Terpaksa Nikah CEO Muda (1) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terpaksa Nikah CEO Muda (1)



Ini adalah momen terburuk dalam hidup Minah. Bagaimana tidak? Ia dijemput oleh kedua orang tuanya di sebuah pondok pesantren yang selama ini mendidiknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Minah sangat kerasan di lembaga tersebut. Ia masih memiliki keinginan untuk mondok lima tahun lagi. Ia ingin kuliah dan juga menyelesaikan hafalan Al-Qur'an yang selama ini ia perjuangkan. Karena itulah, begitu tahu bahwa kedatangan kedua orang tuanya ke pesantren adalah untuk meminta Minah pada pengasuh atau Kiai untuk berhenti, ia sangat shock.

"Bu, katakan ini bohong," ucap Minah dengan air mata yang ia tahan.

"Ibu harap kamu sabar ya. Hutang bapak ibu sudah banyak. Orang yang membantu ibu sudah tidak bisa menunggu lagi. Kami juga sudah malu untuk memperpanjang permintaan penangguhan pembayaran," ucap Maryam, ibu Minah. 

"Tapi, Bu. Mengapa selama ini bapak atau ibu tidak memberitahuku." Kristal bening yang selama ini ditahan akhirnya membasahi kedua mata Minah. 

"Kami tidak ingin membebani kamu, Nak." Maryam turut menangis dan memeluk Mina. "Maafkan Ibu dan Bapak ya, Nak."

"Sudah, diam. Kita sedang di angkot. Menangisnya di rumah saja. Lagipula kamu ini anak perempuan. Tidak perlu tinggi-tinggi sekolah. Toh, hidupmu nanti ditanggung suamimu nanti," ucap Harto, bapak Minah.

Tidak ada yang mengomentari ucapan Harto. Baik Maryam maupun Minah sudah paham betul watak Harto yang keras. Sekali dibantah akan panjang urusan. Karena itulah, keduanya lebih memilih diam. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah. 

"Pak, mobil siapa itu?" tanya Maryam. 

Harto sangat terkejut. Raut wajahnya terlihat tegang. Sepertinya ia mengenali pemilik mobil tersebut. Begitu mereka tiba di beranda rumah, dua orang lelaki bertubuh kekar sedang menunggu kedatangan mereka.

"Siapa kalian?" tanya Harto.

"Kami utusan Tuan Andika. Kami datang ke sini untuk menjemput Siti Aminah. Sesuai perjanjian, jika bulan ini kalian berdua tidak dapat melunasi hutang, maka putri kalian yang akan membayarnya."

Maryam sangat terkejut. Harto langsung melempar tas yang dipegangnya. Sementara Minah memeluk ibunya.

"Kalian bohong. Mana ada perjanjian seperti itu!" Harto tidak terima.

Salah satu kedua lelaki kekar itu mengeluarkan selembar kertas. Harto segera mengambilnya dan membacanya dengan seksama. Kertas itu berisi tentang surat perjanjian yang telah ditandatangani Harto bersama istrinya. Di sana tertulis jelas bahwa mereka akan menyerahkan putri mereka sebagai ganti jika mereka tidak mampu membayar hutang selama lima tahun. 

Lutut Harto terasa lemas. Ia menyesal telah membuat kesepakatan tanpa membacanya dengan teliti terlebih dahulu. Tapi kondisi saat itu sangat kritis. Ia dan istrinya tidak memiliki waktu untuk berpikir.

"Pak, apa yang mereka katakan benar?" Tanya Maryam.

Harto mengangguk. Setetes air mata membasahi wajahnya. Harto yang terkenal berwatak keras dan dingin kini terlihat mengalirkan air mata penuh penyesalan. 

"Maaf, kami tidak punya banyak waktu," ucap salah satu lelaki kekar. Ia menyeret paksa Minah ke dalam mobil.

"Minah!" teriak Maryam.

Harto bangkit dan berusaha melawan. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan mereka.

"Saya mohon. Tolong jangan bawa anak kami. Beri kami waktu, tahun depan kami pasti melunasinya." Harto menahan salah satu lelaki itu dan membuatnya tidak bisa masuk ke belakang kemudi. 

"Anda sadar, Tuan kami sudah terlalu baik kepada Anda." Lelaki itu menendang Harto lalu menutup pintu. 

"Pak!" teriak Maryam. 

Harto terjungkal dan tak sengaja kepalanya membentur batu dan berdarah. Tetapi beruntung lukanya tak seberapa. Melihat suaminya baik-baik saja, Maryam mengejar mobil yang membawa putri kesayangannya.

"Minah, anakku!" teriak Maryam. Tapi mobil itu sudah menjauh.

Di dalam mobil, Minah meronta sekuat tenaga. Hatinya hancur melihat ayah dan ibunya. 

"Lepaskan!" teriak Minah sambil terus meronta. Karena merasa terganggu, terpaksa salah satu lelaki itu membekap mulutnya dengan saputangan yang sudah diolesi obat bius. Minah pun pingsan tak sadarkan diri.

Di tempat lain, seorang pemuda tampan berwajah dingin baru saja selesai memimpin rapat. Ia telah memecat orang-orang yang telah merugikan perusahaan dan menggantinya dengan beberapa orang yang menurutnya lebih kompeten.

"Tuan, gadis itu sudah sampai di rumah Anda," lapor seorang sekretaris seksi ke dalam ruangannya.

"Berapa kali harus aku bilang, ketuk pintu sebelum masuk," ucap pemuda tersebut dengan tatapan tajam.

"Maaf, Tuan." Sekretaris itu menunduk sambil membenahi belahan baju di dadanya yang melorot turun. Siapapun akan terpana dengan kemolekan gadis itu. Apalagi dengan sikapnya yang terus menggoda. Tapi, gadis itu tidak sadar siapa yang dihadapinya kali ini. 

Pemuda itu meraih jas yang tadi ia lepas. Ia berjalan mendekat dan menarik baju tepat di tengah belahan dada sang sekretaris.

"Aku penasaran. Lalat mana saja yang hinggap di dadamu ini. Sayangnya, aku tidak suka bekas orang lain," ucap pemuda itu dengan nada datar namun menohok perasaan sekretaris di depannya.

"Tapi, Tuan..." Sekretaris itu menahan langkah pemuda itu dengan menahan lengannya.

Pemuda itu melirik tajam. "Sudah berapa kali aku bilang!" Bentaknya. "Aku tidak suka disentuh. Apalagi disentuh bekas ayahku. Kau mengerti!" Ucapnya penuh penekanan.

Sekretaris itu ketakutan. Ia melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Dalam hati, selama ini ia hanya mengincar pemuda itu. CEO sekaligus pemilik perusahaan besar itu. Namun sesuai desas desus yang beredar, sepertinya ia memang tidak mirip ayahnya. Almarhum ayahnya mudah digoda dan diambil uangnya. Sedangkan dia, seperti kutub Utara yang susah mencair. Tapi justru disitulah daya tarik besarnya. Semakin ia sulit didapatkan akan semakin mahal harganya, semakin tinggi nilainya dan semakin tinggi keinginan untuk memilikinya.

14 komentar untuk "Terpaksa Nikah CEO Muda (1)"

  • Bagikan