Tidak Semua Burung adalah Emprit - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak Semua Burung adalah Emprit

 


 

Yah, tidak semua burung adalah emprit. Ada burung gagak, elang, gereja, dan bahkan garuda (elang purba). Sama halnya dengan murid di kelas di suatu satuan tingkat pendidikan. Tidak semua mereka berjenis kemampuan sama. Ada yang bakat menghitung, membaca dan menulis, ada yang bakat berbicara, ada yang berbakat seni, dan ada yang sangat peka terhadap konten isu-isu sosial.

Di sekolah mana dan apa pun keadaan tersebut sama. Semua guru mengalami hal ini. Semua guru menyadari bahwa memang terdapat perbedaan yang istimewa dari para muridnya. Semisal ketika ada pembelajaran muatan Seni Budaya dan Prakarya, perbedaan tersebut muncul. Mereka ada yang suka menggambar, ada yang suka menari, ada yan suka memainkan recorder, pianica, dan terakhir mereka suka dengan ukulele atau kentrung senar 3.

Apakah guru hanya diam saja melihat mereka setiap hari bawa kentrung? Apa ia diam saja ketika di kelas tersebut beberapa muridnya memainkan kentrung dengan nada tidak jelas, asal genjreng? Tentu guru tidak boleh hanya diam, mengabaikan kesukaan muridnya. Ketika terjadi hal tersebut guru harus jemput bola. Belajar, mulai dari cara menyetel nada senar, sampai memainkannya dengan ragam genjrengan.

Guru yang tidak paham sama sekali, tidak ada salahnya membuka tutorial menyetel nada senar kentrung di internet. Pasti menemukan dan bisa menyetelnya. Bahkan, ada aplikasi playstore yang bernama ukulele tuner, khusus untuk menyetel bunyi senar gitar agar standar dan bisa mengeluarkan bunyi nada yang tepat.

Ketika sudah disetel, guru akhirnya harus belajar memainkan satu nada ke nada yang lain. Kemudian, memainkan satu lagu dengan bantuan melihat notasi dari sebuah lagu. Ketika sudah mampu sedikit demi sedikit, guru pun menularkannya kepada murid. Inilah yang disebut dengan memberikan hak anak belajar. Bakat pemberian Tuhan harus dilayani dan dikembangkan agar mereka memiliki kompetensi sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Apakah Anda guru yang seperti ini? Apakah Anda guru yang peka atas multi intellegency para muridnya? Apa yang sudah dilakukan jika Anda termasuk guru yang peka? Apakah para murid dengan kemampuan yang berbeda itu dapat terlayani kebutuhan belajarnya? Apakah Anda hanya jenis guru yang menyelesaikan buku dan kurikulum dan pulang sesuai jam kantor? Kalau Anda pada jenis ini, tidak akan ada gunanya membaca tulisan ini.

Sebagaimana kemampuan mereka yang berbeda, tentu kebutuhan mereka juga berbeda. Kebutuhan inilah yang harus benar-benar terlayani bahkan di luar buku teks yang guru pegang. Para murid itu tidak selamanya berstatus anak sekolahan. Pada akhirnya mereka harus menunjukkan eksistensinya di kalangan masyarakat. Mereka harus berjuang dengan bekal dari guru mereka untuk menjalani kehidupan yang panjang. Saat itulah hasil produk guru diuji di masyarakat. Apakah ia termasuk guru yang wajib, sunnah, mubah, atau haram.

Guru yang wajib adalah guru yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh para muridnya karena banyak asupan gizi bagi mereka sebagai asupan kehidupan. Kehadirannya memberikan bekas akhlak kepada para murid sehingga ketika orang lain melihat murid tersebut, mereka tahu bahwa gurunya adalah si bapak X.

Guru yang sunnah kehadirannya agak kuat, kehadirannya mampu memberikan pencerahan, tidak hadirnya membuat mereka merasa ada yang kurang lengkap. Lamat-lamat ada bekasnya kepada para murid. Ketidakhadiran guru jenis ini sedikit memberikan rasa kesepian dan kehilangan.

Guru yang mubah kehadirannya setengah diharapkan para murid. Jika guru jenis ini tidak hadir, murid merasa bebas tidak merasa kehilangan. Guru jenis ini sangat kurang sentuhan emosionalnya dengan para murid. Begitu pula dengan mereka, mereka tidak begitu akrab seperti akrabnya anak dengan orang tua.

Sedangkan guru yang haram, kehadirannya tidak diinginkan para murid. Kehadirannya dianggap bencana bagi mereka. Ketidakhadirannya dianggap hari raya yang sangat besar. Ia menjadi sosok hantu bagi pikiran murid layaknya pocong atau gendoruwo bagi mereka. Ia merupakan sumber masalah bagi kelas dan suasana mental mereka. Para murid mengutuk kehadiran guru jenis ini.

Pada jenis yang manakah Anda sebagai guru? Jika termasuk pada bagian-bagian akhir, bagaimana seorang guru menjalankan amanah undang-undang? Apakah jenis guru ini hanya menggugurkan kewajiban dan menerima bayaran begitu saja? Tanggung jawab moralnya pada bagian apa?

Posting Komentar untuk "Tidak Semua Burung adalah Emprit"