Uang Butuh Kita - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Uang Butuh Kita

 


Seorang teman, sebut saja namanya Nelongso, datang ke seorang teman bernama Subur. Ia bilang mau pinjam uang. Subur menjawab: ‘Maaf ya, belum ada. Aku mau beli mobil.” Dalam hati Nelongso berbicara: ‘katanya tidak punya uang, kok malah mau beli mobil?’ Apakah kebutuhan pinjam uangnya sebesar harga mobil?

Kembali Nelongso mendatangi teman lain, namanya Pengu. Pengu menjawab: aku ada, tapi buat beli kamera. Nelongso kembali mencari teman-temannya yang ia kira bisa bantu meminjaminya uang. Nihil, tak satu pun ada yang punya uang. Kembali dalam hatinya berbicara: ketika aku mau pinjam uang, mereka bilang tidak punya uang. Semoga tidak benar-benar punya uang. Kasihan kalau ditakdirkan tidak punya uang sungguhan.

Untuk membayar malunya sudah menempatkan dirinya sebagai calon penghutang, ia kemudian mengambil langkah untuk tidak mempermalukan dirinya lagi. Ia pun terlibat pinjaman online melalui aplikasi. Beberapa aplikasinya memberinya pinjam tanpa merasa tidak enak. Benar, bunganya juga tinggi, tapi setidaknya masih terhormat. Ia tak tahu apakah mampu mengembalikannya tepat waktu, tapi setidaknya kebutuhannya terpenuhi kala itu.

Seorang teman lain yang sepertinya banyak memiliki uang malah memberinya saran: ubah mindsetmu. Kita selalu dalam posisi butuh uang, gimana kalau kita balik: uang butuh kamu. Uang butuh aku. Uang butuh kita. Teman yang banyak uang itu serasa ringan memberi nasihat kepada Nelongso, tanpa beban. Seolah-olah ia telah memberikan bantuan, tapi bagi Nelongso saat itu, ia tidak butuh nasihat. Yang mendesak baginya adalah uang.

Uang telah menjadi kendali ekonomi masyarakat. Semua terlibat dan terikat dengan uang. Uang dapat menaikkan dan menjatuhkan martabat seseorang. Uang dapat mencelakai siapapun. Uang dapat menghibur dan menyenangkan. Dengan uang dapat membeli barang apapun, benda apapun, bahkan membeli manusia. Dengan uang jabatan, pangkat, kehormatan, kejayaan, kekuasaan, dapat dibeli dengan mudah.

Mengapa uang tiba-tiba menjadi dewa? Mengapa seseorang tidak bisa hidup tanpa uang? Bukankah uang hanyalah kertas dan angka digital? Mengapa seperting itu padahal ketika kita sobek, ia tidak lagi berharga. Ketika kita mati pun ia tak berharga.

Ada uang, Abang disayang. Tak ada uang, Abang ditendang. Begitu celotehan seorang lonte, si pemburu uang. Uang baginya benar-benar dewa yang menyematkan dan merawat hidupnya. Uang telah menjadi tuhan ciptaan bahkan jadi monster mengerikan. Semakin dikejar, si uang menjauh. Tidak dikejar, ya tidak punya uang. Hahaha.

Demikian sedikit tentang uang. Nasihat teman tentang: uang butuh kita, memang tepat ketika kita berposisi banyak uang. Untuk situasi mendesak, tidak seketika ada uang dengan mantra seperti itu. Bagaimana kalau kita ubah, uang dan kita saling membutuhkan? Hahaha. Lucu.


Posting Komentar untuk "Uang Butuh Kita"

  • Bagikan