Kekerasan Seksual Indikator Tingginya Kompetensi Libido yang Dibangun Sistem - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kekerasan Seksual Indikator Tingginya Kompetensi Libido yang Dibangun Sistem




Kekerasan Seksual Indikator Tingginya Kompetensi Libido yang Dibangun Sistem. Apa yang dimaksud kekerasan seksual? Menteri yang menandatangani Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Permendikbud Ristek) menyatakan bahwa kekerasan seksual adalah perilaku yang dipaksakan terhadap seseorang (tanpa persetujuan), dalam acara wawancara Najwa Syihab, 10 November pada chanel youtube dengan judul: Dituding Legalkan Seks Bebas, Ini Jawaban Menteri Nadiem.

Apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual yang prosentasenya tinggi terjadi di kampus, mungkin perlu dicerna dengan pikiran objektif yang terdapat pada Permendikbu tersebut. Berikut 21 kategori yang termasuk dalam kekerasan seksual. 

  1. Menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban.
  2. Memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban.
  3. Menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada korban.
  4. Menatap korban dengan nuansa seksual dan/atau tidak nyaman.
  5. Mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada korban meskipun sudah dilarang korban.
  6. Mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban.
  7. Mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban.
  8. Menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban.
  9. Mengintip atau dengan sengaja melihat Korban yang sedang melakukan kegiatan secara pribadi dan/atau pada ruang yang bersifat pribadi.
  10. Membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu, atau mengancam korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh korban.
  11. Memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual.
  12. Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh korban tanpa persetujuan korban.
  13. Membuka pakaian Korban tanpa persetujuan korban.
  14. Memaksa Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual.
  15. Mempraktikkan budaya komunitas mahasiswa, pendidik, dan tenaga kependidikan yang bernuansa kekerasan seksual.
  16. Melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi.
  17. Melakukan perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin.
  18. Memaksa atau memperdayai korban untuk melakukan aborsi.
  19. Memaksa atau memperdayai korban untuk hamil.
  20. Membiarkan terjadinya kekerasan seksual dengan sengaja.
  21. Melakukan perbuatan kekerasan seksual lainnya.

Nah, sepertinya benar. Kekerasan seksual berdasarkan 21 kategori di atas adalah perilaku libido yang tanpa persetujuan korban sehingga perlu dibentuk satgas kekerasan seksual yang bertugas menerima laporan, menjadi jembatan hukum, bahkan dapat memberikan sanksi. Pantas saja menuai banyak debat dan masalah baru.

Selama ini, maaf ini opini pribadi. Kompetensi dalam kurikulum ada 4 yakni: kompetensi religi, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan, dan keterampilan. Sementara selama ini berdasarkan apa yang saya alami sebagai pebelajar, sistem yang ada hanya mengeksplorasi dua kompetensi: Kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Dua kompetensi lainnya jarang-jarang disentuh. 

Institusi pendidikan mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi yang negeri atau umum yang di bawah naungan kementerian pendidikan orientasi peningkatan kompetensinya berulang pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi religi dan sosial jarang disentuh. Kedua kompetensi yang terakhir ada di institusi pesantren dan madrasah. Bukankah visi misi presiden adalah Penguatan Pendidikan Karakter?

Mengenai ilmu pengetahuan dan keterampilan, para pebelajar (siswa, mahasiswa) dapat mencarinya secara mandiri, tapi kompetensi religi dan sosial harus ditemukan pada sosok guru dan dosen. Masih mau berkutat pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan saja? Dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara hanya sebatas jargon? Pelajar Pancasila hanya sebatas teriakan? Marilah bersama-sama memperbaiki keadaan dari akarnya.

Jika terjadi kekerasan seksual di kampus, imput dosennya dari mana? Sekolahnya dulu dapat apa? Begitu juga dengan mahasiswanya. Dulu sekolah SD, SMP, SMA-nya di mana? Siapa sosok gurunya? Apa yang diperoleh dari pendidikan selama sekolah? Kita telisik hingga akarnya. Jangan sistem pendidikan yang saat ini hanya jadi penerus kegagalan masalalu. 

Apa yang terjadi saat ini, khususnya maraknya kekerasan seksual bukankah hasil dari pendidikan 10-20 tahun yang lalu? Ayo mikir!


Berikut secara lengkap penjelasan bentuk kekerasan seksual sesuai Permendikbud Ristek 30 tahun 2021 dalam:


(Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nizam berharap, kepastian hukum yang diberikan melalui Permendikbudristek ini akan memberikan kepercayaan diri bagi pimpinan perguruan tinggi untuk mengambil tindakan tegas bagi sivitas akademika yang melakukan kekerasan seksual). 

Posting Komentar untuk "Kekerasan Seksual Indikator Tingginya Kompetensi Libido yang Dibangun Sistem"

  • Bagikan