[Manuskrip Puisi] Aku Takut Cintaku Batal - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Manuskrip Puisi] Aku Takut Cintaku Batal

 




Prakata

 

Terawali dengan menyebut nama Tuhan dan terakhirinya juga dengan menyebut namaNya. Tak ada yang lepas dari pengawasanNya apa-apa yang telah kita lakukan dan lewati karena sejatinya penglihatan, pendengaran, gerak, pembau, pengecap, pengucap, semua adalah pinjamanNya. Berkat semua pinjaman perangkat keras dan lunak pada tubuh ini akhirnya dengan takdirNya lahirlah puisi ini.

Manuskrip puisi ini adalah hasil rekam jejak seluruh perisitwa kemudian ditulis sehingga waktu dan kejadian di dalamnya layak dipertanyakan. Waktu pada akhirnya akan relatif dan nisbi sedangkan peristiwa pada muaranya berstatus panggung drama kolosal kehidupan yang digelar oleh Yang Maha Kuasa, tentu dengan keyakinan penuh bahwa keseluruhan gelar jagat ini dalam naungan Maha Pengasih dan PenyayangNya.

Dengan dasar Maha Pengasih dan PenyayangNya terhadap kita, maka dapat disederhanakan bahwa gelar jagat ini adalah semua tentang cinta. Cinta Tuhan kepada makhluk, cinta manusia kepada Tuhan, kepada dirinya, dan kepada orang lain telah menjadi judul akbar drama kolosal kehidupan. Namun, dalam perjalanan panjang tersebut selalu ada gesekan, ledakan, patahan, kecurangan, penyintasan, dan sebagainya sehingga terasalah bahwa menjaga cinta sejati bukanlah perbuatan dan perjuangan yang sederhana. Untuk menjaga ketulusan cinta dan mempertahankannya jadilah judul manuskrip puisi ini yaitu: Aku Takut Cintaku Batal. Judul Aku Takut Cintaku Batal adalah judul terakhir dalam buku manuskrip puisi ini.

Aku Takut Cintaku Batal memiliki makna bahwa cinta yang kita jantungkan berkali-kali mengalami batal seibarat batalnya puasa karena menelan ludah ketika menampak rujak dan es teh di tengah hari yang panas. Butuh latihan niat dan kesungguhan memperjuangkan cinta dengan mengabaikan pembatalnya. Dengan cinta yang layak dan suci, maka Tuhan akan Maha Kasih dan SayangNya. Dengan cinta yang tulus yang kita rawat, maka cinta akan merawat kita dengan tulus untuk anugerah Maha Cinta.

Dengan penuh semangat perjuangan, mengikuti seluruh skenario semesta yang telah ditetapkan Tuhan, ada baiknya kita mengurangi jumlah batal berkali-kali terhadap cinta. Setidaknya apa-apa yang terdapat dalam manuskrip puisi ini merupakan hasil perjuangan tanpa henti agar cinta tidak batal atau setidaknya menjadi hiburan yang kontemplatif.

 

Malang, 20 Mei 2021

Penulis


Sumbu Cinta

 

Api menyalakan sumbu lampu pada sukma

Senyum mengulum ketika api tegak menari

Gelisah menerkam ketika angin mengkhianati api

Tangis meraung ketika api tetiba mati

Cinta itu diminyaki waktu

 

Teruslah tidur mimpimu akan panjang cerita

Api itu menyala menjaga lelapmu

Datanglah kau dalam mimpi

Takkan pernah salah jalan

Dosa pun takkan tertulis dalam kitab cahaya

 

Pelangi pelangi ciptaan Tuhan

Adalah mekarnya api menjadi cahaya

Menutupi sejarah hujan

Pelangi mengunyah kata

Berdiam menayangkan makna

Pelangi mencium embun seriang matahari mengecup daun

Memuji senyumnya sendiri

Pelangi memunggungi langit

Menjarah selendang keindahan

 

Pelangi kukatakan padamu

Sebenarnya kamu itu semu seperti wajah kekasih

Seperti cinta yang waspada

Raih tanganku pelangi

Lingkari tubuhku dengan lengkungmu

Kita berbagi napas saling hirup

Kita berbagi panas mengenyah beku

Dekatkan rapatku lebih erat

Diam, jangan berkata apa pun

Dengarkan, yah dengarkan saja

Hati kita berbincang memamah cinta

Biar nyata ia dalam hening

 

Pelangi itu bebutir air yang bercumbu

Basah bibir mengulum satu namamu

Kulit air saling bersentuh

Mengeja cinta dalam desah rindu

Rindu pun mencair

Menyatukan tubuh dalam panas berbara cinta

 

Aku itu api

Api itu berminyak rindu

Aku itu pelangi

Pelangi itu air

Air itu aku

Air itu cinta

Rindu mendidihkannya

 

Malang, 23 Maret 2020

 


 

Alam yang Beradab

 

