Pendekar Pedang Angin Sukma (Part 1) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendekar Pedang Angin Sukma (Part 1)




 

Bagian 1 NASTITI

 

“Pedang Perak Sakti untuk menebas kaki lawan, Pedang Baja Kusuma untuk memotong leher musuh, Pedang Emas Dewa untuk membunuh nafsu sepasukan musuh, sedangkan pedang yang lebih kuat daripada semua itu adalah Pedang Angin Sukma. Carilah pedang angin tersebut ke arah sumber angin di musim kemarau pada terbelahnya bulan karena dengan pedang tersebut seluruh musuh seberapa pun banyak akan tunduk tanpa perlawanan.”

(Kakek Guru)

 

Itulah pesan kakek guru sebelum meninggal dan mewariskan Pedang Emas Kusuma kepada Akasya. Sang kakek hanya berhasil mencapai tingkatan ilmu pedang tingkat pedang emas. Dengan tingkatan pedang emas, si kakek guru menjadi tak terkalahkan hingga akhir hayatnya. Pesan terakhirnya kepada Akasya sebagai peringatan bahwa di atas langit ada langit. Jika kakek gurunya adalah pendekar pedang tak terkalahkan di masanya, pasti suatu ketika ada yang lebih sakti yang dapat mematahkan ilmu. Oleh karena itu si kakek berwasiat kepada Akasya.

 Dengan dasar wasiat itulah Akasya memulai pengembaraannya dari ujung Timur negara ke ujung Barat. Menjelajah wilayah demi wilayah, daratan demi daratan, melintasi laut dan sungai, bahkan merambah ke hutan-hutan. Wasiat sang kakek ia ingat dengan baik termasuk petunjuk arah yang harus Akasya jalani.

Akasya meninggalkan padepokan Atas Angin setelah menguburkan jenazah kakek guru. Ia tak merasa beban meninggalkannya karena murid kakek guru hanya ia seorang. Yang berat baginya adalah tautan hati antara dirinya dengan sang guru, tapi dengan ketabahan yang cukup ia beranikan melangkah menjauh dari padepokan Atas Angin.

“Maka kini kamulah satu-satunya pewaris pedang emas, Nak. Kelak ketika kamu turun dari padepokan ini, ingat akan banyak orang yang akan menguji ilmumu. Terutama para murid dari seperguruan kakek yakni pemilik Pedang Perak Sakti dan Pedang Baja Kusuma. Mereka semua akan menguji kemahiranmu mengayunkan pedang ini.” Akasya teringat pesan kakek guru.

Ia tiba di desa Kroya, dua hari perjalanan darat. Ia berniat mampir dan bermalam barang sehari di sana. Pedang emasnya ia simpan rapi sehingga tidak menyita perhatian masyarakat desa.

“Tujuh bulan perjalanan darat dengan berjalan kaki ke arah Timur, kamu akan menemukan guru pedang angin yang tak punya murid satu pun. Ia tinggal di sebuah gua terpencil dan tersembunyi bahkan dari binatang buas. Uluklah salam begini ‘Salam emas kepada angin,’ maka beliau tahu bahwa kamu bertamu kepadanya.” Akasya mengingat semua pesan kakek guru.

Mengapa ia memanggil kakek guru? Ayah Akasyalah yang sebenarnya murid asli kakek guru. Nama kakek guru sebenarnya adalah Ronggosuto. Ayah Akasya terbunuh oleh pendekar pedang baja, termasuk isterinya. Jadilah Akasya bernasib yatim piatu ketika itu. Kemudian diasuhlah Akasya sebagai anak juga sebagai murid menggantikan sang ayah. Sejak itulah Akasya memanggil Ronggosuto sebagai kakek guru.

 

Setelah turun dari tempat tinggalnya selama ini, yakni lereng gunung Karang, setelah perjalanan yang melelahkan sampailah Akasya di Desa Jasinga.  Sebuah desa yang padat penghuninya. Tanahnya subur. Sebagaian besar tanahnya adalah persawahan dan perkebunan. Penghasilan terbesar Desa Kroya adalah padi dan jagung sedangkan hasil hutan dan kebun berupa kopi, cengkeh, dan durian.

Akasya dengan cermat memperhatikan seluk-beluk Kroya yang kasat mata. Sebagai orang baru, pengunjung desa itu, ia harus berhati-hati. Melalui seorang pedagang, ia menemukan tempat menginap di rumah warga. Menurutnya murah meriah sebagai tempat rehat yang nyaman. Ia tinggal sementara di rumah Nyi Ambar, seorang janda. Akasya diperlakukan dengan baik layaknya keluarga sendiri.

