TUJUAN MENDASAR PENDIDIKAN - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TUJUAN MENDASAR PENDIDIKAN

 


 

 

Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia. Manusia merdeka dalam pendidikan adalah orang yang hidup selamat dan bahagia. Jadi teringat doa: rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar. Bukankah tujuan sebenarnya manusia adalah selamat dan bahagia?

Selamat dan bahagia itu kemudian dirinci kembali oleh Ki Hajar Dewantara menjadi Tri Rahayu (Tiga Keselamatan) yaitu: Hamemayu hayununging sarira, Hamemayu hayununging bangsa, dan Hamemayu hayununging bawana. Artinya menjaga dan memelihara diri sendiri, bangsa, dan alam semesta. Pendidikan dimulai dengan memperbaiki diri. Jika tiap diri sudah tertata baik, maka bangsa ikut baik, semesta pun ikut tertata baik.

Dengan Tri Rahayu yang menjadi dasar tujuan pendidikan, Ki Hajar Dewantara melanjutkan dengan Triloka Pendidik yakni: Ing Ngarsa Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karsa; dan Tut Wuri Handayani. Sebagai dasar kerja pendidik, guru berposisi di depan, maka berilah teladan yang baik. Guru juga berposisi di tengah pebelajar, yakni memberi motivasi, membangun kreatifitas, memunculkan inisiatif, memberikan inspirasi, memfasilitasi, dan sebagainya; dan guru juga sebagai orang yang menuntun, momong, memberdayakan, menguatkan, mendukung, membiarkan potensi-potensi yang baik keluar, dan sebagainya.

Kemudian Ki Hajar membuat atmoster pembelajar dengan istilah Tri Mong. Tri Mong yaitu: Momong, Among, dan Ngemong. Momong artinya merawat dengan penuh kasih saya, menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Among artinya memberi contoh tentang baik dan buruk, tanpa harus memaksakan kehendak. Ngemong berarti mengamati, merawat, menjaga agar anak mampu mengembangkan dirinya, bertanggung jawab, dan disiplin berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki sesuai kodratnya.

Ranah pendidikan ada pada Tri Nga, yaitu Ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ngerti adalah orang yang tahu berkat ilmu yang diperoleh. Ngrasa adalah tingkatan selanjutnya setelah tahu  yakni paham (afeksi). Nglakoni berarti mengalami apa  yang telah diketahui dan dirasakan (dipahami). Nglakoni berarti tindakan, melakukan, psikomotorik. Mengetahui-memahami-melakukan.

Dilanjutkan dengan metode belajar yakni Tri No: Nonton, Niteni, dan Nirokke. Nonton artinya melihat, menyaksikan, mengamati. Contoh dalam kegiatan ini misal melihat, membaca, mendengarkan, dan sebagainya. Niteni adalah mengingat-ingat setelah mengamati. Kegiatan ini adalah kegiatan mendalami dari kegiatan nonton. Terakhir Nirokke artinya menirukan contoh yang telah dilihat dan dingat-ingat. Maka contoh hasil dari belajar dari Tri No ini adalah ‘tidak jatuh pada lubang yang sama.’

Sekarang coba flashback, bagi siapa saja yang pernah ‘makan bangku sekolah,’ apakah sudah didapat hakikat pendidikan hingga mencapai tujuan selamat dan bahagia? Untuk mencapai hidup selamat dan bahagia, ilmu yang dibutuhkan yang seharusnya diperoleh ketika kita sekolah adalah ilmu keselamatan dan kebahagiaan. Dengan potensi dari masing-masing pebelajar, sudah selaraskah hak ilmu yang sudah diterima? Apakah materi ajar yang kita terima membuat kita merasa dan akan selamat dan bahagia dunia dan akhirat setelah bertahun-tahun kita lulus? Berikan komentar konstruktif ya.


Artikel Utama Blog Sebelah:

Guru: PrototipeMasa Depan Bangsa


Posting Komentar untuk "TUJUAN MENDASAR PENDIDIKAN"