Memahami perjalanan air

Perjalanan panjang dari bumi ke langit

Kemudian bernama hujan

Hujan adalah perilaku air

Perilaku kebaikan semesta

Yang di atas tanah yang di langit dan yang di antara keduanya

Airlah yang membersihkan menyucikannya

Laksana laut menelan segala racun kekotoran dan kegetiran

Kemudian mengembalikannya menjadi kebaikan embun dan hujan

Mengisi sumur dan sungai-sungai membunuh dahaga

Ia pun membasuh udara agar sama kita hirup

Ia pula yang menyirami tanah tempat kita berdiri dan bertanam

Dan menumbuhkan makanan kemudian kita kembalikan ke tanah

Mereka tak sedikit pun mengeluh

Sungguh adab yang luar biasa

Mereka alam besar

Badan kita alam kecil

Tinggal menyamakan frekuensi

Sebagai bentuk penghormatan kepada sang kakak

 

Malang, 23 Maret 2020


 

Penjual Kembang

 

Ini tentang penjual kembang kuburan

Di tanah Sama’an

Bunganya laris terbeli

Menghiasi batu-batu bernama

Sebelum layu dan kerontang

Setelah peziarah pulang

Penjual kembang memungutnya kembali

Didasar ulang layaknya bunga baru

Dijual lagi

Ya, dijual lagi

 

Hei, perempuan penjual kembang

Bagaimana kau merampasnya

Dari seseorang yang telah mati

Apa saja isi perutmu bila kembang yang kaucuri

Juga kaumakan

Kita hanya mencoba menghormati yang hidup

Yang datang kepada yang mati

Menghormati yang mati layaknya hidup

 

Hei, yang menunggu kematian

Apakah kamu diam saja di dalam tanah kelak

Ketika seseorang merebut kembang hiasan nisanmu

 

Tak ada yang tersisa dari kita

Hanya nama di batu nisan itu

 

Malang, 2 Mei 2020

Kesunyian yang Bening

 

Bukankah dalam gelap lebih bising dari terang

Sunyi hanya ada pada benderang

Sepi pun hanya terjadi pada malam

Senyap menyelimuti pada kata yang tak tuntas

 

Hati lebih sunyi dari pasar yang ditinggalkan api

Hati juga lebih sepi dari gulitanya malam

Hati yang sunyi yang sepi lebih senyap dari kebisuan

 

Genderang di langit ditabuh oleh awan

Gemerincing logam di tanah terbuat dari tetesan hujan

Gemuruh pada perut adalah angin kecemasan

Riuhkan sunyi

 

Ada gelas bernama jantung

Berisi nama sifat dan wajah cahaya

Kebeningannya menjadi kesunyian

Dalam kesunyian itu ia ada

 

Malang, 3 Mei 2020


 

Aku Melihat Bulan pada Sabit Matamu

 

Aku melihat bulan pada sabit matamu

Wajahmu melangit menyimpam bintang ketulusan

Tak ada mendung atau awan

Yang ada hanya senyum  matahari walaupun malam

Tirai pada jendela kehidupan

Tak pernah ditutup atau takut kehilangan

Semua berdamai dengan semesta

 

Kita berbincang di beranda

Merayu angin agar tak menikam

Ada sayap di atas kepala

Diam tak berkepak sedang memayungi sesuatu

Eh, ternyata sayap itu bentukan nafas kita

Sungguh aku terpana

Pertalian yang kita hembuskan menjadi malaikat

Semua harus berdamai dengan mereka

 

Ketika bulan benar purnama

Mari kita bercermin

 

Malang, 3 Mei 2020


 

Air Itu Hidup

 

Beku cair hanyut larung renang riak ombak gelombang gelembung gemericik embun uap mendidih menguap dingin panas lembab keruh bening  berwarna datar berbusa mengalir licin hulu hilir memercik keciprat rintik menetes meresap bandang banjir sungai laut samudera pasang surut muara selat palung cermin najis suci memadat pekat encer kental kristal hujan tawar salju segar oksigen hidrogen minum memasak mencuci mandi bocor rembes kencing ludah airmata mani darah getah nanah semua tentang air

 

Semua tentang air adalah semua tentang rasa

 

Malang, 3 Mei 2020

 


 

Daun Pun Memiliki Alasan Keberadaannya

 

Daun di atas mobil

Selembar uban di tengah buku

Permen karet dalam sepatu

Burung diburu senapan

Sandal pak menteri tertinggal di pasar

Uang logam berbincang dengan gincu

Sebutir nasi dipanggul seekor semut

Kaca mata semeja dengan segelas susu

Perempuan bermenung di atas genteng

Kantil[1] dikunyah dukun

Sendok bermain pasir

Sepucuk surat di bawah becak

Puntung berjejer dengan peluru

Kaki anak bertemu pantai

Bintang di dalam kolam

Seekor katak menelan cincin

Aku bertemu dia

 

Daun mobil uban buku permen karet sepatu burung senapan sandal pasar uang logam gincu sebutir nasi semut kaca mata segelas susu perempuan genteng  kantil dukun sendok pasir sepucuk surat becak puntung peluru kaki anak pantai bintang kolam seekor katak cincin aku dia

 

Semua memiliki alasan atas keberadaannya

 

Malang, 4 Mei 2020

Aku Hidup Tigakali

 

Kemarin aku duduk di situ

Hari ini tidak ada lagi

Mungkin besok kutemukan diriku

Duduk di tempat itu lagi

Bukankah yang kemarin duduk di situ aku?

