Hari Anti Kekerasan (Seksual) terhadap Perempuan Sedunia: Peta & Potret, Kekerasan Seksual - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hari Anti Kekerasan (Seksual) terhadap Perempuan Sedunia: Peta & Potret, Kekerasan Seksual



Hari Anti Kekerasan (Seksual) terhadap Perempuan Sedunia diperingati tepat 25 November.Tindak kekerasan terhadap perempuan sudah berlangsung sejak sejarah manusia dimulai bahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tentu termasuk di Indonesia sebagai bagian dari sejarah panjang tersebut. Masa sebelum kemerdekaan tercatat kasus-kasus perkawinan paksa, poligami, perceraian secara sepihak tanpa mempertimbangkan keadilan bagi istri dan anak, dan bentuk-bentuk kesewenangan lain terhadap perempuan.


Di masa Orde Lama pun juga tercatat masalah-masalah Kekerasan (Seksual) terhadap Perempuan misalnya dalam perkawinan, perempuan sebagai buruh, dan eksploitasi perempuan sebagai objek seksual. Pada saat Orde Baru, kita mencatat aktifnya beberapa lembaga swadaya masyarakat memberikan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan. Meski demikian, selama bertahun-tahun fakta kekerasan terhadap perempuan masih terjadi dan senyap. Artinya, belum menjadi perhatian publik.

Banyak anggota masyarakat yang baru menyadari keseriusan masalahnya, ketika berlangsungnya kerusuhan Mei 1998. Pada tahun itu banyak kejadian perubahan untuk bangsa kita. Selain adanya pergantian kekuasaan, kita dikejutkan dengan kasus kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, dan beberapa daerah lain, yang juga mengungkapkan bentuk-bentuk kekerasan seksual massal terhadap perempuan. Dari pengalaman peristiwa tersebut, isu kekerasan terhadap perempuan mulai menjadi perhatian publik, yang disusul dengan (I) dibentuknya Komisi Nasonal Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Oktober 1998; dan (2) bertambahnya jumlah perempuan, khususnya dari daerah-daerah operasi militer (Aceh, Timor Timur/Timor Loro Sae, dan Irian Jaya/Papua), yang bersaksi mengenai kekerasan terhadap perempuan, yang dilakukan aparat.

Bersamaan dengan itu pula, mulai disadari keseriusannya hingga berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, yang selama ini banyak terjadi dalam masyarakat, tetapi kurang memperoleh perhatian, terutama kekerasan dalam rumah tangga.

Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang disahkan pada Sidang Umum PBB ke-85, pada tanggal 20 Desember 1993, menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran hak-hak asasi, dan kebebasan fundamental perempuan. Kekerasan terhadap perempuan menghalangi atau meniadakan kemungkinan perempuan untuk menikmati hak-hak asasi dan kebebasannya. Melalui deklarasi ini, PBB menyatakan keprihatinannya atas kegagalan komunitas internasional untuk memberi perlindungan bagi perempuan.

Sejenak perhatikan potret kekerasan teradap perempuan berikut




Pada intinya, semua kasus kekerasan terhadap perempuan bersumber pada ketimpangan kekuasaan antara perempuan, dan laki-laki yang diperkuat oleh nilainilai patriarki yang dianut secara luas. Sosialisasi tentang ciri-ciri yang dianggap baik pada laki-laki (maskulinitas) yang menggungulkan sifat-sifat berani, tegas dalam bertindak, dan menempatkan laki-laki dalam posisi lebih tinggi dari perempuan, merupakan hal yang ikut melanggengkan kekerasan terhadap perempuan. Laki-laki disosialisasikan untuk melihat perempuan sekadar objek pelengkap, tidak penting, dan dapat diperlakukan sekenanya. Kenyataan ini dilengkapi oleh sosialisasi tentang cirri-ciri yang dianggap positif pada perempuan (feminitas) yang menekankan pada perempuan untuk bersikap pasrah, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, mempertahankan ketergantungannya pada laki-laki, serta menuntutnya untuk mengutamakan peran sebagai pendamping suami dan pengasuh anak-anaknya. Pelekatan ciri-ciri tersebut (stereotip), serta mitos-mitos yang merendahkan martabat perempuan juga terus diterapkan dalam menilai perilaku perempuan dan laki-laki.

Adapun bentuk-bentuk kekerasan secara umum dapat menaungi seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan adalah sebagai berikut. Bentuk kekerasan terhadap perempuan: fisik, mental, deprivasi ekonomi, diskriminasi, serangan seksual, perbudakan seksual, perdagangan perempuan, dan imtimidasi berbasis jender.


Kata kunci peta kasus


Berikut adalah kata kunci peta kasus yang dapat ditelusuri secara online. Kekerasan Seksual terhadap Perempuan melalui berita, hasil penelitian, laporan survey, dan sebagainya. Semua kata kunci ini ada kasusnya dan tercatat dengan baik di Komnas Perempuan Indonesia.

