Hidup di Tangan Kita, Mati di Tangan Orang Lain - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup di Tangan Kita, Mati di Tangan Orang Lain

 


Hidup di Tangan Kita, Mati di Tangan Orang Lain. Yah, begitulah perjalanan kehidupan menuju kematian manusia. Keseluruhan hidup adalah langkah ke arah kepulangan. Hidup memang keputusan kita. Walaupun terpaksa dilahirkan, tapi hidup tetap tanggung jawab kita. Tanggung jawab ke arah mana mengemudikannya, titik mana titik mampirnya, dan putusan di mana berhenti dan terhenti akhirnya.

Sungguh hidup adalah hak asasi yang dijamin undang-undang. Hidup layak, hidup sejahtera, hidup merdeka yang disebutkan dalam undang-undang pun sepenuhnya adalah hak yang kita perjuangkan dengan tangan sendiri.

Pernah saya bertanya kepada murid-murid, lebih dulu mana yang akan mereka penuhi: hak atau kewajiban. Semua menjawab seolah-olah sudah distel di bawah sadarnya, mereka menjawab 'kewajiban.' Ketika ditanya alasannya, hanya satu dua dari mereka yang menjawab. 

Mereka yang menjawab mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban itu utama. Kalau tidak dilaksanakan, kita akan berdosa, kata mereka. Kemudian, saya memberikan analogi bagaimana seandainya begini:

Hak dan kewajiban berjalan seiring. Kita melakukan kewajiban karena sudah tahu hak yang akan kita peroleh. Seperti bernapas, kita diberi hak menghirup oksigen, tapi kita punya kewajiban melepaskan karbon dioksida. Bukankah begitu?

Seorang pegawai akan melakukan kewajibannya karena dia tahu hak yang diperoleh yakni gaji, uang lembur, uang transport dan sebagainya. Begitu pula dengan kalian selaku murid bukankah kalian sudah mendapatkan haknya di rumah seperti mendapatkan makanan, minuman, uang saku, perawatan dan sebagainya, makanya ketika kalian diperintah mengerjakan sesuatu tidak akan menolaknya.

Ketika kalian sudah tahu hak, kewajiban, tapi kalian tidak melaksanakan kewajiban itu artinya kalian tidak bertanggung jawab. Bukankah begitu?

Nah, kembali ke awal pembahasan, Hidup di Tangan Kita, Mati di Tangan Orang Lain adalah benar. Kita hidup adalah hak kita dengan kewajiban layaknya orang hidup. Mati juga hak kita, walaupun kewajiban memandikan, mengafani, mengantar ke liang kubur, dan menguburkannya bukan kewajiban kita. 

Ada kata-kata menarik dari obrolan Meme begini. 

"Jangan membeli jajan di ####MART, kalau tetangga terdekatmu juga menjual barang yang sama. Bukankah yang akan menguburkanmu si tetangga terdekatmu? Mengapa semasa hidup tidak sebaiknya berbuat baik terhadap tetanggamu yang berjual barang/jajan yang kamu butuhkan?"

Hahaha, sedikit mengernyitkan kening kita kan? Kata Cak Lontong: MIKIR. Itu benar. Sebaiknya mulai kita memikirkan ulang apa yang telah dilakukan. Hidup memang hak kita, tapi tidak malukah sedangkan mati kita di tangan orang lain?

Sepertinya pembaca sedangkan mengeluarkan napas berat. Hehehe. Tidak apa itu tanda sedang berpikir. Anggap saja anda tidak sedang membaca ini. Toh, nanti setelah membaca pasti terlupan. Santai saja. 

Selamat beraktifitas apa saja. 

Posting Komentar untuk "Hidup di Tangan Kita, Mati di Tangan Orang Lain"