Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya




 Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya adalah kumpulan puisi tentang perjalanan manusia mencari jati dirinya, mencari siapa dirinya, sekaligus mencari siapa Tuhannya. Berikut beberapa cuplikan puisi dalan  Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya.


Orang-Orang Terdekat

 

Dua perempuan tua begitu mesranya

Menguyah sirih kerentaan

Begitu luas dada mereka

Bara rindu pun kian tajam

Memandang silih bergantinya matahari

Satu jatuh ditimpa kasih Gusti

Satu ‘merujung’ dengan cintanya

Yang tak dimiliki malaikat

Tuhan, Engkaulah yang besar

Cinta-Nya tak berbatas

(Sumenep, 1 Mei 2006)

 

 

 
Kerinduan

 

Bulan sabit mengintip dari celah pelampung

Angin menusuk-nusuk kulit

Laut hitam menyimpan kerinduan

Cahaya cinta membuat sinar di mata

Seraut wajah menampak nyata

Ombak yang bergelora membawa diri

Lari menjauhi rembulan

Meninggalkan negeri yang jauh

Dengan rindu yang tak habis-habis

Pergi untuk menemukan cintanya

Yang hampir busuk merindu

(Banyuwangi, 26 Juni 2006)



Elegi Untuk Mata-Mata Yang Kutinggalkan

 

 

Kutahan tumpahan air mata di rongga dada

Kutahan arus kesedihan di ujung tenggorokan

Agar tangis tidak menjadi luka

Sedih di mata-mata itu tak sanggup kutatap

Semakin dalam kutatap

Semakin dalam pula luka menggurat

Rasa kehilangan yang memekat

Merusak warna langit hati

Kepergian ini untuk perjumpaan yang sarat rindu

Kepergian ini membawa lukisan kenangan

Kenangan yang berlimpahan kemesraan

Tak akan kutukar

 

Antara kita ada ikatan hati

Yang dibungkus oleh hari-hari

Ikatan yang tak mungkin diputuskan oleh sejuta kerusakan

Ikatan yang bila berada di hadapan Tuhan

Akan disambut dengan senyuman ketentraman

Perjumpaan yang pernah terjadi takkan pernah berakhir

 

Bila kepergian ini diartikan jarak

Maka nantikan sebuah perjumpaan dengan luapan lautan

Dengan gelombang-gelombang rindu yang memuncakkan kedamaian

Luka dan air mata yang pernah menyayat hari dan hati

menjadi sapuan angin yang menumbuhkan harapan

 

Wahai mata-mata yang menyimpan kesedihan sesaat

Tapi menyinarkan semangat hidup yang kuat

Bila suatu hari tiba masa perjumpaan itu

Pastikan aku melihat mata-mata yang pernah aku tinggalkan

Mengerling lincah diikuti sebaris senyum yang tiada henti

Yang tumbuhnya dari dasar hati

 

Aku akan minta hadiah berupa kemenanganmu

Aku akan selalu memberimu doa

Semoga Tuhan menyayangimu selalu

Sehingga tak ada satu pun permintaanmu kepada-Nya

Yang tak Dia kabulkan.

(Malang, 29 April 2007)


Selengkapnya tentang Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya di bawah ini.


Posting Komentar untuk " Manuskrip Puisi Virtual: Musafir Cahaya"

  • Bagikan