Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 5. Mayat dan Jenazah

5. Mayat dan Jenazah

Pertama kita bedakan dulu pengertian antara mayat dan jenazah. Mayat adalah manusia yang meninggal dan belum dirawat sedangkan jenazah adalah mayat yang telah dirawat(seperti dimandikan dan dikafani).

Mayat dan jenazah ini dikelompokkan ke dalam dua jenis yakni perempuan dan laki-laki. Pengelompokan tersebut bermanfaat untuk proses pengurusannya. Mayat atau jenazah laki-laki akan dirawat oleh muhrim laki-laki. Begitu pula sebaliknya.

Perawatan yang dilakukan antara lain adalah: memandikan, menyucikan, mengafani, menyalati, dan terakhir menguburkan. Ada banyak orang terlibat dalam satu mayat menjadi jenazah. Ada tukang ukur mayat, penggali kubur, pembuat nisan, imam salat jenazah, pemandi mayat, kyai/ustad, nyai/ustadah, penjual peralatan jenazah (kembang, minyak wangi, kapur barus, kapas, kain kafan, dupa, dan bidara), dan sebagainya. Itu membuktikan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri.

Ketika seseorang meninggal, otomatis ia menjadi mayat di atas tempat tidurnya. Dalam kondisi meninggal pihak keluarga merapikan penampilan mayat dengan baik. Kalau mayat membelalak atau terbuka matanya, pihak keluarga menutupkan matanya. Kalau mayat menganga, keluarga akan merapatkannya dengan memberinya pengikat kepala ke dagu sehingga mulut mayat terkatup rapat. Begitu pula dengan keadaan tangan dan kaki dirapikan sekondisi tidur nyenyak. Bagian terakhir adalah menutup tubuh mayat dengan kain.

Ketika liang lahat dan perlengkapan mandi jenazah sudah siap, saatnya dimandikan. Syarat ketika memandikan adalah membasahi jenazah secara rata, membasuh segala kotorannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, kotoran yang di depan, samping, dan belakang, luar dan dalam, semua harus dibasuh bersih. Dibasuh dengan lembut. Disabuni. Disiram dengan air yang tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat, air yang bercampur dengan bidara dan kapur barus.

Setelah terlihat bersih, barulah yang berhak menyucikannya melakukan tugasnya yakni dimandikan janabah besar kemudian diwudukkan. Barusalah jenazah dipindah ke keranda yang telah siap beberapa lapis kain kafan yang wangi. Lapisan-lapisan kain kafan sebelum menutup jenazah, beberapa kapas menutup lubang dan bagian yang seharusnya tertutup. Setelah rapat diselimuti kafan, diikat di bagian ujung luar kepala, bahu, pinggul, lutut, dan luar kaki. Kemudian jenazah tersebut ditutup lagi dengan tikar pandan dan penutup keranda. Penutup keranda pun masih ditutup dengan kain terakhir dengan dililiti jalinan kembang rupa-rupa.

Saat itulah jenazah siap disalatkan dipimpin iman yang memenuhi syarat. Salah satu bukti penghormatan manusia kepada manusia ketika menyalatkan jenazah yaitu tidak adanya rukun rukuk, duduk, dan sujud. Berbeda sekali dengan rukun salat pada salat wajib dan sunah yang lain. Karena salat penghormatan manusia berbeda dengan salat penyembahan kepada Tuhan.

Setelah penyelenggaraan salat jenazah selesai, tibalah waktunya diantar ke rumah terakhir, rumah masa depan. Hunian masa depan. Impian dan tujuan semua umat manusia.

Rumah hunian yang di atasnya terdapat dua batu nisan bertulis nama almarhum sebagai pertanda. Atau kalau pada rumah manusia yang hidup, nama itu ibarat alamat rumah.


Mencita-citakan Kematian yang Baik

Kitab Kematian lengkap versi digital dapat diperoleh di:

GOOGLE BOOK PARTNER

Posting Komentar untuk "Mencita-citakan Kematian yang Baik: 5. Mayat dan Jenazah"