Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Petani Itu Tuhan dalam Rupa Manusia

 



 

 

Gunung gamping itu bagi masyarakat Desa Perawan adalah ibu yang menyusui tanah, memberi air, dan menumbuhkan padi yang dimakan manusia. Desa Perawan menjadi lumbung pangan negeri. Dalam peta, desa itu tepat terletak di tengah, jika diibaratkan badan posisinya tepat pada perut. Setelah kepala dan kaki dalam peta dirusak, sekarang pengrusakan itu mengancam bagian perut negeri.

Ini bukan soal hidup hari ini dan besok, tapi buat besok-besok dan besoknya lagi yang panjang sehingga harapan hidup cucu putu kelak tetap lestari, begitu salah satu ucapan pegiat lingkungan. Ia mendapat julukan srikandi Dewi Sri.

“Mesin berpikirnya di mana? Seandainya orang bodoh seperti saya diberi pilihan hidup krisis pangan dan krisis semen, maka pasti kebodohan saya akan memilih krisis semen daripada mati! Ini para pejabat agung kok memilih krisis pangan!” Lanjut Dewi Sri.

Bersama Salimin, ia yang berdiri paling  depan berhadapan dengan ancaman dengan keberanian seorang ibu ketika anak cucunya terancam. Dengan kaki dicor semen, lantunan lagu Ibu Pertiwi membuat miris ibu bumi, makin sedih.

Ketika kakinya dicor bersama teman-temannya,di depan gedung megah pusat negeri, saat itulah tembang Ibu Bumi ia suarakan sambil menangis. Sementara pilar-pilar istana berdiri gagah dengan angkuh dan sombongnya.

Ibu bumi wes maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. Laa ilaaha illallah, Muhammadar rasuulullah.” (Ibu bumi sudah memberi. Ibu bumi disakiti. Ibu bumi akan mengadili. Tidak ada tuhan, hanya Allah dan Muhammad rasul Allah).

Lantunan itu adalah tembang yang sering dinyanyikan bersama di dalam gua dengan para sahabat pecinta ibu bumi, masyarakat yang menolak pendirian pabrik semen. Begitu terus-menerus diulang-ulang hingga bumi gemetar. Langit pun menangis. Angin berhenti.

Di tempat lain, jauh dari istana, sekretaris perusahaan tersebut mengatakan hal yang lucu: “Kami hanya minta izin pabrik semen ini bisa beroperasi, bener gak nanti akan hilang airnya?” Bukankah itu sama dengan mengatakan begini: ‘aku minta izin kamu akan kucekik, bener gak kamu akan mati?’ Hahaha!

Hasil penelitian lingkungan yang menguatkan pendirian pabrik semen tersebut semua terkesan nonsen! Buktinya pejabat agung tetap saja menerbitkan izin baru pembangunan pabrik semen di gunung gamping itu. Dalihnya mudah. Cukup bilang ini bukan perusahaan yang itu. Ini lain. Aturan yang lebih tinggi dari istana dan mahkamah keagungan saja bisa ditindih dengan peraturan punggawa! Hebat, tidak?

“Banyak kok perusahaan yang merusak alam, tidak ada yang mempermasalahkan kan? Tidak apa-apa kan kita juga bangun pabrik?” Begitu punggawa itu bilang.

Ketika Salimin, salah satu pendemo penolak pabrik, memegang kendali pelantang dengan keras ia meneriakkan: “Dajjal itu nyata ada. Yah, benar. Sekarang pun ada. Berwujud manusia. Senyum dan keramahannya hanya untuk mengisap nyawa manusia yang lain. Dengan iming-iming yang menyilaukan mata mampu membolak-balikkan hati manusia bahkan keimanannya sekalipun. Jangankan malaikat, Tuhan pun ditawar untuk bisa dikendalikan olehnya. ”

“Pertahankan tanah kita!”

“Tolak pabrik semen!”

Semua meneriakkan perjuangan mengikuti ujaran Salimin.

“Yang harus dibaca pemimpin tidak hanya dokumen kertas yang ada di depan hidungnya, tapi ia harus juga membaca dokumen budaya, dokumen manusia, dan lingkungan. Jika pembangunan itu alih-alih berdasar kesejahteraan, jadi mencurigakan. Kesejahteraan siapa?”

“Betuuul!”

Setelah orasi itu, kembali massa pengunjuk rasa melantunkan tembang Ibu Bumi.

Itulah awal keperawanan desa itu tercabik-cabik. Kesatuan rasa mulai terkoyak sehingga masyarakat terkotak menjadi dua: pihak pendukung dan penolak pembangunan pabrik.

