Mencita-citakan Kematian yang Baik: 4. Otak Organ Terakhir yang Mati - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 4. Otak Organ Terakhir yang Mati

4. Otak Organ Terakhir yang Mati

  

Ketika seluruh energi hidup bergerak dari ujung kaki ke kepala, maka aktivitas terakhir kehidupan manusia berada di otak. Otaklah yang terakhir mengalami mati dibandingkan semua organ di bawahnya.

Sebelum ke otak, tubuh yang telah mengalami kematian terjadi keadaan sebagai berikut. Pertama, sel-sel dalam tubuh kita mulai pecah. Kedua, suhu tubuh merosot drastis. Ketiga, kulit tubuh kita berubah warna menjadi keunguan. Keempat, keriput pada kulit kembali mengencang. Kelima, tubuh kaku, mengeras. Keenam, semua orga tubuh akan mengalami pembusukan. Ketujuh, tubuh mengeluarkan kotoran baik kencing atau pun berak, dan sebagainya. Seluruh organ tubuh sudah mati, kecuali otak.

Kerja otak saat itu adalah yang paling sibuk yang pernah dialami dan terjadi selama hidup. Sepertinya Tuhan memberikan kesempatan menimbang-nimbang sendiri seluruh amal perbuatan kita. Tuhan menayangkan semua peristiwa yang telah terjadi dan kita alami bahkan peristiwa di masa kecil. Dengan waktu yang sangat singkat keseluruhan peristiwa yang kita alami dan lakukan selama hidup, tertayang tuntas dan sangat detil.

Keadaan inilah yang akan menjadi tanda pula apakah seseorang dapat meninggal dalam keadaan tersenyum atau ketakutan. Hal itu dapat tampak dengan jelas pada raut wajahnya saat sakaratul maut.

Pada saat itulah seseorang tidak dapat bergerak maju. Ia hanya dapat bergerak mundur dengan menyisir seluruh peristiwa yang telah dialaminya dengan sangat rinci. Inilah tempat pertarungan sesal dan lega yang tiada tara rasanya. Ketika sesal begitu menyesak, maka akan menjadi sakit yang dapat berupa jerit kesakitan. Inilah tempat menyaksikan semua kisah hidup dari awal hingga akhir dengan waktu yang relatif (singkat) menurut ukuran bumi.

Ketika otak telah benar-benar ikut mati bersamaorgan lainnya, kesadaran baru muncul dalam keadaan linglung.

“Aku di mana?”

“Apa yang telah terjadi?”

“Loh, bukankah itu aku yang terbaring?”

“Mengapa anak dan isteriku menangisiku?”

“Lalu aku ini siapa yang berdiri di dekat ‘aku yang terbaring’?”

“Mengapa mereka tidak mendengar suaraku?”

“Apakah aku sudah mati?”

…dan sebagainya.

Bahasan ini, sebelum dan sesudahnya, bukanlah kejadian yang sudah dialami, namun berdasarkan banyak keterangan yang berhasil saya rekam. Tidak ada jaminan kebenaran sejati atas apa yang saya tulis, tapi setidaknya pembaca dapat menelusurinya lebih jauh, lebih dalam perihal kematian ini untuk menebalkan pemahaman sehingga dapat menjadi bekal mencita-citakan kematian yang baik.


Mencita-citakan Kematian yang Baik

Kitab Kematian lengkap versi digital dapat diperoleh di:

GOOGLE BOOK PARTNER

Posting Komentar untuk "Mencita-citakan Kematian yang Baik: 4. Otak Organ Terakhir yang Mati"

  • Bagikan