Pintu Kuning - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pintu Kuning

 


Rumah bercat hitam tepat di pojok kota itu berpintu kuning. Pintu kayu bercat kuning, seakan-akan mau menyedot masuk siapa pun yang memandangnya penuh hasrat.  Pintu itu tepat di sudut bangunan. Mencolok sekali. Pintu itu selalu tampak tersenyum menggoda. Terutama laki-laki.

 Setiap kali aku melintas, melewatinya, aku selalu tampak sepasang sepatu. Sepatu laki-laki dan perempuan. Setelah kembali dari keperluan dengan bersepeda kayuh, aku kembali melewati pintu kuning itu. Dan lagi-lagi sepasang sepatu tampak romantis, tapi dengan sepatu laki-laki yang berbeda dengan sebelumnya. Tidak sampai dua jam sepatu laki-laki itu telah berubah.

Mulanya sepatu laki-laki berwarna hitam jenis vantofel. Sekembaliku, telah berubah menjadi sepati sport bermerk terkenal warna putih dengan garis lengkung merah. Sungguh penasaran mengapa tiap kali aku melewati pintu kuning selalu saja sepatu laki-lakinya berubah bentuk dan warna. Apa yang pemilik sepatu itu kerjakan di dalam.

Rumah pojok dengan pintu kuning itu sangat tertutup. Tidak ada satu pun daun jendela untuk bisa mengintip. Hanya pintu kuning itu tempat udara dan orang dapat masuk dan selalu tertutup. Hanya terbuka saat seseorang pemilik sepatu laki-laki itu keluar atau pun masuk. Ketika pintu kuning terbuka, bersamaan dengan sosok lelaki keluar dengan senyum, asap rokok pun menyeruap keluar di antara bahu kekar lelaki bersepatu itu.

Di balik pintu kuning, ada selambu merah. Dari balik selambu merah, tampak selukis senyum dengan bibir sangat merah. Hanya senyum dan bibir itu yang bisa tampak dari luar selebihnya hanya seorang lelaki yang keluar. Pintu pun kemudian tertutup.

Di depan pintu kuning itu selalu ada terparkir mobil. Dari yang mewah hingga sepeda motor butut. Tak pernah sepi. Dan tentu hanya ada dua pasang sepatu. Mungkin dengan begitu seolah-olah sepatu itu menjadi tanda bahwa di balik pintu kuning itu ada tuan rumah dan seorang tamu lelaki. Tentu tuan rumahnya adalah seorang perempuan, pemilik senyum dan bibir sangat merah itu. Sesekali kadang tampak saat tirai selambu terkuat sedikit, beberapa jari lentik berkutek merah pula.

Sepertinya aku harus menamati dari awal hingga akhir. Jika awal aktivitas mereka dimulai pagi dan berakhir pagi lagi, ada baiknya aku mengikutinya dari jauh. Karena agenda memata-matai itu membutuhkan waktu lama, perlu beberapa perlengkapan tersedia. Keker, camilan, rokok, dan setermos kopi akan jadi teman yang bagus.

Pintu kuning itu lebih sakral ketika malam tiba. Ia ibarat black hole, sayangnya berwarna kuning. Siapa saja dapat terhipnotis untuk masuk tersedot ke dalamnya. Setelah tersedot, kemudian mereka keluar dalam keadaan lemas tapi bahagia.

Sepatu-sepatu dengan berbagai bentuk, warna, dan merk bergantian menempatkan diri di sebelah sepasang sepatu hitam berhak tinggi. Beberapa puntung rokok di sekitaran dua pasang sepatu juga beraneka merk. Sepasang tempat sampah hijau dan biru teronggok simetris seperti sepasang tuyul yang mengawal pintu kuning.

Dengan sengaja, ketika menjelang pagi, aku mendekati si paman pemungut sampah. Aku perhatikan isi sepasang tempat sampah yang dicurahkan ke gerobak sampah beroda. Tentu, hal yang pasti, sampahnya adalah balon-balon udara bening yang di dalamnya berisi cairan kental kekuningan, bungkus rokok, bertumpuk-tumpuk remasan tisyu, dan beberapa botol minuman bermerk tak umum.

Aku penasaran dengan pemilik sepasang sepatu berhak tinggi itu. Sudah tiga hari memantau penuh menanti keluarga pemilik sepasang sepatu berhak tinggi itu. Tepat hari kelima, keluarlah sepasang kaki indah dengan jemari kaki yang lentik berkuku dengan cat biru. Sepasang kaki itu mendarat di sepasang sepatu berhak tinggi. Sepasang sepatu hitam berhak tinggi sangat kontras dengan kulit kaki pemiliknya. Putih, bening, dan berkilau. Aku tidak ingin cepat-cepat menaikkan pandangan untuk melihat wajahnya. Cukuplah sekali itu berlega hati dengan menyaksikan sepasang kaki dan sepasang sepatu yang dikenakannya. Masih banyak waktu. Menyicil momen terindah sungguh sangat menggairahkan.

Tentu aku sangat penasaran, tapi kutahan sekuat-kuatnya untuk tidak terburu-buru memberi makan nafsuku memandang wajahnya. Suatu saat, pada akhir pemata-mataan, aku pasti melihat dengan jelas dan tajam wajah si pemilik sepasang sepatu berhak hitam itu. Tidak lagi sekedar melihat potongan sosoknya yang berupa sepasang kaki indahnya, sepasang tanganya yang berkutek merah, atau sesimpul senyum manis bibirnya itu, tapi aku bisa melihat sosoknya yang utuh. Kelak, ya kelak, ketika tiba waktunya.



Cerpen yang berhubungan dengan tema ini:

https://www.cocokpedia.net/2021/05/kok-tinggal-satu.html


Posting Komentar untuk "Pintu Kuning"

  • Bagikan