Perjuangan penuh darah dan nyawa sudah mereka tempuh. Kemenangan semu telah mereka lewati. Sejak saat itu, masyarakat yang kontra, terus saja menembangkan tembang Pocung menggema di dalam dada mereka. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk membela ibu bumi, selain berpasrah penuh kepada pencipta ibu bumi. Sayup menyayat seperti sedang menyanyikan kerinduan tentang kematian. Rindu bertemu Tuhan dan mengadukan semua kedhaliman. Mereka berharap ibu bumi tidak diam saja. Ibu bumi harus mengadili.

“Bapak pocung dudu watu dudu gunung, satriya sing Plembang. Dedeg ira ageng inggil. Yen lumampah si pocung lembehan grana.”

Bagi masyarakat Jawa, tembang Pocung secara singkat sama artinya bahwa semua manusia akan mati. Kembali kepada Tuhannya. Tembang itulah hiburan hatinya yang kecewa dan sakit.

Hamparan tanah yang lapang, yang mampu menumbuhkan pangan, sebagian besar telah terjual. Kalau tidak bisa dirayu dan diiming-imingi, mereka paksa dengan ancaman untuk bisa terbeli. Sebagian  mereka menyesal, tidak pernah paham perkataan Dewi Sri dan Salimin. Penyesalan sudah tidak berguna. Matilah saja dengan tanpa doa dari anak cucu kalian karena bagian mereka telah kau jual.

Jadilah kambing milineal saja karena kambing masa kini tidak lagi makan rumput. Kertas semen juga mau kok mereka makan. Atau jadi kutu di kepala para pejabat dan punggawa agung, tak usah bekerja cukup bertengger di kepala mereka tentu saja kalian tetap bisa hidup, begitu jawaban Salimin ketika mendapat keluhan mereka yang pro pendirian pabrik itu. Ia kemudian melenggang pergi sambil terus menyanyikan tembang Pocung.

Setelah sekian tahun ibu bumi dipaksa aborsi mengeduk semua isi perutnya menjadi semen, kali ini rophal-rophal pun berjatuhan. Air-air surut dan mengeruh. Daun-daun berlubang dan keriput. Sumber air warisan nenek moyang pun air matanya mengering. Hujan tanpa musim penuh debu, wajah-wajah melas petani berbedak semen.

Luka itu menahun merangkak bersama waktu. Tak mungkin bisa sembuh. Lingkar tahun pada pohon Desa Perawan telah menunjukkan enam lingkaran. Aksi penolakan pembangunan pabrik semen itu telah terjadi enam tahun silam.

Ritual Nyiwer pun dilakukan baru-baru ini. Tradisi tersebut sebagai ungkapan permohonan kepada Tuhan  agar gunung gamping beserta seluruh isinya terjaga lestari walaupun faktanya terusak.

Salimin dan Dewi Sri dalam sambutannya menyampaikan bahwa babak kehidupan mendatang akan lebih berat dari sekedar menghadapi tikus, wereng, dan ulat sebagai musuh padi. Ada musuh yang lebih berat yakni hama raksasa yang hanya ibu bumi yang dapat mengadili.

Prosesi ritual itu berbentuk aksi jalan kaki bersama masyarakat dari lintas kabupaten dan kota. Dalam iringan tersebut dari jauh sayup-sayup terdengar tembang Ibu Bumi dan Pangkur. Tembang itu berulang-ulang dilantunkan. Itu bisa jadi mantra ampuh. Mereka yakin, alam mempunyai cara sendiri untuk menjaga keseimbangan.

Acara tersebut juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang. Salah satu pesan Ki Dalang dalam ritual Nyiwer tersebut menyatakan bahwa Nyiwer bebarengan, pamrihe mung slamete pratiwi, kali saking gada bendu, merga serakahe manungsa, ewa semana lamun sampun tekeng wektu, alam ngersakke tumindhak, beja sing waspada eling. (Bersama-sama menjaga keselamatan ibu pertiwi agar terhindar dari pengrusakan oleh keserakahan manusia, namun demikian bila sudah saatnya alam menyeimbangkan dengan caranya, hanya orang yang ingat dan waspada yang mendapatkan keselamatan).

“Jangan dikira leluhur kita yang sudah mati itu mati. Sesungguhnya mereka hidup, ada bersama kita sampai kapan pun. Sampai saat ini, sepertinya masih cukup tahan untuk bersabar. Entah besok atau lusa!” Dewi Sri menambahkan dalam sambutannya untuk menutup seluruh rangkaian acara ritual Nyiwer.

“Satu hal lagi, kita itu diwasiati menjadi petani dan petani itu Tuhan dalam rupa manusia!”

Posting Komentar untuk "Petani Itu Tuhan dalam Rupa Manusia"