Bibir Merah dari Alhambra: 1. Bibir Merah dari Alhambra - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bibir Merah dari Alhambra: 1. Bibir Merah dari Alhambra




Pengantar Penulis

Ada banyak hal yang kadang luput dari perhatian. Bukan tidak peduli, tapi kadang merasa terepotkan dan menganggapnya itu suatu hal yang remeh. Hal-hal yang terlewati tersebut ternyata sebagian besar sangat bermakna jika direkam dengan baik sebagai bahan komtemplasi diri. Sebenarnya bukan tugas utama penulis untuk merekamnya, hanya saja penulis lebih banyak kesempatan untuk mengabadikannya dengan baik.

Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak dengan sia-sia. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi di hadapan kita bukan tidak mustahil adalah hal-hal yang sebenarnya penting dan kadang justru menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering membuat gelisah.

Ternyata, alam semesta yang melingkupi manusia adalah medan kosmik. Kosmik dari gelombang berbagai informasi gratis yang tak terbatas kuotanya. Tebaran informasi tersebut sengaja Tuhan hampar luas untuk memenuhi kebutuhan manusia. Yang diperlukan hanya antena penerima pada frekuensi yang tepat untuk mengunduh apapun informasi yang diinginkan. Dan, antena tersebut ada di bawah ubun-ubun kita.

Sepuluh cerita yang ada dalam antologi ini merupakan potongan kejadian yang penulis kemas dengan baik. Puzle-puzle kehidupan yang ketika dibingkai dengan tepat menjadi sajian menarik yang menghibur sekaligus bermakna.

Selamat membaca, selamat mengarungi samudera kosmik, dan selamat merasakan sesuatu. Salam literasi.



Bibir Merah dari Alhambra



Ia duduk d tepi laut bersama naskah-naskah novelnya. Ia sudah membaca ulang berkali-kali. Ia merasa hebat dengan karyanya, tapi tak satupun penerbit yang mau mencetak novelnya. Karena hatinya kesal, dilemparnya naskah itu ke laut. Ia merasa sedikit lega. Ia merasa membuang tumpukan sampah.

Semua orang mencibir karya-karyanya. Memang lebih tepat jika ia melemparnya ke laut dan mengutuknya. Dalam benaknya ia berharap, laut akan melumatnya, menghancurkannya, dan mengosongkan tulisannya.

Ia merasa nasibnya seperti penulis dalam film Dead in a Week Or Your Money Back yang diperankan oleh Aneurin Barnard. Dalam film itu dikisahkan ia seorang penulis yang buruk karena karyanya tidak laku pada penerbit mana pun. Ia berusaha bunuh diri berkali-kali. Dari tujuh kali kegagalan usaha bunuh dirinya, ia akhirnya menyewa seorang pembunuh bayaran. Lagi-lagi ia selamat. Ia diam sejenak merarapi nasib penulis dalam film itu dan sekaligus meratapi nasib dirinya.

Tapi, ombak membawa naskah-naskahnya kembali tepat di ujung kakinya. Ia terpana. Kemudian dengan segenap amarah yang lebih dahsyat, ia lebih kuat melemparnya ke tengah laut. Seolah-olah ia melemparnya ke tengah samudera. Ia kembali duduk mengatur napas yang tersengal-sengal. Lagi-lagi naskah itu kembali ke ujung kakinya.

Ia hanya memandangi tak berniat mengambil apa yang telah dibuangnya. Naskah itu menurutnya seperti buang hajat. Sudah sepantasnya dibuang ke laut. Siapa juga yang mau menikmati buang hajatnya.

Satu per satu naskah novelnya merapat ke ujung kakinya. Mula-mula yang berjudul Di Balik Bibir Merahmu, kemudian berturut-turut naskah yang lain. Yang berjudul bibir itu yang paling dekat jangkauannya, menyundul-nyundul ujung jari kakinya. Ia hanya memandanginya tanpa ekspresi. Juga masih tak berniat dan beranjak memungutnya.

Dari arah matahari ada sosok perempuan berambut panjang dan pirang berjalan ke arahnya. Ia berpikir mungkin hanya melintas begitu saja. Kaki perempuan itu telanjang dengan sesekali menendang-nendang gundukan pasir.

Rambut pirang itu berkibaran seperti melambai memohon disambut. Lelaki yang di ujung kakinya ada cerita tentang rahasia bibir kembali membuang pandangannya ke arah laut. Tak terasa perempuan berambut pirang telah sampai tepat beberapa jengkal dari tempat duduknya menyapa.

"Hai, sedang apa? Dan mengapa dengan kertas-kertas itu?" Perempuan itu menyapanya dengan bahasa Inggris logat Amerika. Ia paham. Ia menjawabnya dengan kata singkat "Tidak apa."