Bukankah hari ini yang tidak lagi duduk di situ juga aku?

Mungkinkah besok yang akan duduk di tempat itu lagi aku-aku juga?

 

Ada apa dengan waktu?

 

Malang, 4 Mei 2020


 

Kuburan Ruh

 

Kuburan kuburan di luar tubuh

Jadi pemakaman bangkai

Kuburan kuburan di dalam tubuh

Inilah pemakaman ruh

 

Aku menengok ke dalam

Kutemukan Firaun bahkan Dajjal

Kadang kujumpai pula dewa dan malaikat

Tak lupa para leluhur mengambil tempat

Tak jarang seisi kebun binatang hadir di dalamnya

Tubuh ini seperti botol ajaib

Atau layaknya terminal berbagai jenis penumpang

 

Ada yang bertengger

Menunggangi

Menarik kekang kendali

Semoga selamat

Satu keyakinan

Aku pasti pulang ke rumah tanpa tersesat

 

Malang, 5 Mei 2020


 

Kesaksian Batu

 

Ketika bertanya pada batu

Akankah ia mengeluarkan sepatah kata?

Tidak

Ia telah berjanji bungkam kepada Tuhan

Jangan pernah menanyakannya

Ada saat ia akan berbicara

Bahkan lebih banyak dari yang sanggup manusia katakan

Ia akan menyampaikan kesaksian

Yang membuat manusia terluka hatinya

Takut melebihi hantu kematian

 

Batu tolonglah ketika kelak kaubicara

Jangan terlalu jujur

 

Malang, 5 Mei 2020


 

Tuhan Tak Tidur

 

Ada lengking dari gunung

Yang disenyapkan oleh duka

Bumi menyimpan ratapan

Tersembunyi paling dalam dari duga

Kicau burung bertukar tangis

Menggarami sakit

Negeri ini dihajar habis

Sendi-sendinya siap runtuh

Ibu yang ceria tampak menua beribu tahun

Kibaran bendera menguasakan merah dan sedikit putih

Senjata yang terkenal kejam membunuhi

Lumpuh tak bertulang

Ada yang lebih kuat mengambil nyawa

Seperti memanen hutan dengan api

Satu-satunya kekuatan adalah pasrah

Pilihan yang sanggup menghibur adalah yakin

Bahwa Tuhan tak tidur

 

Malang, 5 Mei 2020


 

Buku Kehidupan

 

Hidup itu seperti mengarungi tiap huruf pada lembaran buku

Nyawa mengejanya menjadi kata mencoba menemukan makna

Melintasi barisan huruf tak semudah mengikuti garis

Butuh benturan sebelum mencapai titik

Tiap kata ada ruang menganga

Antar kalimat ada kekosongan membentang menjadi jurang

Pada ruang yang menganga itu

Pada kekosongan yang membentang itu

Diri terjebak tercetak menjadi iblis

Sungguh kasihan nyawa yang tertitip pada kunang-kunang

Hanya uluran tangan harapan satu-satunya

Tiba di huruf berikutnya dengan selamat

Hanya tangannya

Hanya dia

Hanya ia

 

Malang, 6 Mei 2020


 

Batu-Batu Tak Ingin Ke Surga

 

Ikan-ikan merenangi gurun

Kaki-kaki menjejak langit

Burung-burung membuang sayapnya

Manusia menelan keraguan

Batu-batu meneteskan kesedihan

Menyaksikan Musa menganggap gunung itu Tuhan

Pun sama Ibrahim juga mengira bintang itu sesembahan

Cahaya menerangi tapi zaman makin mundur

Tuhan-tuhan diciptakan dari semen

Hewan pun diputuskan untuk disembah

Ikan-ikan tak kembali pada laut

Kaki-kaki menjadi kepala

Burung-burung memakai tongkat

Manusia makin yakin akan rupa

Batu-batu tak ingin ke surga

 

Malang, 7 Mei 2020


 

Bawa Abadi

 

Dari mana kau belajar meluluhkan hati

Hati ini melampaui batu lebih keras dari baja

Bagaimana senyummu mampu melubangi

Bagaimana sentuhanmu melekatkan aroma bunga

Bagaimana tatapanmu menguras kegelisan menjadi rindu

Pantulan cahaya dari pipimu menceriakanku

Genggamanmu adalah pesona kemuliaan

Tentangmu hanya kebaikan

Semua memberi bekas yang hanya bisa dibawa abadi

Ini wajahku

Ini tanganku

Ini hatiku

Bawa abadi seperti cahaya mengikuti matahari

 

Malang, 7 Mei 2020


 

Sayap-Sayap Cahaya

 

Sebuah alunan nada berketukan lebih lambat dari detak jantung

Mengiris malam menjatuhkan bintang-bintang

Ibu berselimut tebal menelan cahayanya

Menutup semua lubang prasangka keberadaan

Seekor burung besar sangat terang membentangkan sayap

Malam menjadi siang tanpa menguapkan samudera

Cahaya-cahaya kecil berlesatan ke arahnya

Berlindung di balik sayap menyatukan warna

Kuraih kakinya kupeluk

Tak sanggup kutahan tangis

Air mata cahaya meminyaki bulunya menjadi lebih kilau

 

