Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ini Baru Benar-Benar Buku

 

Hanya biar ada gambarnya

 

Kita tahu definisi buku secara umum bahwa buku adalah pengemasan gagasan dalam bentuk kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid. Di dalamnya berisi tulisan, gambar, atau tempelan dengan susunan tertentu. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Dengan pengertian demikian semua orang bisa membuat buku dengan mudah.

Hanya masalahnya, tidak setiap buku dapat memberikan pencerahan. Ada buku yang dengan kemasan menarik, setelah dibaca ternyata tidak menarik dan tidak memberikan apa-apa selain teks yang tercetak. Sebaliknya ada buku yang dikemas kurang menarik, tapi memberikan pencerahan dan pengalaman yang berarti. Ketika kita dihadapkan pada banyak rak buku, di toko buku yang besar, tentu kita tidak bisa membaca sepenuhnya buku yang kita minati. Kebanyakan buku, dikemas dengan plastik (tanpa contoh cetak gratis yang boleh dibaca). Kita hanya diberi suguhan sampul yang berisi judul, subjudul, dan perihal buku di bagian sampul belakang. Kita mendapati buku yang tersegel. Karena tidak banyak kita mengetahui tentang isi buku yang akan kita beli, tentu peran penulis dalam menjelaskan kemutuan buku di bagian belakang sampullah yang menjadi jaminan kita membeli buku atau tidak.

Kembali ke judul esai ini: Benar-Benar Buku, maka tidak mudah membuat buku seperti mudahnya definisi tentang buku. Seorang penulis harus memberikan pengalaman, pengetahuan, pengayaan, inspirasi, motivasi, dan keterampilan hidup dalam sebuah buku sehingga ada buku yang dikenang sepanjang zaman, ada pula buku yang lahir lalu mati. ‘Benar-benar buku’ menyentuhnya saja sudah memberikan aliran energi, seolah-olah berhadapan dengan penulisnya. Membacanya, seolah-olah sedang mendiskusikan isi buku dengan penulisnya langsung. Membacanya, seolah-olah memasuki ruang khusus, atmosfer khusus, yang mampu diciptakan oleh penulis. Membacanya sekali, mengingat isinya sangat lama, berkesan dan membekas dalam ingatan dan perasaan.

Benar-benar buku tidak seperti fungsi koran. Setelah dibaca, kemudian dibuat sebagai bungkus kacang. Benar-benar buku adalah ketika sang pembaca menempatkannya istimewa di ruang bacanya. Benar-benar buku adalah ketika pembaca menganggap penulisnya sebagai guru, orangtua, atau sahabat. Benar-benar buku memberikan pengalaman mental yang tidak biasa. Benar-benar buku membuat ikatan emosional antara pembaca dan penulisnya. Nah, di sinilah baru kita menyadari bahwa membuat buku tidak benar-benar mudah. Benar-benar buku juga memberikan pengayaan sebenarnya.

Benar-benar buku tidak sekedar menarik sampul dan gambar di dalamnya. Benar-benar buku terjangkau dengan uang saku (jika anak-anak), tidak menyesal membelinya dengan harga mahal (jika orang dewasa). Benar-benar buku mampu menjadi teman ketika senggang, mampu menjadi hal yang bisa dibanggakan memilikinya. Benar-benar buku benar-benar membuka seluruh simpul dalam pikiran dan perasaan.

Contoh, begitu banyak penulis buku fiksi anak. Buku fiksi anak tidak semata-mata bagus di penampilan gambar yang menggoda mata. Buku fiksi anak benar-benar menggunakan bahasa anak dan dari kacamata pengetahuan mereka. Buku fiksi anak tidak sekedar menghadirkan pangeran sakti atau peri yang sangat cantik. Buku fiksi anak yang benar-benar buku adalah yang menghadirkan dunia apa adanya sesuai dengan realitas. Buku yang mampu menerjemahkan abstraksi segala sesuatu.

