Mencita-citakan Kematian yang Baik: 11. Berkunjung Kepada Leluhur - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 11. Berkunjung Kepada Leluhur

11. Berkunjung Kepada Leluhur

 

Berkunjung kepada leluhur atau keluarga yang telah meninggal dalam agama disebut ziarah kubur. Ziarah kubur menjadi salah satu tanda bahwa yang hidup masih berbakti, cinta, dan sayang. Berkunjung kepada leluhur merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan. Di alam sana bentuk penghormatan dan kecintaan itu menjadi cahaya kegembiraan kepada mendiang. “Oh, isteriku menyambangiku! Oh, anakku juga mendatangiku!” Begitu seru mendiang di alam kubur. Tidaklah seseorang yang telah meninggal itu mati, melainkan ia hidup dan diberi rezeki dari sisi Tuhannya, begitu Tuhan bilang dalam kitabNya.

Mengenai tata cara bagaimana berziarah sudah disampaikan pada bagian prolog buku ini seperti harus dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengucap salam, tidak berbicara kasar, mendoakan, membaca surat pendek, tidak menginjak, melangkahi, atau duduk di atasnya, membuka alas kaki, dan sebagainya. Seolah-olah menghargai yang mati layaknya masih hidup. Penuh penghormatan dan kasih sayang. Bukankah memang selayaknya demikian?

Ada sebuah tembang Jawa yang berjudul Saben Malem Jumat yang liriknya sebagai berikut.

Saben malem jumat ahli kubur mulih nang umah. Kanggo njaluk dungo wacan Quran najan sak kalimat. Lamun ora dikrimi banjur bali mbrebes mili. Bali nang kuburan mangku tangan tetangisan. Kebacut temenan ngger anak turunku. Kowe ora wirang podo mangan tinggalanku. Lamun aku biso bali neng alam ndunyo bakal tak ringkesi donyoku seng iseh ono.

Artinya demikian:

Setiap malam Jumat ahli kubur pulang ke rumah. Untuk meminta doa bacaan Quran meskipun satu kalimat. Bila tidak dikirimi lantas kembali ke kubur menangis berderai air mata. Kembali ke kuburan berpangku tangan sambil menangis sesenggukan. Katanya: sungguh keterlaluan anak keturunanku, Kamu tidak malu makan dari peninggalanku. Seandainya aku bisa kembali ke dunia akan kukemasi hartaku yang masih ada.

Lirik lagu tersebut para leluhur seolah mengatakan bahwa berkat mereka kita berpendidikan, punya teman, punya keluarga, punya perilaku baik, nama baik, warisan harta dan ilmu, warisan agama, dan sebagainya. Sebagai ahli waris, tentu leluhur kita akan sangat kecewa jika mereka tidak kita ingat dan kunjungi layaknya masih hidup.

Sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa kita memiliki kemampuan tertentu yang sebenarnya berkat genitas yang para leluhur tanamkan dalam darah kita. Kita tanpa sadar berteman dengan si A dan B, tanpa pernah paham bahwa sebenarnya teman kita saat ini terhubung dengan leluhur kita dan leluhur teman kita. Kita berteman tidak begitu saja terjadi melainkan telah dijalin antar leluhur kita pada masa lalu. Seolah kita merasa bahwa masa lalu tidak berkaitan dengan masa kini.

Ada lagi tembang Jawa berjudul Eling-Eling Siro Menungso. Lirik dah terjemahannya sebagai berikut.

Eling-eling siro manungso

wong urip bakale mati

Ayo podo dadi wong bhekti

Maring Gusti Kang moho suci.

 

Mumpung durung katekanan

Malaekat juru pati

Gole tekan embuh kapan

Kito menungso ra bakal ngerti

 

Moloekat juru pati

Lirak lirik marang siro

Nggone nglirik angenteni

Dawuhe kang moho suci

 

Tumrap kanggo kabeh menungso

Gelem ra gelem bakal di gowo

Di enggoni sandangan putih

Yen wis budal ra biso mulih.

 

Tumpakane kereto jowo

Roda papat rupo manungso

Jujugane omah guwo

Tanpo bantal tanpo kloso

 

Omahe ra ono lawange

turu ijen ra ono kancane

Di tutupi anjang- anjang

Diurug lan di siram kembang

 

Wong sing layat podo nelongso

Podo eling Podo rumongso

Ayo podo eling marang Gusti

Urip neng dunyo mesti mati

 

Artinya demikian.

 

Ingat-ingat kamu manusia

Manusia hidup akan mati

Mari jadilah orang berbakti

Kepada Tuhan Yang Maha Suci

 

Mumpung belum kedatangan

Malaikat pencabut nyawa

Datangnya entah kapan

Kita manusia tidak akan tahu

 

Malaikat Pencabut nyawa

Siap melirik padamu

Meliriknya menunggu

Perintah Yang Maha Suci

 

Berlaku untuk semua manusia

Mau nggak mau akan dibawa

Dipakaikan baju putih

Kalau sudah pergi tak bisa kembali

 

Angkutannya kereta Jawa

Roda empat rupa manusia

Tempatnya rumah gua

Tanpa bantal tanpa tikar

 

Rumahnya tak ada pintunya

Tidur sendirian tak ada teman

Ditutupi kayu landak

Diurug dan disiram kembang

 

Pelayat semua sedih

Semua ingat, tahu diri

Ayo ingatlah kepada Tuhan

Hidup di dunia pasti mati

 

Mencermati kedua tembang tersebut, sungguh yang telah mati tidaklah mati, bahkan yang telah mati memberi pesan, memberi pengetahuan kepada yang masih hidup. Yang telah mati tetap menjadi peringatan kepada yang hidup untuk tetap hati-hati dan selalu berbuat baik.

Tuhan dalam kitabNya menyebutkan bahwa yang mati tidaklah mati, melainkan hidup dan mendapatkan rezeki dari sisi Tuhannya. Sejatinya manusia yang meninggal hanyalah pergantian alam: dari alam dunia ke alam kubur. Kelak ketika tiba waktunya, migrasi kembali pada alam akhirat. Manusia berasal dari alam akhirat, maka tempat pulang kampungnya tetap alam akhirat.

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 11. Berkunjung Kepada Leluhur 



Kitab Kematian lengkap versi digital dapat diperoleh di:

GOOGLE BOOK PARTNER

Posting Komentar untuk "Mencita-citakan Kematian yang Baik: 11. Berkunjung Kepada Leluhur"