Bibir Merah dari Alhambra: 5. Saya Tidak Gila! - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bibir Merah dari Alhambra: 5. Saya Tidak Gila!






Rose masuk rumah sakit jiwa. Ia tiba-tiba dijebloskan keluarganya di RS Mugi Waras. Ia berkali-kali menyatakan bahwa dirinya tidak gila. Sementara ia berpendirian kuat dan sangat yakin bahwa keluarganya yang gila karena telah memasukkannya ke rumah sakit jiwa.

“Sekali lagi, aku tidak GILA!”

“Apa buktinya kalau kamu sehat?”

“Mengapa kamu menanyakannya kepadaku? Harusnya kalian mencari bukti apakah semua keluargaku itu sehat? Lemah sekali otakmu!”

Rose diam sejenak kemudian melanjutkan.

“Kalau suatu hari nanti aku memilih bunuh diri, maka yang paling bertanggung jawab adalah keluargaku dan kalian karena aku yang tidak gila dianggap gila dan benar-benar menjadi gila dan memilih bunuh diri!”

“Jadi kamu merasa tidak gila?”

“Jadi kalian menganggapku gila? Sebenarnya kalian yang gila. Coba pikir pakai logika! Kalian sudah lama bergaul sama orang gila, maka pasti kalian juga gila. Sadari! Sadari! Siapa berteman sama siapa itu menjadi dalil yang tak terbantahkan. Mikir!”

Dokter dan perawat di rumah sakit jiwa itu akhirnya ikut mikir. Selama ini mereka merasa sehat dan menganggap orang yang masuk rumah sakit jiwa memang gila. Pernyataan Rose telah meragukan keyakinan mereka. Mereka mulai mengaca. Mulai menilai. Mulai mencurigai diri mereka sendiri.

Mereka kemudian melebihbanyakkan waktunya untuk mengobrol dengan Rose. Mereka mencari bukti-bukti yang membuat mereka yakin bahwa diri mereka sudah gila.

“Kalian menganggap kami orang gila padahal orang-orang yang kalian anggap gila tak satu pun saling menghakimi bahwa mereka sudah gila. Tak ada. Hanya kalian yang berani membenarkan diri bahwa kami orang gila dan kalian waras.”

Para dokter dan perawat rumah sakit jiwa itu mulai bimbang akan kewarasan diri nereka.  Apa iya?

“Apa masih pengen bukti lagi? Apa itu tidak cukup padahal itu adalah pernyataan yang prinsip?

“Iya kami butuh meyakinkan diri bahwa kamilah yang gila.”

Rose menghela nafas panjang dan membuang ke muka dokter itu.

“Mau bukti lagi? Sekarang dengar baik-baik. Hanya kalian orang-orang yang bodoh yang begitu saja percaya bahwa keluarga yang menjebloskanku ke sini dan menganggap aku gila kalian percayai. Analisa dan diagnosa yang kalian lakukan hanya untuk mempertebal keyakinan kalian kalau aku memang gila. Apakah itu bukan gila namanya?”

“Di dunia hukum ada prinsip Praduga Tak Bersalah. Pernah baca? Due process of law, Friedman, 1994. Pernah dengar?!

Dokter dan perawat rumah sakit jiwa itu hanya menggeleng.

“Wah, lemah sekali literasi kalian. Jika ada praduga tak bersalah, berarti ada praduga tak gila. Apa sudah kalian lakukan?”

Kembali dokter dan perawat rumah sakit jiwa itu menggeleng pasti.

Rose tertawa terbahak-bahak. Ia merasa senang berhadapan dengan orang-orang bodoh.

“Kalian melayani kami dengan berpura-pura gila. Mengikuti semua keinginan dan kebiasaan masing-masing dari kami agar mau makan dan minum obat. Kalau kalian sehat dan waras kalian tidak akan melakukan kegilaan itu. Apa itu tidak gila namanya?”

“Kami punya dunia yang bebas. Kami punya dunia bermain dan imajinasi sendiri. Sementara kalian memaksakan dunia standar kalian kepada kami. Kalian merasa bahwa dunia yang kalian cekokkan kepada kami merupakan kehidupan normal, sehat, dan bermartabat. Bodoh sekali orang yang memaksakan dunianya kepada orang lain. Apa itu tidak lebih gila?”

“Masih kurang bukti?” Bentak Rose.

“Kalian juga yang memerkosa kami dan memvonis kami bersalah. Pernyataan kami sebagai korban dianggap sebagai pernyataan orang gila dan batal secara hukum. Itu kejam saudara. Itu lebih gila lagi!”

“Ada seorang eksekutif muda kena tilang. Saat mau dirampas surat-surat dan kendaraannya, mereka pura-pura gila. Sebenarnya mereka gila, tapi bersikap seolah-olah sehat!”

Dokter dan perawat rumah sakit jiwa itu hanya menyimak tenang.

“Masih mau lagi? Jangan banyak-banyak minta bukti. Pergi sana menyendiri dan nilai diri kalian seperti apa sebenarnya!”

Dokter dan perawat rumah sakit jiwa itu kemudian pergi. Mereka menuju ke kamar-kamar pasien kemudian mengusirnya keluar dan menggantikan kamar mereka menjadi kamar dokter dan perawat yang harus mendapat penanganan khusus. Sementara Rose di rumah sakit jiwa itu bertindak sebagai kepala rumah sakit jiwa.



Dokter dan perawat di rumah sakit jiwa itu akhirnya ikut mikir. Selama ini mereka merasa sehat dan menganggap orang yang masuk rumah sakit jiwa memang gila. Pernyataan Rose telah meragukan keyakinan mereka. Mereka mulai mengaca. Mulai menilai. Mulai mencurigai dirinya.


Posting Komentar untuk "Bibir Merah dari Alhambra: 5. Saya Tidak Gila!"