Malang, 7 Mei 2020


 

Inilah Itu

 

Inilah pandemi yang sebenarnya

Mengelupas keyakinan dari kulit jantung

Memotong tangan-tangan kemesraan

Menutup senyum kasih sayang

Menggantinya dengan sorotan ketakutan

Merampas wajah

Layar senda gurau digulung

Sepasang cangkir kopi panas

Telah lama tertelungkup

Ibu menua lebih cepat

Matahari berpaling dari kerutan di mukanya

Semua menarik diri menjauhi rumah-rumah

Berdiam dalam kuburan

Aku bersaksi tahun ini begitu pahit

Aku meneguk harapan agar tak berprasangka

 

Malang, 7 Mei 2020


 

Napas Kita Saling Hirup dari Jauh

 

Jeritan gunung rindu belaian awan

Bumi kering mengenang tetesan hujan

Kicau burung bertukar tangis

Sendi-sendi negeri siap runtuh

Lumpuh kehilangan logam

Musim memanen nyawa

Aku terpilih dalam keberuntungan

Termasuk juga kau

Napas kita masih utuh saling hirup dari jauh

 

Kahanan[2] belum memberi waktu

Membaca cinta pada wajahmu

 

Kursi taman itu menunggu kita sentuh

Inginkan bulan pada sabit matamu

Senyum  pagi pada lembar hari

Mengundang sayup melewati tirai pada jendela

Semua rela berdamai dengan semesta

 

Ketika bulan benar purnama

Bintang-bintang berkelip di Timur

Mari kita bercermin lagi di kolam itu

Disaksikan sepasang angsa berbulan madu

 

Malang, 28 Juni 2020


 

Belajar pada Malam

 

Belajar pada malam

Mengolah nuraninya melahirkan embun

Yang indah sejuk dan berkilau 

Malam itu hidup dan bergerak

Kegulitaannya kesenyapannya melahirkan sejarah

Yang dikemas dalam setetes embun

Begitu sederhana tapi begitu dalam

Cita-cita malam bukan mencipta hujan

Walau dari air yang sama

Ia berbeda sama sekali

 

Malang, 20 Juli 2020

 

 


 

Sakaratul Pancasila

 

Hiiip

Hiiiiip

Hiiiiiiip

 

Hip[3] pip [4]hip

Hip pip hip

 

Hip hip hip pip pip

Hip hip hip pip pip

Hip hip pip pip

 

Hip piip piiip

Hip piip piiip

 

Malang, 23 Juli 2020


 

Connecting Space

 

Ada dua orang sahabat yang selalu mengingatkan

Kau ditakdirkan selalu dalam perjalanan

Maka jangan lupa ucapkan salam

Kepada mereka yang tak tampak

Dari titik awal keberangkatan

Hingga tujuan perjalanan

Mereka akan menjawab dengan lebih baik

Dan ketika tiba saatnya mereka

Bosan dengan membalas salammu

Mereka akan menyuruhmu berhenti

Menetap di mana titik yang kau inginkan

Karena alam mereka

Dan alam kita

Sebenarnya tetap terhubung dengan baik

 

Malang, 13 September 2020

 


 

Ibu Bumi Bapa Angkasa

 

Shakti[5]

Shakti

Shakti

Akasha[6]

Liqa’i lingga wawa yoni[7]

Persaksian semesta

Tanah air angin api

Persaksian empat yang luhur

Terlisan terbatin

Persaksian dua tapi satu

Shakti

Shakti

Shakti

Akasha

Badan

Shakti akasha jagat kecil

Semesta

Shakti akasha jagat besar

Pasangan kecil besar

Menunjuk ketunggalan

Shakti akasha

Ibu bumi bapa angkasa

Satu

Manuggal 

Wujud

Malang, 13 September 2020

Dua Alam

 

Humus

Top and subsoil

Weathered rock fragments

Bedrock[8]

Lapisan tanah

 

Epidermis

Dermis

Subcutaneous tissue

Muscle[9]

Lapisan kulit

 

Dua alam dalam satu semesta

Satu alam dalam masa permulaan

Tanah sakit

Seluruh alam sakit

 

Malang, 13 September 2020


 

Kita adalah Garis Tegak

 

Otak di kepala

Terbit tinggi menjadi matahari

Kedua mata ini

Adalah bintang penunjuk arah

Jantung yang berdegub serupa suara udara

Detak dan suara menjadi tanda kehayatan

Dan pendengaran

Air yang mengalir gemericiknya menjadi hasrat

Menjadi darah mengitari keluasan bentuk dan gerak

Menjadi cipta mengisi ruang semesta

Kulit dan daging layaknya tanah yang rendah

Dijunjung dengan bijak

Tempat semua salam penghormatan  kembali

Rasa ibarat cakrawala

Pemisah dua dunia yang tampak satu

Kita adalah garis tegak yang berpijak pada lintangan cakrawala

 

Malang, 13 September 2020


 

Penghubung yang Baik

 

Ingatan:

Penghubung yang baik

Antara dua masa di belakang dan kemudian

Menunjukkan bahwa hari ini kita masih hidup

 

Napas:

