Kapan Bangsa Indonesia Mulai Goblok? - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kapan Bangsa Indonesia Mulai Goblok?

 




Kapan Bangsa Indonesia Mulai Goblok? KH. Agus Sunyoto menyampaikan bangsa Indonesia mulai goblok sejak bangsa Indonesia mulai belajar melalui lembaga sekolah yang dibentuk pertama kali oleh Belanda. Pada 1892 pada masa politik etis, sekolah bikinan Belanda distandarkan secara nasional. Maka, bermunculanlah gelar-gelar. Kemudian Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara berusaha kembali ke akar sistem pendidikan nusantara dengan tetap berbentuk sekolah menyesuaikan dengan lembaga pendidikan buatan Belanda sebelumnya. Namun, usaha tersebut hanya dilakukan parsial. Secara de jure, bapak pendidikan nasional bukanlah Ki Hajar Dewantara melainkan Gubernur Jenderal Herman William Daendels dan Gubernur Jenderal Van Heudtz. Silakan bisa dicari sendiri kebenarannya melalui penelusuran sejarah.

Sebelum orang mengenal sekolah, di nusantara ada empat sistem pendidikan. Ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya ada di lembaga pendidikan yang bernama sekolah. Sekolah adalah bagian kecil dari sistem pendidikan dalam kemasyarakatan bangsa nusantara. Empat bentuk sistem tersebut adalah: padepokan (pra Hindu-Budha), model asrama (pengaruh Budha), dukuh (Pengaruh Hindu), dan pesantren (ketika Islam masuk Nusantara).

Adapun hasil pada empat sistem pendidikan tersebut antara lain: terciptanya aksara (masing-masing daerah memiliki aksara sendiri), tercipta bahasa daerah, tercipta sistem kalender, terbentuknya pranatasosial (berupa istilah rakyat, masyarakat, musyawarah, majelis, gotong royong), kitab-kitab, bangunan megah, bangunan sejarah, peta, panglima militer, arsitek langka, karya sastra, tembang, alat musik, dan sebagainya.

Pada empat sistem pendidikan tersebut pendidikan terbagi atas dua fokus. Yaitu nalar dan intuisi. Nalar untuk mempelajari pengetahuan tentang materi sedangkan intuisi untuk mempelajari hal yang di luar materi. Ilmu nalar kemudian disebut dengan ilmu budi atau akal sedangkan pengetahuan intuitif kemudian pada masa Islam disebut sebagai ilmu Kalbu (rasa). Oleh karena itu Ki Hajar Dewantara ketika berusaha merevitalisasi sistem pendidikan nusantara untuk menandingi sistem pendidikan ala sekolah dengan menitikfokuskan pendidikan pada olah rasa, karsa, raga, dan hati.

Bagaimana dengan sistem pendidikan pada lembaga sekolah? Walaupun tetap menjual kata kunci dari Ki Hajar Dewantara, fakta dalam pelaksanaan kurikulum, menitikberatkan pada hal rasional. Inilah yang sebenarnya akar bahwa lembaga pendidikan pada sekolah menghasilkan pemikiran sekuler. Tujuan utama ada pada nilai dan sertifikat (ijazah). Terasalah kemudian bahwa hasil pendidikan berupa output sekolah menghasilkan sumber daya manusia yang materialistik dan sekuler. Kemudian pemerintah menambal sulam dengan program penguatan pendidikan karakter (PPK) dan profil siswa Pancasila, dan mensertifikasi guru pada masa kini. Banyak pula kemudian sekolah-sekolah berupa pendidikan etika profesi sebagai tambal sulam selanjutnya.

Pada struktur kurikulum nasional, sejak pergantiannya berkali-kali, selalu menempatkan Kompetensi Inti (KI) 1 sampai dengan 4. KI-1 menitikberatkan pada bidang religi, KI-2 tentang perilaku sosial (akhlak), KI-3 tentang pengetahun, KI-4 tentang keterampilan. Walaupun demikian, pada praktik di lapangan, titik pusat pembelajaran mengarah pada ketuntasan KI-3 dan KI-4 saja yang kemudian diterjemahkan dalam nilai kompeten yang diwakili dengan kertas resmi.

Bagaimana solusinya? Hanya satu kembali kepada sistem pendidikan nusantara yang pernah kita punya, salah satunya yang dibawa oleh Ki Hajar Dewantara (olahrasa, olahraga, olahkarsa, dan olahhati) atau Ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani. Kembalikah secara utuh. Utuh seutuh-utuhnya diserap. Tidak seperti logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang hanya mengambil kalimat ketiga dari warisan Ki Hajar Dewantara sementara dua sisanya menjadi fosil. Silakan perhatikan logo yang dimaksud.

Selanjutnya, bagaimana menerapkan KI-1 sampai dengan KI-4 sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang menjadi cita-cita Undang-Undang Dasar 1945; mencerdaskan kehidupan bangsa? Hanya satu jawaban: melaksanakan amanat kurikulum nasional yang termuat dalam KI-1 sampai dengan KI-4 secara adil dan menyeluruh serta tuntas. Ini bergantung pada kepiawaian guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sementara banyak pendidikan dan latihan yang diselenggarakan oleh kementerian pendidikan hanya menguatkan pada keterampilan mengelola proses pembelajaran dalam menyampaikan KI-3 dan KI-4.

Gagasan menteri pendidikan baru: guru penggerak, siswa profil Pancasila, dan merdeka belajar, semoga menjadi jalan kembali kejayaan pendidikan nusantara. Perlu diketahui, Raden Ngabey Ranggawarsito pernah dilamar Belanda untuk mengajar di Belanda, tapi menolak. Banyak contoh lain yang bisa ditelusuri sendiri. Sebagai tambahan bahwa bangsa nusantara adalah negeri brahmana, negeri para guru. Sejak ada sistem persekolahan Indonesia menjadi TKI.

Posting Komentar untuk "Kapan Bangsa Indonesia Mulai Goblok?"