Mencita-citakan Kematian yang Baik: 9. Rumah Masa Depan - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 9. Rumah Masa Depan

 9. Rumah Masa Depan

 

Surga adalah rumah masa depan pada tingkatan akhirat. Kuburan juga rumah masa depan pada tingkatan dunia. Maka pasti, setiap manusia yang hidup akan pulang ke kampung halaman yakni kubur dan surga. Kita berhak menentukan rumah masa depan yang kita impikan. Bukan sebatas batu nisan indah dan kuburan megah.

Kubur sebagai rumah. Ibarat rumah di dunia nyata perlu ada perlengkapan yang membuat penghuninya kerasan dan nyaman. Rumah memerlukan ruang yang cukup luas, memerlukan ventilasi, memerlukan pencahayaan, dan perabotan lain yang diperlukan. Sebagai rumah, sebagai tempat hidup, juga memerlukan makanan dan minuman yang layak dan bergizi. Bagaimana dengan di dalam kuburan? Apakah kebutuhannya sama dengan rumah dunia secara mendasar?

Rumah hunian yang baik adalah yang ruang, udara, cahaya, dan perlengkapannya cukup. Termasuk kebutuhan hidup, kebutuhan primer, pemilik rumah tersebut. Sempit. Lembab, pengap, suram, gelap, kotor, serba kekurangan, adalah bukan tipe rumah hunian yang baik.

Bagaimana semua kebutuhan hunian yang layak tersebut tercapai sedangkan yang bersangkutan telah tiada, mati? Tentu sebagai makhluk sosial, tiap manusia tidak bisa hidup sendiri. Kebutuhan semua kelengkapan atas hunian masa depan tersebut tentu hanya dapat dicapai dengan bantuan orang lain, terutama pihak keluarga yang meninggal seperti anak yang salih, isteri atau suami yang baik, kerabat dekat yang baik, saudara, teman, dan sebagainya. Dari merekalah semua kebutuhan tercukupi selain amal yang bersangkutan ketika hidup di dunia.

Betapa sepi, miskin, dan menderitanya seseorang yang telah meninggal dunia, dan hidup di rumah masa depan, alam kubur, jika tiada yang mengingatnya lagi, tiada yang mendoakan, tiada yang mengingat kebaikannya, tiada yang mengiriminya pahala amal  keluarganya yang masih hidup. Sungguh menderita sementara keluarga yang ditinggal dengan leluasanya, dengan bebas, memanfaatkan semua peninggalan almarhum/almarhumah. Sungguh balasan yang tidak manusiawi.

Dari doa yang hiduplah terwujud rumah yang luas. Dari pahala amal yang hiduplah menjadi  udara, cahaya, dan hidangan yang lezat untuk dinikmati di alam kubur. Dari doa-doalah mewujud jadi teman-teman yang asyik diajak berbincang di alam sana.

Wujud fisik rumah masa depan kita bergantung kepada ahli waris. Walaupun ada juga yang berwasiat sebelum meninggal bahwa kuburannya harus diletakkan di satu tempat tertentu, bentuk tertentu, dan sebagainya. Namun, secara umum pasrah kepada para ahli waris. Ada yang hanya gundukan tanah dan dua nisan, ada pula yang di keramik, dibangunkan cungkup, dibuat megah, dan sebagainya untuk tujuan keindahan sebuah rumah masa depan di mata keluarga yang hidup.

Ketentuan tentang fisik rumah masa depan menurut agama antara lain sebagai berikut. Sebuah kuburan yang dibangun di tanah pribadi kemudian dikijing (dihias) berhukum makruh, tapi apabila di tanah pekuburan umum, maka hukumnya haram jika sampai memonopoli tanah.

Selain itu, ada ketentuan berkenaan dengan menghormati kuburan layaknya menghormati yang meninggal seperti seorang yang hidup seperti: tidak boleh melangkahi kuburan, dilarang duduk di atasnya begitu pula dengan bersandar, tidak boleh berbuat tidak sopan, dan isarankan menghadap kiblat ketika mendoakan ahli kubur. Bahkan, bermalam di kuburan dihukumi makruh.

Intinya seorang yang meninggal dan berada di dalam kubur adalah manusia. Tetap dihormati layaknya masih hidup. Begitu pula dengan rumah masa depannya, tetap harus dalam penghormatan dan perlakuan sopan layaknya rumah manusia yang masih hidup.



Mencita-citakan Kematian yang Baik: 9. Rumah Masa Depan

Kitab Kematian lengkap versi digital dapat diperoleh di:

GOOGLE BOOK PARTNER

Posting Komentar untuk "Mencita-citakan Kematian yang Baik: 9. Rumah Masa Depan"