Yang keluar masuk

Penghubung yang baik antara yang hidup dan yang mati

Sekaligus dalam satu lelaku[10]

 

Pandangan dan pendengaran:

Penghubung yang baik

Antara dua ruang dan waktu yang terhalang

 

Penghubung sejati keduanya

: karsa dan cipta

 

Malang, 13 September 2020


 

Di Bawah  Pohon  Nonggal[11]

 

Sarung kotak-kotak

Peci

Dan tatapan nol menyapu bukit

Cinka berjemur di keteduhan

Menuntut tuhannya

Mengembalikan segenggam

Tanah leluhur

Menyandari pohon Nonggal

Serasa dipeluk pencipta

Menyatakan bahasa kemesraan

Pilih aku atau pohon ini, Tuhan

Ia memilih pohon Nonggal

Cinka terputus urat batangnya

Dengan mata clurit mengerling ke pohon di atas bukit itu

 

Sumenep, 15 September 2019

 

 


 

Damar Kambang

 

Bang kakambang ngambang

Mar dari samar abinar[12]

 

Sumbu lampu menyala bersama doa

Sukma kepada api

Senyum mengulum ketika api tegak menari

Gelisah menerkam ketika api kejab-kejab

Tangis meraung ketika api tetiba mati

 

Bang kakambang ngambang

Mar dari samar abinar

Salamet[13]

 

Sumenep, 16 September 2019

 

  

  

Nyemonyean[14]

 

Kowaaak[15]

Sapa mate

Dangdang se tao

 

Kukkurunooo’[16]

Sapa ngandung

Ajam se tao

 

Tekkooo’[17]

Sapa se molja ban se apes

Tekko’ se tao

 

Seppe

Pangeran ngongngang ate

Aba’ se tao

 

Sumenep, 16 September 2019

 

 

Terjemah Nyemonyean

 

Kowaaak

Siapa yang telah meninggal

Elang yang tahu

 

Kukkurunooo’

Siapa yang sedang hamil

Ayam yang tahu

 

Tekkooo’

Siapa yang mulia dan sial

Tokek yang tahu

 

Waktu Sepi

Tuhan berkunjung pada hati

Hanya diri yang tahu

 

Sumenep, 16 September 2019


 

Nyabis

 

Bis

Nyabisa[18]

Mil

Pacomil[19]

Llah

Dha' Allah[20]

 

Almuhallahammad[21]

Nyabis

 

Malang, 24 September 2019

 


 

Adhingdhang Adha’dhing Adhangdhang

 

Ja’ adhingdhang tengnga lorong

Gi’ arajaan ebbes

 

Ja’ adha’dhing tengnga taneyan

Ta’ kabbi oreng soka tabbuwan

 

Ja’ adhangdhang e ata’

Mi’ ebeddil so oreng

 

Aguli saparlona

Alesan ja’ samettona

Kalodhu’

Tapet

Gandu’

Le mekkar kembangnga

Asre atena

 

Malang, 24 September 2019

 


 

Terjemahan Adhingdhang Adha’dhing Adhangdhang

 

Jangan merasa besar sendiri di tengah jalan

Masih lebih besar bus

 

Jangan bertabuh di tengah halaman

Tak semua orang suka tetabuhan

 

Jangan merasa tinggi di atas atap

Nanti dibedil[22] orang

 

Bergeraklah seperlunya

Berucap tak sekedar bunyi

Telan

Tahan

Pendam

Biar mekar berbunga

Asrikan hati

 

Malang, 24 September 2019


 

Kalambu Laju [23]

 

Ketika tertutur kepada orang

Ma’ padhana Kalambu Laju[24]!

Remuk hatinya

 

Tapi ketahuilah Kalambu Laju itu

Bukan sekedar tutur

Itu adalah simbol dan warisan para tetua

Ia masih jadi pasangan jendela di roma pamoleyan[25]

 

Kalambu Laju yang menyimpan kenangan

Yang renta pernah muda

Pernah mengalir cinta di darahnya

Titik darah menghitam mengering itu saksi

Jari janda perang tertusuk jarum

Ketika menjahitnya dengan cucuran air mata

 

Kalambu Laju bukan sekadar selambu

Ia layar kenangan layar saksi antar generasi

Bahwa cintanya kepada negara dan Madura luar biasa

 

Kalambu Laju menari dirayu angin

Ia bercerita

Kita saja yang tak paham

 

Sumenep, 3 Oktober 2019

 

Bercumbunya Air

 

Air bernapas kaca berkeringat

Garis cahaya air matahari

Uap air desah gemercik

Butir-butir air bercumbu

Basah bibir air mengulum

Rambut mengalir akar air

Tatapan air meliar

Jam air berdetak singkat

Air mengesan cumbu

Kulit air saling bersentuh

Mengeja desah tentang air

Panas tubuh menyeka air

Aroma air melambungkan dengus

Tetesan seka memerah surga

Air bercinta

Cinta pun berair

Menyatulah tubuh air dalam hanyut

 

Aku air itu

 

Sumenep, 13 Oktober 2019


 

Napas adalah Jembatan Rasa

 

bernapas sama dengan hidup

tidak bernapas sama dengan tidak hidup

bernapas dengan baik sama dengan hidup baik

bernapas tidak disadari sama dengan tidak ada

bernapas panjang sama dengan hidup lebih panjang

bernapas pendek pendek hidup akan lebih singkat

ketika dada terasa berat

napas panjang meringankannya

 

Malang, 14 Oktober 2020


 

Ada Apa antara Diriku dengan Tuhan?

