Mati Ketawa Ala Soeharto: Matematika Uang - Pengalaman Soeharto - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mati Ketawa Ala Soeharto: Matematika Uang - Pengalaman Soeharto

 




Mati Ketawa Ala Soeharto buku aslinya berjudul MATI KETAWA CARA DARIPADA SOEHARTO. Adalah karya satire yang mengkritik masa kepemimpinan Soeharto. Dari keseluruhan cerita dalam buku tersebut akan saya cicil beberapa judul per postingan. Semoga menghibur.


Matematika Uang

Di salah satu sekolah dasar di Yogyakarta, seorang guru mengajarkan matematika, dengan menggunakan uang rupiah sebagai sarana penyampaiannya.

Bu Guru bertanya, “Perhatikan anak-anak, pada uang rupiah yang bergambar Pak Harto berapakah nilai rupiahnya?”

Murid-murid menjawab, “Lima puluh ribu, Bu Guru!”

Bu Guru bertanya lagi, “Sekarang perhatikan, pada uang rupiah yang bergambar monyet di hutan berapakah nilai rupiahnya?”

Murid-murid menjawab, “Lima ratus, Bu Guru!”

Untuk mentest kekuatan penalaran murid-muridnya, dengan penuh selidik, Bu Guru bertanya, “Jadi apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari gambar dan nilai masing-masing uang rupiah tersebut anak-anak?”

Murid-murid secara serempak menjawab, “Lima puluh ribu dibagi lima ratus adalah seratus, Bu Guru. Jadi menurut mata uang kita, Pak Harto sama nilainya dengan seratus monyet di hutan, Bu Guru!”





Pengalaman Soeharto



Seperti jamaknya pensiunan jendral ABRI di negara kita, mereka masih dipekerjakan di sektor swasta atau di lembaga-lembaga lain yang membutuhkan atau dipaksa untuk membutuhkan. Kata mereka yang membela sistem ini adalah untuk mengurangi dampak negatif dari apa yang terkenal dengan “post power syndrome.”

Rupanya Soeharto pun tidak lepas dari kerangka berpikir seperti di atas. Jadi dia memang masih berharap jika dia pensiun dari presiden, masih dibutuhkan di tempat lain.

Namun, sebagai jendral, rupanya dia sudah membayangkan skenario yang bakal terjadi kalau dia pensiun. Beginilah bayangan dia: “Kalau saya nanti pensiun, dan akan ditempatkan di suatu perusahaan, pasti akan diadakan wawancara dahulu.” Kemudian Soeharto membayangkan percakapan dalam wawancara tersebut adalah sebagai berikut:

Pewawancara, “Pak Harto, apakah pengalaman bapak sebelum ini?
Soeharto menjawab, “Saya berpengalaman menjadi presiden!”
Pewawancara, “Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik isteri?”
Soeharto menjawab dengan agak malu, “Saya tidak berpengalaman”
Pewawancara, “Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik anak?”
Soeharto menjawab dengan tersipu, “Saya tidak berpengalaman”


Pewawancara terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada orang-orang biasa, ternyata setiap pertanyaan tersebut dijawab oleh Soeharto dengan “tidak berpengalaman” yang tentu saja betul. Oleh karena itu, Soeharto, setelah membayangkan kemungkinan diterima untuk menjadi pegawai di suatu perusahaan adalah kecil, dan mengingat dia tidak punya pengalaman selain menjadi presiden, maka dia bersumpah dalam hati: “Aku harus jadi presiden, sampai mati!, karena itu saja yang saya pengalaman.”


Judul buku: MATI KETAWA CARA DARIPADA SOEHARTO
Gambar oleh: ISKRA
Penerbit Pustaka GoRo-GoRo

Hak Cipta © Rakyat Indonesia yang di tengah tekanan dan penderitaannya masih bisa berhumor-ria

Dipersilakan mengkopi sebanyak mungkin. Penerbit tak akan menuntut apa pun apalagi menggunakan undang-undang negara yang telah banyak dosanya dalam membonsai kehidupan bernegara rakyat Indonesia. Juga dipersilakan untuk menerbitkan edisi ulang sendiri berikut tambahannya berupa lelucon politik tentang pejabat yang kini kian banyak berkembang di masyarakat.

Anggota Ikatan Penerbit Buku Indonesia Alternatif (IKAPIA)

Posting Komentar untuk "Mati Ketawa Ala Soeharto: Matematika Uang - Pengalaman Soeharto"