Sungguh seperti sinetron atau film India. Lucu sekali dan mengharukan skenario hidup yang dibuat Tuhan. Kujepret melalui HP adegan singkat itu untuk mengingat-ingat.

Selama sakit banyak doa yang telah diluncurkan kepada Tuhan. Seolah-oleh sedang unjuk rasa menyampaikan doa agar Tuhan segera mengangkat penyakit isteri dan anakku. Teman-teman grup WA telah luncurkan Fatihah, shalawat, dan energi serbuk emas. Yah, energi serbuk emas. Kalau kedengarannya aneh, itu adalah kiriman dari teman grup supranatural untuk kesembuhan anak dan isteriku. Kiriman doa juga diluncurkan di grup murid dan para orang tua mereka. Sungguh dahsyat doa-doa yang melesat ke langit. Seakan-akan menggendor-gedor pintu Tuhan agar menyegerakan kesembuhan.

Puji syukur kepada Tuhan, Senin siang, isteri dan anakku dibolehkan pulang. Persis sama dengan bersamaannya ketika mereka masuk kamar sakit. Saat di bagian administrasi, aku berpikir keras. Cukup tidak uang yang kubawa. Ternyata semua telah ditanggung Askes yang saat ini telah bernama BPJS. Lagi-lagi syukur kepada Tuhan atas semua kemurahanNya.

Sehat dan sakit adalah pemberian cinta dari Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan menjamin keduanya asal disertai dengan rasa syukur dan sabar. Ketika sehat tidak terlalu bahagia begitu pula ketika sakit juga tidak boleh terlalu sedih. Tuhan sangat dekat dengan orang sakit. Mengeluhkannya hanya akan membuat Tuhan menjauh. Ridhalah, maka akan Tuhan ridhai. Itulah kesimpulanku.

 

 

 

Posting Komentar untuk "Perempuan Itu Akhirnya Rubuh"

  • Bagikan