 

seringkali aku menjajah Tuhan

untuk mengabulkan doa-doa

memenuhi sesamudera keinginanku

emang Tuhan pembantuku?

seringkali aku melempar banyak pertanyaan

seolah Tuhan petugas penjawab permasalahanku

Tuhan maha gaib maha halus

mengapa kasar sekali bahasa batinku?

sahabat saja bukan

apalagi kekasih

makhluk saja bukan

apalagi hamba

berani beraninya aku mendikteMu

Tuhan ….

 

Malang, 15 Oktober 2020


 

Kesasar dalam Pikiran

 

Kesasar di hutan di jalan di kota sudah jamak

Tapi kesasar dalam pikiran merusak kemanusiaan

Betapa banyak orang menafsir Pancasila

Terlindas hatinya tinggal kepala

Atau kepalanya tertebas menggilinding

Hatinya digondol[26] anjing

Sungguh luar biasa banyak orang menafsir tentang en ka er i [27]

Menjadi tanah dan sia-sia

Begitu banyak pula orang menafsir tentang surga bahkan mengaplingnya

Tersesat di kedalaman neraka

Itulah gunanya letak dahi lebih tinggi daripada mulut

Letak hati di atas perut

Yang sungguh kebenaran adalah

Kuburanmu di bawah bendera merah putih

 

Malang, 25 Desember 2020

 


 

Nama dan Bayang-Bayang

 

Dalam kitab samawi

Tuhan menyebut bayang-bayang manusia

Beberapa kali tanda penting

Sebuah tanda bahwa yang hakiki

Kepunyaan manusia hanyalah bayang-bayang

Dan satu nama di batu nisan

Hiruk-pikuk zaman

Tak setiap detik pun terhindar dari bayang-bayang

Alam bayang tampak nyata

Maya terpikir nyata

Yang tidak dicipta Tuhan

Tapi berasal dariNya adalah hidup

Ketika tinggal bayang-bayang dan nama

Hidup itu di dalam Tuhan

Maka memelihara gerak

Tepat tetap dalam sujud

Jadi utama dalam kepulangan

 

Malang, 25 Desember 2020


 

Manifesto el Culture

 

Manisfes[28], Manikebo,[29] Lesbumi,[30] Lekra,[31] palu arit, darah, politik

Adalah tentang peradaban kebudayaan

Catatan kesusastraan

Setuju tak setuju sekarang sudah abu-abu

Ada yang terang ada temaram

Kiri dan kanan adalah langkah kaki sejarah

Terus berlangsung bergerak menggulung waktu

‘Aku Anak PKI’ sudah tidak tabu jadi buku

Apakah sastra tidak lagi memiliki penjara?

Atau membiarkannya karena peradaban berdiri di atas dua kaki?

 

Malang, 25 Desember 2020


 

Burung Kertas

 

Gadis berjubah merah memukul bedug

Pedang-pedang berbaris menetes darah

Teriak senyap merobek langit

Burung kertas terbang ke istana

Membangunkan sang putri

Merusak mimpi kedamaian

Orang-orang berbicara mengalir huruf

Ia tak pernah paham huruf itu menjadi kematian

Merusak kalimat suci

Lukisan tentang bunga dipandangi langit

Sepasang cinta tersenyum pada salju

Kelopak merah bunga seperti guguran darah

Langit mempunyai rahimnya sendiri

Menopous lebih cepat

Tikar menggendong lukisan

Tangan-tangan melambai merebut selembar hati

Mata tidak hitam saja atau putih saja

Warna dibangun oleh kata

Ada blur di antara bibir dan angin

 

Malang, 11 Januari 2021


 

Ini Iblis

 

Ini Iblis

 

Tidak tersisa sejengkal pun langit

Yang tidak dijadikan tempat sujud iblis kepada Tuhannya

Wow

 

Walaupun terlaknat

Ia sungguh pengabdi yang hebat

Hanya karena batinnya tidak beradab

Ia enggan sujud kepada Adam

Ia bersaksi api lebih unggul  dibanding tanah

Api pun melalap surganya

Rumah tempatnya kembali adalah kobaran api

Bukan surga

 

Bagaimana pun iblis memandang wajah Tuhan

 

Malang, 7 Maret 2021


 

Guru yang Tak Tergantikan

 

Guru pada akhirnya kelak kehabisan fungsi

Semua ilmu dan keterampilan terdigitalisasi

Berdiri di muka kelas tergantikan

Ia hanya jadi penonton zaman

Menyaksikan bertumbuh kembangnya anak-anak

Yang menyusu pada derasnya informasi

Tugasnya telah diambil alih teknologi

Layaknya pedagang

Tak ada lagi yang bisa dijual

Guru hanya bisa jadi cermin yang tergantung di tembok peradaban

 

Yang tak tergantikan darinya hanyalah

Doa dan bayangan holograpik kemuliaannya

 

