Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ReKonstruksi Pendidikan Nasional



Kondisi pendidikan hingga saat ini belum beranjak dari zona abu-abu. Disebut demikian karena pendidikan belum tersinkronisasi dengan baik dengan kebutuhan peserta didik, lingkungan, dan masa depan mereka. Pendidikan masih dalam ranah angan-angan yang belum mampu mewujud ketika semua jenjang pendidikan terselesaikan.

Pendidikan pada sistem yang dibangun hingga sekarang belum sanggup menciptakan mutu yang dibutuhkan bahkan sebenarnya belum mampu merekonstruksi pemenuhan kebutuhan pengguna pendidikan. Pendidikan yang merupakan institusi negara dan pemerintahan contoh kecilnya lemah dalam multilogis (lebih besar dari dialogis) dengan dunia kerja. Institusi pendidikan dari hulu ke hilir tidak mampu mengantongi data tentang kebutuhan sumber daya manusia untuk perusahaan, staf dan jabatan pemerintah, dan sebagainya mengenai berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Artinya pendidikan belum mampu menyiapkan masa depan para peserta didik selain angan-angan yang abstrak.

Tujuan pendidikan yang tertuang dalam undang-undang diterjemahkan oleh pemerintah menjadi dikotomi pengelolaan pendidikan. Hal itu yang kemudian memperparah pencapaian tujuan yang hakiki. Institusi pendidikan kemudian menjadi komoditas (bahan jualan) jauh menyimpang dari tujuan dasarnya.

Menurut Profesor Slamet menyampaikan bahwa pendidikan masa depan harus mampu menangkap dan mengungkapkan sistem-sistem ciptaanNya dari berbagai perspektif. Output pendidikan yang demikian akhirnya akan memberikan banyak pilihan masadepan yang bisa pengguna pendidikan dayagunakan.

Dikotomi pendidikan dalam tatakelola yang sekarang memperparah arah, sudut pandang, dan bahan materi yang dirumuskan. Pergantian menteri akan menjadi ritual resmi berubahnya kebijakan dan kurikulum nasional sehingga arahnya semakin tidak jelas.

Harmonisasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, belum menjadi esensi dalam kurikulum. Buktinya pengelolaan tambang, penguasaan lahan tambang merupakan pelanggaran atas konsep harmonisasi tersebut.

Secara sederhana sebenarnya pendidikan hanya membutuhkan multilogis mengenal hal yang berhubungan dengan kebutuhan pengguna layanan pendidikan, kebutuhan lingkungan, kebutuhan pemerintah, kebutuhan swasta, dan kebutuhan lain  yang lebih luas dan usaha nyata memenuhinya.


  Artikel Utama Blog Sebelah:

Guru: PrototipeMasa Depan Bangsa


 

 

 

Posting Komentar untuk "ReKonstruksi Pendidikan Nasional"