Sekolah dasar saat ini sejak tahun 2013 sudah menggunakan buku tematik. Buku teks yang mengaitkan beberapa muatan pelajaran dalam satu tema. Tentu buku teks tersebut sangat butuh buku pendamping, buku pengayaan. Bisa berupa fiksi atau nonfiksi. Belum banyak penulis yang menggarap cerita yang muatannya berasal dari buku tematik. Misalnya ada puisi tentang metamorfosis hewan, muatan pelajaran IPA, kelas 4; atau cerita tentang keragaman dalam masyarakat. Benar-benar buku selain sebagai pendamping buku pelajaran di sekolah, sebagai teman, juga rujukan yang menyenangkan. Buku yang mengajak berpetualang, bukan sekedar buku yang mengharap keajaiban dan pangeran atau peri cantik.

Benar-benar buku tentu harapannya mampu mengaitkan isu-isu lokal, nasional, dan internasional; mengaitkan dengan teori-teori dan hasil kerja pemikir hebat dunia; mengaitkan dengan dunia kerja mandiri; tidak melulu imajinatif, tapi juga kritis sehingga ada ruang untuk meluaskan pengetahuan; lebih menguatkan pengetahuan yang mereka peroleh dari sekolah; lebih menguatkan rasa cinta kepada Tuhan, alam, dan sesama manusia; merangsang untuk terus berpikir dan berimajinasi kritis; dan sebagainya. Jadi yang benar-benar buku bukan buku yang berisi halaman kosong. Tunggu sebentar, ada buku yang isinya halaman kosong. Daripada membeli buku yang isinya ada, tapi kosong lebih baik membeli buku yang isinya benar-benar kosong seperti  buku yang  dibuat oleh seorang psikolog bernama Dr. Alan Francis berjudul Everything Men Know About Women, seratus halamannya kosong. Buku ini tidak ada kaitannya dengan buku anak-anak, hanya sekedar gambaran bahwa buku harus padat berisi. Padat berisi bukan berarti tebal.

Sebuah buku ditulis oleh penulis tentu dengan tanggung jawab dunia akhirat. Menurut Umbu Landu Paranggi, alm (sastrawan) penulis tidak boleh bermain dengan kata-kata. Kata-kata itu seperti doa, seperti mantra. Kata-kata dapat mewujud ke alam materi berupa situasi, tindakan, atau benda. Kata-kata akan dimintai pertanggungjawaban kelak di sisi Tuhan. Kata-kata dalam buku kelak akan memberikan pengaruh kepada si pembaca. Ketika kebaikan yang diambil dari buku tersebut, maka penulisnya mendapatkan amal jariyah. Sebaliknya, ketika keburukan yang diambil, maka itu akan menjadi dosa jariyah bagi penulisnya. Lebih-lebih ketika menggunakan atau merangsang imajinasi pembaca, imajinasi dapat terwujud dengan keyakinan total. Inilah yang perlu diwaspadai dan perlu lebih berhati-hati dalam wilayah pikiran jenis ini walaupun hanya pada sebuah buku.

Ada hal inti yang menjadi tujuan tersembunyi dari sebuah buku. Ada empat hal yang merupakan hidden curriculum pada sebuah buku (khususnya buku pengayaan di sekolah) yaitu berupa pengayaan kompetensi bidang: religius, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Keempat hal tersebut untuk menyinergikan pesan pada mukadimah kurikulum pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Cipta, rasa, dan karsa tersebut kemudian teraplikasi dalam olah pikir, olah rasa, dan olah karsa. Pada puncaknya seorang pembelajar sepanjang hayat harus ada pada posisi cipta. Dalam taksonomi Bloom tingkat teratas ini disebut sebagai karya (create). Sementara banyak buku tidak utuh hanya pada ranah pengetahuan dan keterampilan. Belum banyak buku, yang benar-benar buku yang mampu mengaitkan segala hal dengan Tuhan, dengan aspek religi. Aspek tertinggi yang kemudian bertransformasi menjadi aspek sosial: akhlakul karimah (manusia yang beradab).

Dengan hal panjang lebar di atas, mulai terasa bahwa menulis buku itu sulit. Walaupun Arswendo Atmowiloto menegaskan bahwa menulis/mengarang itu gampang, tentu itu pendapat orang yang memiliki jam terbang tinggi dengan keluasan wawasannya. Bagaimanapun, setidaknya gagasan dalam esai ini menjadi pertimbangan bagi penulis untuk mencipta buku yang ‘benar-benar buku’ dan memberikan andil dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa.


 Artikel untuk pencalonan penilai buku Puskurbuk 2021


Posting Komentar untuk "Ini Baru Benar-Benar Buku"