Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Om Polisi Ganteng

 


 

Pagi-pagi sekali Nina berniat terlambat masuk kelas. Ia pergi ke kantor polisi. Tujuannya hanya satu yakni memiliki pengalaman dalam proses hukum. Ia tidak puas hanya dengan penjelasan dari guru dan dari text book. Ia harus melakukannya.

Setibanya di kantor polisi, ia mengisi daftar berkunjung. Petugas kunjungan menempatkan Nina duduk di hadapan Pak Polisi ganteng, namanya Bima.

“Perkenalkan nama saya Bima! Panggil saja Pak Bima!”

Nina langsung menolak. “Saya mau memanggil Om Polisi Ganteng saja!”

“Baiklah! Ada yang perlu disampaikan?”

“Iya, saya mau melaporkan tindak kejahatan, Om!”

Dengan sedikit alis si ganteng itu mengernyit, “Oya? Siapa?”

“Saya sendiri?”

“Kamu?” Mengernyitnya lebih tebal.

“Iya, mengapa? Tidak percaya?”

“Kamu kan masih kecil, jadi tidak mungkin melakukan kejahatan!”

“Om ganteng, saya ini sudah kelas 4 SD. Sudah menstruasi juga!”

“Iya, Om mengerti, tapi usiamu masih usia sekolah dasar. Selain tidak mungkin melakukan kejahatan juga tak mungkin menghukumimu karena masih usia sekolah!”

“Tidak bisa, Om harus menuliskan laporannya dan memperkarakannya!”

“Hmm, begini….”

“Tidak bisa. Om harus menulis apa yang akan saya laporkan dan harus menindaknya! Kalau tidak saya akan menghadap pimpinan Om!”

Waduh, anak kecil pemberani ini, batinnya.

“Baiklah, apa yang akan kamu laporkan!”

“Tulis dulu nama saya, Nina. Kelas 4. Sekolah di SDN Bagusan. Nama orang tua ….” Dan seterusnya. Om ganteng itu menurut saja.

“Serius tulis lo! Jangan coba-coba menghibur saya!”

“Iya ini Om tulis.”

Baru terjadi hari itu setelah berjuta-juta tahun berdirinya kepolisian. Ada anak kecil yang melaporkan tindak kejahatan sendiri. Sungguh patut diacungi jempol dan angkat topi. Om ganteng geleng-geleng. Kepalanya jadi berat, belum sarapan lagi.

“Apa?” Om ganteng terbelalak.

“Mengapa Om? Tidak percaya?”

“Beneran kamu mencuri uang sebanyak itu?”

“Iya.”

“Buat apa? Sekarang uangnya mana?”

“Habis!”

“Uang sebanyak itu dihabiskan anak sekecil ini?”

“Nina sudah menstruasi, Om!”

“Baik, tapi bukankah tidak perlu diperkarakan jika Nina bilang ke orang tua secara baik-baik?”

“Om, ini tindak kejahatan. Belum pernah ada kan yang melaporkan kejahatannya sendiri? Atas inisiatif sendiri? Anak kecil lagi, Om bilang!”

“Iya, memang belum ada  maling ngaku!”

“Nah, tulis donk, Om!”

Beberapa saat berjalan dalam hening. Om ganteng makin lapar.

“Sudah Om?”

“Sudah, ada usulan pengacara?”

“Tidak, biar negara saja yang menentukan siapa pengacaranya. Biar gratis!”

“Baik, ditunggu surat panggilannya ya dalam beberapa hari!”

“Terima kasih, Om! Oya, Nina minta nomor HP Om. Nina akan teleponi setiap hari biar cepat diperkarakan!”

Nina, Nina, kelakuan kok seperti orang tua saja.

Bima menghadap pimpinan dan melaporkan kasus pertamanya hari itu. Sang pimpinan membuang berkas kasus itu ke tempat sampah.

“Keluar!”

Seperti bunga layu, Bima keluar dari ruang pimpinan polisi. ia bingung sementara ia menyanggupi untuk memperkarakannya di sidang peradilan kepada Nina. Sungguh, Nina seperti sedang memberinya sebungkus rujak berkaret dua pagi itu. Pedas, mules rasanya.

Beberapa hari berlalu. Bima setiap hari ditanyai Nina melalui telepon tentang tindak kriminalnya. Bima hanya menghibur Nina dengan mengatakan ‘sudah diproses, ditunggu ya!’

Karena lama menunggu, berhari-hari, Nina pun kembali mendatangi kantor polisi dan menemui Om ganteng, Bima.