Perempuan itu mengernyitkan keningnya dengan tetap sambil tersenyum ramah. Tapi, pemuda itu tak sempat melihat senyum di bibir si pirang itu. Ia kembali ke gulungan ombak kecil di bibir pantai yang menyeret naskah-naskahnya.


"Bolehkah saya memeriksanya?"

"Terserah."

Perempuan pirang itu memungut satu naskah yang paling dekat dengan kaki pemuda itu.

"Apa artinya ini?"

"Di Balik Bibir Merahmu."

"Wow, dari judul saja aku sudah ingin menamatkannya."

"Terserah."

"Bolehkah aku memilikinya sebagai kenang-kenangan. Karena hari ini hari terakhir liburanku. Besok pagi aku sudah harus kembali ke Alhambra."

"Alhambra? Bukankah itu Spanyol? Bukankah itu peradaban kerajaan Andalusia?" Untuk pertama kalinya pemuda itu menatap perempuan berambut pirang itu dengan wajah bersinar seperti seorang pangeran.

"Yah, kamu betul sekali. Pernah ke sana?"

"Tidak, itu cuma mimpi!"

"Kalau sudah bisa memimpikannya, pasti akan ke sana beneran!"

"Tak mungkin!"

"Mengapa? Bisa jadi aku mengundangmu ke tanah airku asal kamu mau menghadiahiku naskah ini!"

"Ambil saja, tak ada yang mau membacanya di negaraku!"

"Serius?"

"Yah, ambil saja! Dengan syarat, sebelum kita berpisah ajari aku beberapa kata dalam bahasamu. Bukan bahasa Inggris!"

"Deal. Bila suatu hari aku mengundangmu ke Alhambra, kamu harus datang ya!"

"Ah, terserahlah."

"Apa yang ingin kamu pelajari dari bahasaku?"

"Buka halaman pertama. Aku akan menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Terjemahkan pada paragraf pertama saja. Tuliskan dan ajari aku mengucapkannya. Itu saja!"

"Deal."

"Mari sini kuterjemahkan!"

"Ok."

Hanya dengan berbekal memandang bibir merahmu sekali itu saja, sudah cukup membuatku melanjutkan hidup. Mawar paling rona tak seindah bibirmu. Pelangi paling menipu juga tak selihai bibirmu. Anggur termerah pun tak semabuk mengecup bibirmu dalam mimpi. Aku takluk pada merah di bibirmu.

Lelaki itu membacakannya dalam bahasa Inggris. Kemudian diterjemahkanlah paragraf tersebut menjadi: Me siento capaz de seguir viviendo solo armado mirando tus labios rojos, solo esa vez. Ya sabes, las rosas más ruborizadas no son tan hermosas como tus labios. El arco iris más engañoso no es tan inteligente como tus labios. Incluso el vino más rojo no está tan borracho como besar tus labios en un sueño. Estoy abajo en tus labios rojos."Begitu. Wow, indah tapi sedikit mengerikan!"

"Apalah apalah."

Perempuan pirang itu tampak membacanya beberapa kali dengan setengah berbisik. Ia benar-benar terkesima dengan paragraf pembuka novel itu. Kemudian, ia mengajari lelaki itu cara baca dan mengucapkannya. Lelaki itu menatap dalam-dalam ke bibir perempuan berambut pirang. Ia merasa sangat kenal dengan bibir itu. Ia merasa pernah menemukannya di masa yang lalu. Bibir yang masih membuatnya bertahan melanjutkan kehidupan. Pikirannya jauh mundur ke sembilan tahun yang lalu.

"Hey, mengapa memandang bibirku seperti itu?"

"Maaf. Bibir dalam naskah itu sangat mirip dengan bibirmu! Maaf."

"Oke, tidak apa."

“Siapa namanya?”

“Olivia!”

“Itu pemilik bibir dalam novelmu?”

Pemuda itu tak menjawab.

"Siapa namamu?" tanyanya kemudian.

"Oiya, sampai tidak sempat berkenalan."

"Namaku, Kelana Nugraha."

"Jadi ini nama asli di novelmu?"

"Iya, aku tak menggunakan nama pena selain namaku sendiri!"

"Namaku Alissya Belicia. Biasa dipanggil Izzi."

Mereka saling menjabat tangan. “Hai, Izzi!”

“Hai, Kelana!”

"Terimakasih. Ternyata Tuhan masih menakdirkanku bertemu bibir itu untuk kedua kalinya. Aku rela mati untuk itu."

"Ah, jangan terlalu memuji. Ok, aku harus segera kembali ke hotel sebelum makan malam. Besok aku harus kembali ke Alhambra. Naskahmu aku bawa ya. Sampai jumpa Kelana!"

"Baiklah Izzi. Sampai jumpa!"