Sumenep, 21 Maret 2021

Hari Puisi Dunia

 

 

  

Cinta Sederhana

 

Jangan kau tanya sebesar apa cintaku

Kuakui cintaku tidak mewah

Aku menulis cinta ini pun hanya

Dengan pensil

Pada kertas biasa dan tak wangi

Hanya tetesan airmata

Mungkin membuatnya beraroma

 

Aku tahu zaman ini cinta seperti ini

Menyampah

Layaknya kertas yang dilumat kemudian dibuang

Aku tak akan menjanjikan harapan

Selain kesederhanaan  apa adanya yang kumiliki

Ternyata kau menerimanya dengan tulus emas

Hatimu sungguh berlian

 

Sungguh cinta pada kertas itu

Cinta yang sederhana itu

Yang ditulis dengan pensil yang kurang separuh itu

Telah melewati waktu dan teruji

Dan membuahkan cahaya mata yang indah

Terima kasih telah menerima cinta yang sederhana ini

Hingga kehidupan bahagia berikutnya 

 

Malang, 1 April 2021


 

Lelana Rahara

 

Rahara[32] duduk di tepian malam

Menekuri nasib bintang-bintang

Yang disembunyikan gemawan

Dalam gulana gulita pun menyanderanya

Pada sudut sesal

Dosa-dosa yang terlahir dari rahim iblisnya

Beranjak dewasa yang kemudian menyelelingkuhi ibunya

Lebih banyak melahirkan cucu dosa

Lelana[33] rahara yang panjang mengurai gelap pekat

Sedikit kerlip cahaya di hatinya melambat menuju padam

Perjalanan yang meletihkan menggendong anak cucu dosa

Menuju rumah kepulangan

Dalam ketaksaan benaknya bertanya

Jika kasih sayang hanya beralamat

Pada orang-orang yang suci

Ke pintu mana harapan bertamu?

Rahara pun mengetuk pintu semesta

 

”Aku datang berkunjung. Aku membawa bingkisan. Sebuah buku yang kutulis dalam kebutaan. Kertasnya kurajut dari kulit anak-cucu dosaku. Hanya ini yang kubawa. Aku menyerah."

Tuan rumah pun tersenyum

Mengibarkan pelukan

 

Sumenep, 14 April 2021

 


 

Neraka Terdalam

 

Kita bukan tuhan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan neraka terdalam adalah

Penyesalan

 

Malang,14 April 2021

 

 


 

Kidung Dung Tak

 

Tak dung dung tak[34]

Tak tak dung dung

Tak tak dung dung

Dung dung dung dung

Tak tak tak tak

Dung dung tak

Dung dung tak

Tak dung

Dung tak

Dung dung

 

Terhentak kidung senandungkan retak

Gemeretak detak jantung pilu merundung

Hentak getak mendung mengungkung[35]

Terbendung di relung memasung

Kuelak menolak teriak patah kepak

Gegunung mengandung balak

Memenung dalam lumbung arak

Pepetak itu indung

Membubung ombak

Gulung gunung[36]

 

Malang, 14 April 2021

 


 

Berbicara dengan Bayangan

 

Tataplah bulan

Jika tak mampu dengan matahari

Jika dengan bulan pun

Tak menemukan cahaya

Cukup pandang tajamtajam

Bayangan

Ia kebalikan arah cahaya

Mesrailah

Bayangan dan cahaya itu dari

Rahim yang satu

 

Malang, 14 April 2021

 


 

Ini Bukan Itu

 

Hidup ini bukan tentang alif ba ta

Atau a be ce de tapi

Tentang titik yang melahirkan bentuk

Tentang niat dan satu langkah pertama

Bukan untuk menuju bulan atau

Menembus bumi tapi

Tentang berdiri tegak di dalam diri

Patung berdiri tegak tapi

Di dalamnya kosong

Kuburan mematung tapi

Di dalamnya berdiri tegak

Ini soal mendirikan alif

Dalam sekalian jagat diri

Ini tentang

Kunci

Mata

Tali

Lingkaran

Titik

Rumah

Tangan

Pelukan

Senyum

Barisan

Tentang satu

 

Malang, 14 April 2021

Aku Ingin Memberitahumu Sesuatu

 

Aku ingin memberitahumu sesuatu

Yang belum pernah kuberitahukan

Kepada siapapun sebelumnya

Tapi walaupun tidak kuberitahukan

Tentu dia tahu bahkan mahatahu

Mungkin kamu menebak apa yang kusembunyikan

Tidak masalah jika kamu menerka

Menduga itu sifat manusia

Mengira yang baik itu sifat dia

Yang ingin kuberitahukan kepadamu adalah

Aku punya dosa luar biasa

 

Nah ketika ini kauketahui

Kamu bisa menyangkal atau

Mereka aneka warna

Tapi tidak dengan dia

Dia hanya mengira

Mungkin khilaf

Nanti juga kembali

Karena aku punya dosa luar biasa

Maka bersahabatlah denganku

Memulai langkah pertama

Malang, 14 April 2021


 

Berpisah dengan Bayangan

 

Manusia dan bayangan selayak kembar

Tak memiliki peristiwa perpisahan

Menandai sejatinya manusia

Memeluk cahaya pun

Bayangan tetap melekat

Seluruh penjuru menyinari pun

Bayangan itu tampak

 

