Mencita-citakan Kematian yang Baik: 1. Kelahiran dan Kematian - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencita-citakan Kematian yang Baik: 1. Kelahiran dan Kematian

Prakata

 “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati ….” [1]

 Dengan ucapan bismillah dan alhamdulillah, serta salam sejahtera untuk Nabi beserta seluruh keluarganya, maka saya nyatakan rampunglah Kitab Kematian ini. Dengan dasar bahwa “Cukuplah kematian sebagai nasihat” tepatlah jika kitab ini ada untuk dibaca dan dipahami. Tidak untuk menggurui atau merasa lebih tahu tentang hal kematian karena penulisnya pun tidak belum mengalami mati. Setidaknya kehadiran kitab ini menjadi teman yang baik dalam kehidupan sehingga memberikan nasihat yang baik untuk ‘pulang kampung’ terbaik. Setidaknya sikap obyektif tetap menjadi dasar dalam menyikapi hadirnya kitab ini. ‘Jangan melihat siapa yang menulis (yang berbicara), tapi lihat apa yang ditulis (dibicarakan). Semoga memberikan tambahan nikmat iman dan tebalnya akhlak kepada sesama manusia.

Beberapa hal penting yang dibahas dalam kitab ini antara lain tentang kelahiran dan kematian, sakaratul maut, otak organ terakhir yang mengalami mati, mayat dan jenazah, firasat dan tanda kematian, wasiat, tanda-tanda kematian yang baik, rumah masa depan, berkunjung kepada leluhur, mencita-citakan kematian yang baik, dan sebagainya. Semoga sedikitnya ada satu hal yang dapat dipetik buahnya dari kitab ini sebagai bekal ‘pulang kampung’ ke negeri akhirat. Aamiin.

Terima kasih atas minat dan hasrat membaca memiliki kitab ini. Semoga menjadi amal jariyah yang tak habis-habis hingga kepada keturunan kita kelak. Aamiin.

 

Malang, 16 Mei 2021

Penulis



Mencita-citakan Kematian yang Baik

[1] QS. Ali Imran: 185

 
Prolog

 

Ada seseorang yang tempat wisatanya kuburan. Tempat yang paling indah dan damai baginya adalah kuburan. Bahkan, tempat istirahat terbaiknya ketika kesulitan memulai terpejam adalah kuburan. Bagi kebanyakan orang, mungkin pilihan tersebut di luar kewarasan, tetapi bagi seseorang tersebut itulah pilihan yang paling waras.

Bagi kebanyakan orang, tidur dikelilingi banyak kuburan terasa sangat mengerikan terlebih di malam hari. Ketika siang hari mungkin sih terasa biasa, tidak begitu menyeramkan. Bagi sedikit orang kuburan memiliki keindahan dan kesyahduan tersendiri. Atmosfer yang terpancar dapat memberikan ketenangan lahir batin bagi dirinya.

Kemudian ia berpikir, bukankah yang tertanam di tanah itu sebenarnya hidup? Bukankah mereka yang telah berada di bumi bawah ini patut dihormati layaknya yang hidup? Bukankah pula mereka itu sepantasnya dapat kunjungan dan perawatan sebagaimana mestinya?

Berkunjung kepada kerabat yang telah meninggal, berkunjung kepada leluhur, bahkan wisata religi walisongo adalah bentuk penghormatan yang hidup kepada yang mati. Doa-doa dan pembacaan ayat suci adalah buah tangan terbaik, pengrawatan yang baik. Bukankah yang mati yang kita kunjungi hidup di alam lain? Oleh karena mereka masih hidup sepantasnyalah kita menghormatinya layaknya masih di kehidupan alam dunia.

Ada beberapa keterangan kemudian tentang bagaimana menyikapi yang telah meninggal, terlebih khusus mengenai adab terhadap kuburan. Beberapa keterangan tersebut antara lain: dalam keadaan suci, menghadap kiblat, mengucap salam, tidak berbicara kasar, mendoakan, membaca surat pendek, tidak menginjak, melangkahi, bersandar, atau duduk di atasnya, membuka alas kaki, dan sebagainya.

Adapun ucapan salamnya adalah "Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian." Bukankah sapaan salam tersebut memperlakukannya seperti dalam keadaan hidup?

 

1. Kelahiran dan Kematian

 “Sejak kita dilahirkan, tujuan kita satu-satunya adalah kematian.”

Kelahiran dan kematian adalah pasangan takdir perjalanan manusia dan kematian itu pasti. Semua manusia akan mengalaminya.  Mengalami terlahir dan mati. Lahir dengan terpaksa dan mati seharusnya bisa memilih. Karena terlahir terpaksa, begitu saja terlahir. Ada yang terpaksa lahir dari seorang ibu yang ateis, beragama, kaya, miskis, cacat, normal, berpangkat, orang biasa, dan sebagainya. Mestinya ketika berpulang dapat memilih keadaan kematian yang menjadi cita-cita semua orang yakni mati dalam keadaan baik.

Pada kelahiran kita tidak bisa memilih warna dan bentuk rambut, warna kulit, postur tubuh, bahkan tidak bisa memilih menjadi laki-laki atau perempuan. Manusia tidak bisa memilih keadaan dirinya ketika lahir. Ia tidak bisa memilih dalam keadaan cantik, ganteng, putih, hitam, mancung, pesek, dan sebagainya. Terlahir begitu saja dalam keadaan yang sudah ditetapkan Tuhan.

Kelahiran dan kematian adalah pasangan perjalanan hidup manusia. Ketika kelahiran tidak bisa memilih, maka seharusnya kematian bisa memilih keadaan terbaik. Terpaksa dan dapat memilih juga merupakan pasangan.

Banyak beberapa kejadian kematian sebagai cermin kehidupan. Ada manusia yang mati tersenyum. Ada yang meninggal dalam kecelakaan. Ada yang gugur ketika menjalankan tugas negara. Ada yang wafat ketika sujud. Ada yang mangkat ketika sedang memimpin rapat negara. Ada yang meninggal ketika tidur, duduk, beribadah, perjalanan, dan sebagainya.

Keadaan kematian seperti contoh di atas sebenarnya hanyalah latar dari peristiwa kematian. Lakon sebenarnya dari menghilangnya nyawa seseorang adalah akibat dicabutnya oleh malaikat maut: Izrail. Adapun sebab-sebab yang tampak adalah menghilang jejak campur tangan malaikat tersebut. Seolah-olah seseorang meninggal karena sakit jantung, kecelakaan, disambar petir, terbunuh, tertembak, dan sebagainya. Seolah-olah sang malaikat enggan disebutkan dalam sejarah manusia sebagai si pencabut nyawa.

Dalam bahasan berikutnya, dengan gambaran-gambaran yang ada, setidaknya dapat memotivasi dan menginspirasi serta mencita-citakan kematian yang diridai Tuhan. Memungkinkah? Setidaknya segala sesuatu yang ada di dunia ini berpasangan. Ada siang, ada malam. Ada terpaksa, ada berkehendak. Lahir adalah kejadian terpaksa, maka pasangannya adalah berinisiatif atau berkeinginan mati dalam keadaan husnul khatimah. Mati dalam keadaan yang baik.

Mencita-citakan Kematian yang Baik


Kitab Kematian lengkap versi digital dapat diperoleh di:

GOOGLE BOOK PARTNER

2 komentar untuk "Mencita-citakan Kematian yang Baik: 1. Kelahiran dan Kematian"

  • Bagikan