Kelana menatap lekat ke arah menjauh Izzi dari pandangannya. Sesekali Izzi menoleh dengan senyum seindah matahari. Rambut pirangnya akan menjadi kobaran semangat hidupnya yang baru. Bibir merahnya akan menjadi harapan dan sekaligus kerelaannya mati dalam keindahan itu. Keindahan ciptaan Tuhan yang tak pernah ada duanya.

Kelana terus melanjutkan hidup seperti biasa, sebagai seorang penulis. Ia kembali menekuri kata demi kata dan mengolahnya menjadi sajian karya fiksi yang menurutnya bisa menakjubkan siapa pun yang membacanya.

Hari bersambungan hari, bulan demi bulan pun bergerak. Waktu terasa sangat cepat, tapi kadang terasa sangat lamban. Tak ada kabar lagi tentang Alissya Belicia. Tak ada kabar tentang bibir merah yang indah itu. Tak ada kabar dari pemilik rambut pirang itu. Pertemuannya sama saja dengan mimpi. Sama dengan busa di pantai waktu itu. Sama dengan bangun tidur. Mimpi yang takkan pernah nyata.

Sungguh tak disangka-sangka, pada bulan ketiga setelah pertemuan dengan Izzi, Kelana mendapatkan undangan terbang ke Spanyol melalui surel. Dalam surel tersebut, Izzi mengundangnya pada acara Peluncuran Novel Labios Rojos De La Alhambra. Terlampir pula tiket pesawat pergi. Yah, hanya pergi.

Mendadak wajah Kelana yang pucat menjadi memerah penuh semangat. Matanya jadi cemerlang bak bintang. Aliran darahnya terasa deras sekali. Jantung Kelana pun tak berdegub melemah seperti biasanya. Besok ia harus sudah terbang ke Alhambra, bekas kerajaan Andalusia, di kota Granada, Spanyol.

Pada badan surel, Izzi tidak menjelaskan apa-apa. Hanya meminta Kelana sesuai janji Izzi dulu mengundangnya ke Alhambra untuk peluncuran sebuah novel. Tidak apa, paling tidak bisa jalan-jalan gratis ke Spanyol, pikirnya. Bertemu kembali dengan bibir merah itu untuk ketiga kalinya. Ia cek harga tiket pesawat ke Granada. Ia terkaget-kaget ternyata berkisar duapuluhan juta rupiah. Harga yang fantastis. Hadiah pertemanan yang istimewa. Waktu tempuh terbang tak kurang dari duapuluh lima jam.

Sepanjang perjalanan, Kelana menghiasi hari dengan senyuman. Senyuman yang belum pernah dibuatnya. Senyum yang tak pernah selebar dan setulus hari itu. Ia telah mempersiapkan segala keperluannya dengan teliti termasuk hadiah kecil untuk Izzi sehelai batik khas keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Walaupun harganya tidak semahal harga tiket, ia yakin Izzi akan menyukainya. Puluhan jam perjalanan tak terasa lama bagi Kelana. Sampailah ia di bandara Federico García Lorca. Di pintu keluar bandara, matanya langsung menemukan tujuannya, bibir merah itu. Izzi menjunjung kertas bertuliskan ‘Kelana Nugraha, Indonesia’ sambil menebar pandangan, tapi Kelana telah menemukannya lebih dulu.

Mereka berpelukan, membunuh rindu masing-masing. Dalam perjalanan ke tempat acara, Museo de la Alhambra, Izzi menyerahkan satu novel yang ia sebutkan pada surel. Ia bercerita bahwa novel berjudul Labios Rojos De La Alhambra yang akan diluncurkan siang itu adalah karya Kelana Nugraha. Kelana membaca nama penulis pada sampul novel itu sebuah nama yang tak asing baginya, namanya sendiri. Sungguh, Kelana sangat terkejut dengan hadiah yang luar biasa dan istimewa dari Izzi. Senyumnya makin lebar dan bersinar.

Pada acara peluncuran, Izzi memberikan sambutan kepada para pengunjung. Ia mengenalkan bahwa Kelana Nugraha adalah penulis novel Labios Rojos De La Alhambra sementara Izzi hanya sebagai editor dan penerjemahnya ke dalam bahasa Spanyol. Izzi tak henti-henti menyanjung Kelana. Izzi juga sedikit membeberkan awal pertemuannya di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, ketika Kelana membuang semua novelnya ke laut karena dianggapnya tidak layak baca. Ternyata buku itu menjadi best seller di Granada dan tercetak habis sepuluh ribu eksemplar. Wow!

“Felicidades!”

“Gracias, Izzi!”

“De nada, Kelana!”

Dua tahun kemudian, setelah acara peluncuran novel itu, Izzi dan Kelana menikah di Yogyakarta.



Posting Komentar untuk "Bibir Merah dari Alhambra: 1. Bibir Merah dari Alhambra"