Bibir Merah dari Alhambra: 2. Sadria Dan Merah Putih - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bibir Merah dari Alhambra: 2. Sadria Dan Merah Putih





“Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita adalah untuk keceriaan anak-anak. Memperingati hari kemerdekaan dengan menaikkan bendera satu tiang penuh merupakan penghargaan terbesar bangsa bagi para pejuang. Mengadakan lomba-lomba menyemarakkan hari kemerdekaan adalah untuk membeli keceriaan anak-anak. Senyuman mereka dapat membayar kontan kebahagiaan para pejuang! Merdeka!”




Nasionalisme itu tidak serta merta ada dalam dada manusia suatu bangsa. Nasionalisme itu tidak begitu saja dicetak seperti gambar kemudian dimasukkan ke dalam dada.

Nasionalisme itu akhlak bukan benda. Akhlak itu tumbuh dari dalam ke luar diri. Atribut bukan satu-satunya indikator bahwa seseorang bisa disebut memiliki nasionalisme.  Memiliki bermacam-macam atribut nasional bukan berarti seseorang telah terdarahdaging rasa kebangsaannya. Nasionalisme itu diwariskan dari darah seorang pahlawan.

Jadi seseorang yang nasionalis tulen sebenarnya telah memiliki gen seorang pahlawan. Darah itu mengalir deras berkobar-kobar seperti berkibarnya bendera tertiup angin, begitu menurut seseorang yang akan disebut kemudian.

Sebut saja namanya Sadria. Ia seorang laki-laki dan juga perempuan. Ia seorang ayah dan sekaligus ibu. Ia seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Orang menyebutnya sebagai orang yang lupa meletakkan akal alias gila, tapi menurut Sadria dialah orang yang paling sadar di tengah-tengah kegalauan kebangsaan negerinya. Di lengan setiap bajunya selalu tertempel bendera kecil merah putih. Di bagian dada kiri bajunya juga selalu ada lambang garuda. Dialah yang dianggap gila ketika tepat 17 Agustus melempar petasan di rumah orang yang tidak memasang bendera merah putih. Dialah yang tertangkap polisi dan tentara, tetapi selalu dilepaskan karena alasannya tepat membela nasionalisme.

Bagi sebagian orang nasionalisme itu bid’ah dan bahkan haram. Memasang bendera dan menghormatnya dianggap menyembah berhala padahal di zaman kenabian tidak ada berhala yang berbentuk bendera. Yang ada hanya bentuk patung-patung dan gambar-gambar.

Sadria juga sering marah-marah ketika seorang bocah mengikatkan hasduk Pramuka secara tidak benar. Ada yang mengikat hasduk di kepala, ada yang mengalungkannya dengan tidak benar, ada pula yang hanya menyaungkannya seperti handuk. Bendera bagi Sadria adalah pusaka suci suatu negara yang kedudukannya lebih suci daripada koruptor yang telah berwudhu.

Sadria pernah menyerang leher seseorang dan menanyakannya dengan tegas mengapa orang itu tidak menaikkan bendera merah putih saat 17 Agustus. Apakah itu sesuatu yang berat dari memanggul senapan? Apakah memasang bendera lebih sulit daripada merangkak di bawah desing peluru penjajah? Apakah menghormat bendera lebih stress daripada ditodongkan pistol di kepala? Orang itu tidak mampu menjawab karena pingsan. Lagi-lagi Sadria berhadapan dengan aparat dan kembali lolos dengan alasan yang tepat.

Tiap peringatan hari kemerdekaan, Sadria seperti seorang pengawas lapangan. Ia berkeliling perumahan kampung. Kepalanya tolah-toleh kiri dan kanan. Impian Sadria semua rumah menaikkan bendera merah putih. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum dan tenang.

Entah terpaksa atau tidak, beberapa warga yang biasanya tidak pernah memasang bendera, akhirnya juga menaikkan bendera. Sepanjang jalan berkibaran merah putih. Sadria merasa kibaran bendera itu seperti lambaian dan senyuman sang bapak yang pernah berjuang dan mati untuk negara. Itulah yang ia minta, hadiah kecil dari bangsa yang tidak lagi berjuang untuk kemerdekaan. Hadiah kecil berupa kibaran bendera walaupun hanya sekali setahun.

Andai tidak ada Sadria di kampung itu, mungkin sudah tidak pernah lagi terlihat bendera berkibar. Tidak ada Sadria berarti tidak ada anak-anak mengikuti lomba-lomba pesta kemerdekaan.

“Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita adalah untuk keceriaan anak-anak. Memperingati hari kemerdekaan dengan menaikkan bendera satu tiang penuh merupakan penghargaan terbesar bangsa bagi para pejuang. Mengadakan lomba-lomba menyemarakkan hari kemerdekaan adalah untuk membeli keceriaan anak-anak. Senyuman mereka dapat membayar kontan kebahagiaan para pejuang! Merdeka!” Begitu salah satu cuplikan pidato Sadria ketika ditunjuk sebagai inspektur upacara hari kemerdekaan suatu waktu.

Sadria pun akhirnya meninggal. Sebagai bentuk penghargaan kampung kepadanya telah dibangun satu tiang bendera besar dan tinggi. Tiap 17 Agustus berkibar merah putih raksasa. Di bawah kibaran merah putih, terbujur kuburan Sadria dengan batu nisan bertuliskan Cucu Seorang Pejuang.

Setahun kemudian.

Kembali ada seseorang yang oprak-oprak agar warga memasang bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan. Seseorang itu mirip sekali dengan Sadria. Tidak hanya bentuknya, tapi wajahnya juga wajah Sadria. Apakah Sadria hidup lagi? Ataukah rasa kebangsaan itu yang harus dihidupkan lagi?



Posting Komentar untuk "Bibir Merah dari Alhambra: 2. Sadria Dan Merah Putih"