Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bibir Merah dari Alhambra: 3. Mangapa Saya Dimasukkan ke Surga?

 




“Kau Kumasukkan dalam surgaKu karena engkau telah banyak menjadi saksi kebaikan semua orang. Setiap engkau menyaksikan manusia berbuat baik, engkau mengingatKu seakan-akan engkau memberitahuKu bahwa manusia ini dan itu telah berbuat baik.”

“Kedua, dosamu memang besar, tapi tidak seorang pun yang menjadi saksi atas semua dosamu. Aku suka dengan caramu mencintaiKu. Itu saja. Masuklah engkau ke surga dengan gembira! Selamat!”



Ketika Badrul ditakdirkan ke surga, ia tidak segera masuk. Ia masih repot mempertanyakan mengapa ia harus dimasukkan ke surga. “Mengapa saya? Mengapa? Siapa yang tidak bahagia dimasukkan Tuhan ke surga? Saya tahu bahwa semua atas kehendak Tuhan, tapi bolehkan saya mempertanyakan alasan Tuhan sebenarnya dengan takdir ini?”

Kalau orang lain pasti sudah berlari secepat mungkin meraih pintu surga, tidak akan serepot Badrul yang masih bertanya kepada Tuhan di luar pagar surga. Seorang bapak bermobil yang telah ia saksikan turun dari mobil mengejar seorang kakek kemudian menyalaminya dengan selipat uang, sudah melewati Badrul lebih dulu masuk surga dengan menepuk pundak Badrul.

Seorang nenek penjual sayur pagi-pagi, yang ia saksikan memberi makan beberapa kucing di jalan gang RT setiap hari, juga sudah melambaikan tangan dan tersenyum menuju surga. Seorang supir truk, bernama Ahmad yang menolong mengangkut Wida yang kemalaman pulang hingga ke rumahnya dengan selamat, juga sudah mengajak Badrul bergegas ke surga.

Si pemuda, yang sengaja berhenti berkendara, menolong seekor burung yang baru tertabrak mobil, bulunya berserakan. Burung itu masih bergerak-gerak, masih hidup. Pemuda itu memberinya minum, merebahkannya di tepian sungai di bawah teduhnya pohon asam. Pemuda itu juga sudah melesat ke surga.

Seorang ibu, penjual bakso, yang seharian menjaga jualannya dari siang hingga larut malam sambil menangis, yang bercita-cita besar pergi haji, juga sudah melambai dari jendela surga. Ia banyak tersenyum. Tangannya melambai ke arah Badrul untuk segera masuk. Seorang pelacur, yang memberi minum anjing jalanan yang kehausan pun sudah menuju pintu surga.

Badrul masih menunggu jawaban Tuhan. Ia bukan tidak bahagia, ia bukan orang yang ingkar syukur, ia hanya merasa curiga saja. Badrul tak sedetik pun berpikir bahwa amalan dapat membawanya ke surga atau neraka. Ia meyakini bahwa hanya ridha Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Tak ada satu pun amalnya yang bisa dipamerkan di hadapan Tuhan, kecuali dosa-dosanya yang menggunung menutupi keseluruhan wujudnya. Badrul juga tak bermaksud tidak sopan di hadapan Tuhan dengan bertanya demikian. Ia hanya penasaran, mengapa Tuhan menakdirkannya masuk surga.

Tuhan belum menjawab pertanyaan Badrul. Tuhan masih memperhatikan Badrul dengan kasih sayangNya. Seperti kasih sayang seorang ibu menghadapi anak nakal. Tuhan tentu tidak akan bertanya balik mengapa Badrul mempertanyakan kekuasaanNya. Tuhan hanya memberi waktu kepada Badrul berada di posisi perasaan senang dan takut agak lama. Senang karena ditakdirkan masuk surga, dan takut ketika harus mengalami neraka. Badrul berada di posisi sifat Rahman dan MurkaNya.

Badrul menunggu jawaban. Dalam hatinya ia sebenarnya merasa asyik bersama Tuhan. Berhadapan bersama Tuhan, memandang wajahNya. Kenikmatan yang tiada tara bahagianya. Tak ada kebahagiaan lain di masa depannya selain memandang wajahNya. Tak ada cita-cita lain dalam benaknya selain itu. Tak masalah Tuhan akan menjawab pertanyaannya kapan, seribu hari tidak masalah. Satu hari dunia berbanding satu tahun di tempatnya berdiri, malah lebih asyik, lebih bahagia, pikirnya.

Seratus hari kemudian, Tuhan pun menjawab pertanyaan Badrul. Baginya seratus hari itu merupakan bonus dari hadiah surga yang ditakdirkan untuknya. Tidak semua orang bernasib mujur sepertinya. Walaupun memang ada yang ditakdirkan tidak di surga dan neraka, tapi bersamaNya, di sisiNya, Badrul sudah merasa bernasib sangat baik seratus hari bersamaNya.

“Badrul!”

“Iya Tuhan, mengapa?”

“Kau Kumasukkan dalam surgaKu karena engkau telah banyak menjadi saksi kebaikan semua orang. Setiap engkau menyaksikan manusia berbuat baik, engkau mengingatKu, seakan-akan engkau memberitahuKu bahwa manusia ini dan itu telah berbuat baik.”

“Kedua, dosamu memang besar, tapi tidak seorang pun yang menjadi saksi atas semua dosamu. Aku suka dengan caramu mencintaiKu. Itu saja. Masuklah engkau ke surga dengan gembira! Selamat!”

“Terimakasih, Tuhan!”

Badrul pun melesat seperti kilat melewati gerbang menuju pintu utama surga. Senyumnya menjadi bintang-bintang di langit surga.

     

Baginya seratus hari itu merupakan bonus dari hadiah surga yang ditakdirkan untuknya. Tidak semua orang bernasib mujur sepertinya. Walaupun memang ada yang ditakdirkan tidak di surga dan neraka, tapi bersamaNya, di  sisiNya, Badrul sudah merasa bernasib sangat baik seratus hari bersamaNya.

 

 

 

 

Badrul masih menunggu jawaban Tuhan. Ia bukan tidak bahagia, ia bukan orang yang ingkar syukur, ia hanya merasa curiga saja. Badrul tak sedetik pun berpikir bahwa amalan dapat membawanya ke surga atau neraka. Ia meyakini bahwa hanya ridha Tuhanlah yang menentukan takdirnya.



Posting Komentar untuk "Bibir Merah dari Alhambra: 3. Mangapa Saya Dimasukkan ke Surga?"