Belum juga dipersilakan duduk, Nina langsung menyemprot Bima.

“Gimana Om? Kenapa lama sekali?”

Belum sempat menjawab pertanyaan Nina, ada pertanyaan lagi.

“Mana ruang pimpinan? Nina mau menghadap!”

“Mengapa harus bertemu pimpinan? Bukankah Om pernah bilang bahwa kasus ini tidak mungkin diperkarakan!”

Nina langsung pergi. Sambil berjalan bergegas, ia baca tiap papan nama ruangan. Ia langsung dapat menemukan ruang kepala polisinya. Ia mengetuk pintu. Sementara Bima terlambat mengejarnya sehingga pintu pun terbuka. Sang pimpinan mempersilakan Nina masuk, dan Bima.

Kepala polisi langsung tanggap. “Silakan duduk. Kamu Nina ya?”

“Iya, benar. Saya mau ….”

“Iya, saya sudah tahu. Perkenalkan nama saya Panji.”

“Baik, Pak Panji.”

“Begini, boleh saya minta nomor HP orang tuamu?”

“Lo, kenapa? Bukankah saya yang berhubungan dengan Bapak, mengapa melibatkan orang tua?”

“Begini, anak seusiamu masih dalam perwalian orang tua. Jadi apapun yang kamu lakukan masih dalam tanggung jawab orang tua. Mana?”

“Tidak bisa.”

“Kasusmu tidak bisa disidangkan, Nina!”

“Berarti Bapak tidak menghargai kejujuran saya sebagai pelaku!”

“Justru sangat menghargai, makanya Bapak tidak ingin melibatkanmu dalam hukum dan peradilan.”

“Itu namanya tidak adil sebelum mengalami proses hukum Pak!”

“Bima!”

“Siap Komandan!”

“Bagaimana pun caramu, temukan nomor HP orang tuanya dan gurunya!”

“Kalau Bapak begitu caranya, Nina akan menulis tentang Bapak dan Om itu lalu Nina sebar ke publik bahwa Bapak tidak memfasilitasi hak hukum warga.”

“Nina, pulanglah. Biar kami nanti hubungi orang tua dan gurumu!”

“Tidak bisa begitu! Susah payah saya memperjuangkan proses hukum terhadap saya, Bapak dan Om tidak membantu!”

“Begini….”

“Kalau begitu, Nina akan mencuri lebih banyak dan tidak hanya orang tua. Para tetangga dan guru juga akan Nina curi hartanya!” Nina langsung balik kanan dan pergi.

“Bima! Kejar anak itu!”

“Tapi….”

“Katakan proses hukumnya akan digelar!”

Bima langsung mengejar Nina tanpa penghormatan bubar.

 

Hari itu, mama Nina sedang di beranda menikmati secangkir teh hangat. Seorang tukang pos menghampiri dan menyerahkan surat pemanggilan dari pengadilan.

Apa ini? Batin mama Nina. Ia membukanya dan membaca. Sungguh di luar dugaan ekspresinya langsung berubah. Matanya terbelalak. Ia langsung meraih HP dan menelpon papa Nina.

HP papa Nina berdering. Ia ijin keluar rapat sebentar untuk menerima telepon.

“Apa? Nina?”

Mereka bersepakat menjemput Nina ke sekolah, pulang awal. Nina di dalam mobil diberondong pertanyaan mama dan papanya. Nina diam hingga semua pertanyaan meluncur.

“Mengapa kamu diam?”

“Begini Pa, Ma….”

“Soal uang mengapa kamu tidak minta ke kami? Bukan begitu caranya mendapatkan uang!”

“Pa, Ma.”

“Kamu….”

“Nina jawab apa tidak ini?”

Mereka pun terpaksa diam.

“Nina sengaja mengambil uang Mama, di lemari. Semuanya, tapi Nina masih simpan kok. Nina tidak butuh apa-apa dengan uang sebanyak itu. Uangnya masih ada kok, Nina simpan tapi di tempat lain. Nina hanya berpura-pura dan melaporkannya ke kantor polisi. nina ingin mengalami proses hukum. Nina tidak puas hanya mendengarkan penjelasan guru. Nina ingin mengalaminya!”

“Ini bukan lelucon Nina. Baiklah, kita ke kantor polisi sekarang. Mencabut laporanmu!”

Nina hanya diam.

“Kamu harus minta maaf kepada para bapak polisi. Toh, kamu sudah mengalami proses hukum dengan melaporkan tindakanmu!”

“Baik, Pa, Ma.”

“Setelah dari kantor polisi, kita makan bareng!”

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Om Polisi Ganteng"