  • Perkosaaan dan Mitos Keperawanan
  • Kekerasan di Masa Pacaran Umumnya Ditutup-tutupi
  • Kekerasan Seksual adalah Awal Viktimisasi dan Rentetan Masalah
  • Ketika Hakim Menunjukkan Kepedulian
  • Kehilangan Nyawa Karena Kekerasan Suami
  • Dibakar Suami di Aceh
  • Menjadi Korban Kekerasan Selama Puluhan Tahun
  • Terpuruk Dalam Kekeresan Karena “Takdir Tuhan”?
  • Tegar Meski Dituduh Sakit Jiwa
  • Perkosaaan Oleh Ayah Kandung
  • “Anak-anak Saya Ikhlas”
  • Anak Meniru Prilaku Orang Dewasa
  • Masyarakat dan Aparat Tidak Menunjukkan Keberpihakan Pada Korban
  • Sanksi Bagi Pelaku: Mengawini Korban?
  • Sekedar Pecabulan?
  • Marsinah: Potret Kekerasan Terhadap Perempuan Pekerja
  • Dipecat Karena Hamil
  • Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Korban Penipuan Seksual di-PHK
  • Melaporkan Penyerangan Seksual – Makin Menyudutkan Korban?
  • Kekerasan Seksual pada Calon Pekerja
  • Serangan Seksual pada Pegawai
  • Posisi Rentan Buruh Migran
  • Pekerja Migran Rentan Kekerasan di Negeri Sendiri
  • Aparat Justru Melakukan Kekarasan
  • Petugas Berseragam ‘Munafik’
  • Kerentanan Pekerja Seks
  • Dilacurkan dan Dijebak Hutang
  • Dipaksa Menjual Narkoba
  • Menjadi ‘Boneka’ Pedofil
  • Kekerasan Berakhir Pada Deportasi
  • Perkawinan Trans-nasional sebagai Bentuk Perdagangan
  • Liputan yang Mengeksploitasi Sensasi: Anak 4 Tahun Diperkosa
  • Liputan yang Mengeksploitasi Sensasi: Siswa SMP Dihamili Ayah Tiri
  • Korban Dipersalahkan, Pelaku Dibela: Sepakat Bermesum, Malah Dibalik Jadi Pemerkosaan
  • Disekap Karena Mengungkap Pembuatan Video porno
  • VCD Porno Meyuburkan Kekerasan Seksual
  • Dampak Pornografi: Balita Sangat Rentan Kekerasan Seksual
  • “Dua Sedjoli” (Ahmad Dhani, Dewa)
  • “Haram Baginya Wangi Syurga”
  • Aceh – Pemaksaan Penggunaan Jilbab
  • Pembenaran Dominasi dan Kekerasan terhadap Perempuan Melalui Ayat Kitab Suci
  • Hukum Agama Hanya untuk Istri?
  • Kekerasan oleh Pengasuh Majelis Taklim
  • Yesus sebagai Wahyu yang Hidup: “Yang Tidak Berdosa, Silahkan Melempar Batu Pertama…”
  • Ajaran Hindu – Gambaran Positif Tentang Perempuan
  • Pelaku Bekerjasama dengan Aparat
  • Ditekan untuk Mencabut Pengaduan
  • Perkosaan di Jila: Operasi Militer Disertai Kekerasan Seksual
  • Airmata Telah Terkuras
  • Perkosaan Massal dalam Peristiwa Mei 1998
  • Pengalaman Perempuan Korban: Dicurigai, Disiksa, dan Diperkosa di Pos Militer
  • Di Rumah Geudong: Korban Perempuan Disiksa dan Disetrum pada Alat Reproduksinya
  • Alat Reproduksi Sasaran Siksaan dan Ancaman pada Perempuan Korban Investigasi KPP HAM: Makian Diskriminatif dalam Kasus Abepura
  • Intimidasi Penggunaan Jilbab
  • Jugun Ianfu: Kasus Perbudakan Seksual dan Kekerasan
  • Kepentingan Perempuan Dinomorduakan dan Terabaikan

Terbitnya Permendikbud tentang kekerasan seksual terhadap perempuan di kampus, membuka kran baru terkuaknya kekerasan seksual di perguruan tinggi. Yang awalnya tertutup dan abu-abu sedikit demi sedikit terkuak. Ini baru di kampus, bagaimana dengan di tempat lain, instansi lain, lembaga lain, atau komunitas lain? Sepertinya kita harus mencari akar permasalahannya dengan segera. Semoga dengan momen Hari Anti Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Sedunia ini makin bertambah kesadaran kemanusian dan berkurang tingkat kekerasan seksual terhadap perempuan.

Berikut Buku Hari Anti Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Sedunia yang berjudul: Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan Indonesia Pdf.

Posting Komentar untuk "Hari Anti Kekerasan (Seksual) terhadap Perempuan Sedunia: Peta & Potret, Kekerasan Seksual"

  • Bagikan