Hai, kamu tahu muara pembicaraan ini ya

Cukup

Diamlah

 

Malang, 14 April 2021

 


 

Pengemis

 

Pengemis juga manusia

Beberapa bekerja mencari nafkah

Beberapa lagi merasa keren dengan seragam

Yang lain mencari jati diri

Polisi juga

Tentara juga

Guru juga

Dokter juga

Hakim jaksa juga

Pegawai juga

Sales juga

Supir bus pariwisata juga

Ustad juga

Apapun profesinya

Ada pada kita ranah itu

Termasuk yang menulis

Dan yang membaca puisi ini

 

Malang,15 April 2021


 

Kebaikan adalah Pinjaman Tuhan

 

Kebaikan adalah pinjaman Tuhan

.

.

.

.

.

.

.

Kematian mengerikan

Ketika tak satu kebaikan pun diingat

 

Malang, 16 April 2021


 

Pikiran Semesta

 

Pikiran semesta

Mampu menciptakan embun

Ini sungguh menyatakan bahwa

Alam halus menciptakan materi

 

 

Malang, 20 April 2021


 

Saudara Senyawa

 

Saudara adalah

Bentukan dari kata sa dan udara

Sa berarti satu

Udara adalah zat urip yang aku hirup

Sa-udara menyatakan aku dan kamu sekerabat

Satu unsur yang dihirup bersama

Begitu pula dengan senyawa

Se berarti satu

Nyawa adalah zat urip yang berada di dalam diri

Aku dan kamu persenyawaan kimia

Aku sedih kamu akan merasakan

Aku bahagia kamu akan memperolehnya

Saudara

Senyawa

Hidup

Satu

 

Malang, 21 April 2021


 

Waktu dan Ruang

 

Apa yang tertinggal di rumah

Dapat kembali mengambilnya

Tapi apa yang tertinggal dalam waktu

Takkan pernah kembali

Hanya wajah kenangan

 

Waktu adalah hitungan

Sehembus setarikan napas

Pulang-pergi adalah hukum

 

Malang. 1 Mei 2021


 

Nur

 

Nir[37]

Nur[38]

Nar[39]

Nir nur

Nir nar

Nur nar

Nar nur

Nar

Nur

Nir

 

Malang, 5 Mei 2021


 

Jangan Main-Main dengan Kata

 

Jangan main-main dengan kata-kata

Kata-kata harus sampai kepada makna

Kalau hanya taat pada asas dan prinsip

Takkan berguna kita sekolah

Begitu Umbu Landu Paranggi [40]bilang

Kata-kata adalah mantra

Kata-kata adalah doa

Sutardji [41]bilang

Kata-kata adalah kun

Maka jangan main-main dengan kata-kata

 

Malang, 5 Mei 2021


 

Aku Takut Cintaku Batal

 

Sungguh cinta ini terjaga teruji waktu

Aku takut cintaku batal

Sebagaimana batalnya kata

Terkhianati

 

Gigih kujaga menahan temu

Sekedar lewat di depan rumahmu

Saja sudah cukup

Cintaku telah sampai

 

Memandang rembulan

Berdekatan hingga tercium

Aromamu

Berbincang

Menyentuh merengkuhmu

Membatalkan cintaku

 

Kubawa mati saja

Umbu Landu Paranggi tutup buku

 

Malang, 5 Mei 2021






Glosarium


[1] Bunga Cempaka

[2] Kahanan= keadaan (Bahasa Jawa)

[3] Haluan Ideologi Pancasila

[4] Pembinaan Ideologi Pancasila

[5] Energi

[6] Ruang

[7] Bersatunya lingga dan yoni

[8] Lapisan tanah

[9] Lapisan kulit manusia

[10] Tirakat

[11] Pohon Nonggal adalah satu-satunya pohon di tengah hutan

[12] Damar Kambang adalah  lampu pijar sebagai sarana komunikasi spiritual masyarakat Sumenep pada masa lalu. Bang kakambang ngambang mar dari samar abinar mempunyai arti lampu pijar yang menyala di atas minyak itu sebagai petanda hajat.

[13] Selamat

[14] Bunyi-bunyian

[15] Bunyi pekikan elang

[16] Bunyi ayam jago

[17] Bunyi tokek

[18] Berkunjung

[19] Mencurahkan keluh kesah

[20] Kepada Allah

[21] Menyatunya nama Allah dan Muhammad

[22] Ditembak

[23] Selambu lawas

[24] Seperti selambu lawas

[25] Rumah tempat kepulangan

[26] Dibawa lari anjing

[27] NKRI

[28] Manifesto Kebudayaan

[29] Sperma kerbau

[30] Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia

[31] Lembaga Kebudayaan Rakyat

[32] Nama seseorang

[33] Pengembara

[34] Bunyi tabuh gendang

[35] Meliputi

[36] Gunung adalah semesta pada wayang kulit

[37] Kosong, hampa

[38] Cahaya

[39] Api

[40] Sastrawan

[41] Bapak Puisi Mantra


Posting Komentar untuk "[Manuskrip Puisi] Aku Takut Cintaku Batal"