Polisi Tidur dan Klakson - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Polisi Tidur dan Klakson

 




Beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa Grab motor untuk mengantar saya ke terminal. Tujuan berikutnya ke luar kota. Dalam perjalanan si tukang ojol (ojek online) memulai pembicaraan dengan menanyakan tujuan saya ke mana. Lebih lanjut obrolan tersebut meruncing terutama ketika melewati hamparan polisi tidur. Begitu banyak polisi tidur yang kami lewati.

Kemudian ia bertanya: "Saya sebenarnya bingung mengapa ada banyak polisi tidur dibuat? Bukankah pemerintah membangun jalan raya ini agar lancar, selamat, dan aman?" 

Sejenak saya membuat jeda tidak langsung meresponnya. Kemudian saya mengomporinya dengan mengatakan bukankah tidak semua orang mengebut? Bukankah ada aturannya membuat polisi tidur yang aman dan menyelamatkan? Kemudian saya menyolotnya lagi dengan mengatakan: jangan-jangan warga yang membuat polisi tidur itu memang hatinya tidak suka jika orang lewat di jalannya dengan nyaman, aman, dan selamat?

Si tukang ojol membenarkan pernyataan saya. Iya benar, sepertinya warga terkesan tidak suka orang lain bahagia. Hahaha. Saya berhasil mengomporinya. Sebenarnya saya ingin tahu seberapa besar kepeduliannya terhadap berkendara nyaman, aman, dan selamat. Kemudian saya melanjutkan dengan mengatakan: sepertinya belum ada penelitian yang membahas dampak polisi tidur yang tidak standar terhadap kesehatan. Seandainya ada hasil yang mengejutkan bahwa polisi tidur yang tidak standar dapat menyebabkan perut turun, gagal ginjal, keguguran, dan sebagainya pasti akan mereka bongkar. Atau semisal ada denda dan peringatan keras terhadap pembuat polisi tidur yang tidak standar, mereka juga pasti akan membongkarnya.

Iya ya, katanya padahal mereka, si pembuat polisi tidur tiap hari bersusah payah melewatinya. Bukankah merugikan setidaknya kampas rem kendaraan, ban, dan ketidaknyamanan badan?

Entahlah ya. Saya juga berpikir demikian. Mungkin juga polisi tidur juga menjadi ciri bangsa Indonesia. Saya dan dia kemudian terbahak-bahak. Ciri manusia Indonesia yang pernah ditulis oleh Muchtar Lubis perlu ditambahi bahwa manusia Indonesia paling suka menyulitkan orang lain dengan membuat polisi tidur. Kembali kami tertawa .

Dan satu lagi, kata si tukang ojol. Mungkin bisa ditambahkan yaitu ciri manusia Indonesia suka membunyikan klakson yang tidak penting. Masih jauh saja sudah klakson. Belum lampu hijau, sudah klakson, ada pengendara di depannya sudah klason. Sepertinya manusia Indonesia suka mencet-mencet. Hahahaha.

Posting Komentar untuk "Polisi Tidur dan Klakson"

  • Bagikan