Yang semula sehari menginap, karena merasa kerasan, Akasya menambah semalam lagi untuk menginap di rumah Nyi Ambar. Yang membuatnya terkesan adalah keramah-tamahan warga desa kepada orang baru. Berbahasa santun dan bersedia bertegur sapa lebih dulu.

Di rumah Nyi Ambar, Akasya bertemu dengan seorang gadis, puteri Nyai Ambar satu-satunya. Ia bernama Nastiti. Masih muda dan lajang. Itulah alasan utama Akasya memperpanjang masa menginapnya di rumah itu. Padmilah yang menyiapkan makan minum serta memanggil Akasya untuk ikut makan bersama dengan Nyi Ambar.

“Kakanda Akasya berasal dari mana?” Tanya Nastiti.

“Saya berasal dari Barat Nyai,” jawab Akasya.

“Ah, jangan panggil saya nyai, saya masih lajang. Panggil saja Nastiti!”

“Oiya, maaf. Baiklah!”

“Baiklah apa?”

“Iya, Nastiti!”

“Tidak pakai adindikah?”

“Oiya, Dinda Nastiti!”

Nastiti tampak memerah pipinya. Begitu pula dengan Akasya, dirinya merasa seperti manusia bodoh.

Malam itu Nastiti dan Akasya menikmati makan malam terakhir karena esok Akasya sudah harus melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Nastiti tak ingin Akasya bergegas istirahat, ia menahannya dengan duduk dan berbincang di bibir kolam ikan lele di depan rumah. Nastiti juga seperti sedang menahan waktu agar melambat. Dalam hatinya ia tak ingin Akasya pergi.

“Kakanda….”

“Iya.”

“Di tempat asal Kakanda ada apa saja yang menarik?”

“Di tempatku tidak ada apa-apa yang bisa menarik hatimu.”

“Iya ada apa saja.”

“Hanya padepokan, gua, dan kuburan ayah dan bunda serta kakek.”

“Jadi Kakanda seorang diri?”

“Iya baru saja kakek juga meninggal.”

“Maaf.”

“Tidak apa Dinda.”

“Kalau semisal Kakanda diberi dua pilihan malam ini bagaimana?”

“Pilihan apa?”

“Pertama, Kakanda kuminta menetap di Kroya. Kedua, Kakanda mengijinkan saya ikut ke mana pun.”

“Wah, begitu ya.”

“Jawab, pilih mana!”

“Aku tetap memilih melaksanakan wasiat kakek!”

“Berart mengijinkan saya ikut dong!”

Tertawalah mereka sejenak. Bintang-bintang di langit bening seperti sedang tersenyum dengan kerlipan.

“Kakanda, bagaimana kalau dua pilihan itu serius?”

“Iya Kakanda juga serius harus menepati perintah terakhir kakek!”

“Terus Dinda?”

“Dinda di rumah saja sama Ibunda!”

Suasana hening sejenak. Nastiti dan Akasya diam.

“Perjalanan Kakanda bukan perjalanan tamasya Dinda. Perjalanan yang penuh bahaya.”

“O, jadi Dinda dianggap hanya beban dalam perjalanan?”

“Bukan begitu, tapi sungguh perjalanan ini penuh bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa.”

Kalau pun mati di pangkuanmu atau mati bersamamu sih tidak masalah. Salah siapa kamu tampan dan baik, batin Nastiti. Pipinya kembali memerah diintip bulan malam itu.

Sebenarnya Akasya juga memiliki perasaan yang sama terhadap Nastiti. Ia mulai suka. Dua malam itu benar-benar sangat berharga. Sungguh dalam hatinya berkecamuk. Apakah karena ia baru bertemu dengan perempuan cantik sehingga ia merasa jatuh cinta? Ia berpikir keras. Perasaannya harus diuji baik-baik sehingga memperoleh jawaban yang benar. Setidaknya jarak dan waktu akan mengasahnya.

“Setidaknya ada yang memperhatikan makan dan mencuci baju Kakanda dalam perjalanan. Dinda janji, tidak akan manja. Dinda terbiasa mandiri!”

“Maafkan Kakanda, Dinda. Begini saja, Kanda berjanji akan kembali setelah urusan Kakanda selesai. Janji!”


Bagian 2 dapat dibaca di sini:

https://www.cocokpedia.net/2021/10/pendekat-pedang-angin-sukma-part-2.html


Posting Komentar untuk "Pendekar Pedang Angin Sukma (Part 1)"