Kera Ngalam, Ker! - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kera Ngalam, Ker!





Dengan judul di atas, warga Malang menduga bahwa bahasan tulisan ini adalah tentang bahasa khas Malang, Walikan (pembalikan kata). Benar, bahasa Walikan merupakan bahasa khas Kota Malang yang eksis sejak dipopulerkan pertama kali oleh Suyudi Raharno. Ia adalah satu pejuang pada zaman sebelum kemerdekaan. Menurutnya bahasa Walikan sangat unik dan tepat dijadikan bahasa sandi ketika masa perjuangan. Unik karena tidak semua kata dalam bahasa Jawa bisa disepakati untuk dibalik. Tepat karena tidak semua orang bisa dengan mudah mengerti bahasa Walikan tersebut.

Secara struktur, bahasa Walikan tidak mentah-mentah membalik semua huruf dalam kata bahasa Jawa ataupun Bahasa Indonesia, melainkan terdapat seni dan kreativitas di dalamnya. Pembentukan pembalikan kata dilihat dari dua aspek. Pertama, enak atau nyaman diucapkan dan didengar. Kedua, untuk tujuan penghalusan kata.

Pada aspek enak, banyak kata yang mudah dan enak diuucapkan setelah mengalami pembalikan seperti: taseh dari kata sehat, sam dari kata mas, orip dari kata orip, dan sebagainya. Sedangkan pada aspek penghalusan kata beberapa contoh di antaranya: keat dari kata taek, ketam dari kata matek, kampes dari kata sempak, dan sebagainya.

Tidak semua kata Jawa dan Bahasa Indonesia dapat dibalik. Misal kata kasur, tidak dibalik menjadi rusak karena kata kasur dan rusak memang ada pembalikannya yang secara otomatis memiliki arti mandiri. Kata Indonesia tidak bisa dibalik menjadi aisenondi karena pada pelafalannya mengalami kesulitan dan tidak enak diucapkan atau pun didengar. Kata-kata yang sulit dibalikkan akan tetap dibiarkan karena selain lebih mudah dieja pada kata aslinya juga agar kata-kata tersebut dapat lebih dikenal.

Menurut Pakar bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Imam Agus Basuki, Bahasa Walikan tidak memiliki struktur seperti halnya bahasa secara umum. Juga tidak pula struktur pada bahasa Jawa. Karena itulah ia menjadi unik. Menurutnya pula setiap kata Walikan sebagian besar berakhiran a dan an. Itulah mengapa kemudian menjadi ciri khas dan identitas warga Malang.

Beberapa hasil penelitian tentang bahasa Walikan antara lain dilakukan oleh Wahyu Puji Hanggoro, Mahasiswa S-2 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahasa walikan merupakan salah satu dari ragam bahasa Malang-an yang memiliki variasi unik, yaitu dengan membalikkan setiap kata dari belakang. Seperti membaca kata melalui cermin.

Peneliti juga menyampaikan beberapa fungsi bahasa walikan tersebut sebagai berikut. (1) Sebagai pengenal bahwa pengguna bahasa walikan adalah orang Malang. (2) Sebagai pembeda antara warga Malang dengan masyarakat Jawa dari daerah lain. (3) Sebagai pemersatu masyarakat Malang, dan (4) sebagai identitas Malangan.

Penelitian lain dilakukan oleh Aji Setyanto, M.Litt, Universitas Brawijaya Malang dengan judul penelitian Osob Ngalaman (Bahasa Slang Asal Malang) Sebagai Salah Satu I-Con Malang (Studi Struktur Osob Ngalaman, dalam Sosial Network). Dalam penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa Bahasa Malang itu sendiri/dialek Malangan (osob ngalaman) dan bahasa Walikan keduanya bergabung dan tidak dapat dipisahkan dalam penggunaan bahasa Walikan baik secara lisan maupun tertulis.

Penelitian deskriptif kualitatif yang ia lakukan bertujuan untuk menentukan dialek Malangan yang terdiri dari struktur kata, frasa dan struktur bahasa yang digunakan oleh masyrakat sosial. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam Osob Ngalaman memiliki banyak struktur, walaupun sebenarnya tidak ada aturan antara penutur dalam membalikkan atau mengucapkan bahasa walikan yang berbeda.

Untuk membalikkan susunan huruf dalam sebuah kata dalam bahasa Malangan biasanya juga masih menggunakan bahasa aslinya seperti Genaro, Lawet, Sibun. Osob Ngalaman menggunakan kata-kata dari dua atau bahkan tiga bahasa (Jawa, Indonesia, dan Inggris).

Kadang ada juga kalimat yang semua kata-katanya dibalik. Pada umumnya, tidak semua kata dalam Osob Ngalaman dibalik. Jumlah banyaknya kata-kata yang dibalik juga bergantung pada penutur itu sendiri.

Sebagai sisipan pada penelitiannya, ia mengusulkan agar Osob Ngalaman perlu ditetapkan atau dibuatkan Osob Ngalaman Center yang tugas utamanya adalah untuk mendokumentasikan Osob Ngalaman yang ditindaklanjuti dengan studi untuk mengembangkan Osob Ngalaman; memformulasikan textbook sederhana; membuat kamus Osob Ngalaman; membuat pusat belajar Osob Ngalaman; merancang dan merencanakan penggunaan Osob Ngalaman sebagai salah satu promosi wisata.

Dua peneliti lain yakni Riesanti Edie Wijaya dari Universitas Surabaya dan Yenni Mangoting dari Universitas Kristen Petra Surabaya menyimpulkan bahwa bahasa Walikan merupakan bahasa yang muncul dari bawah (dari masyarakat) yang mengandung kreativitas dari para penggunanya untuk saling mengerti pembicaraan di antara para interaktan. Bahasa Walikan merupakan hasil kreativitas penggunanya.

Lebih jauh tentang bahasa Walikan, ada yang memetaan pembagian kata dan kosakata bahasa Walikan menjadi beberapa bagian. Pembagian tersebut disampaikan oleh seorang anggota Kaskus berakun Zam sebagai berikut.


1. Kata benda: - adapes: sepeda - rotom: motor - libom: mobil - utapes: sepatu - landas: sandal - soak: kaos

2. nama tempat: - hamur: rumah - ngalam: malang - ayabarus: surabaya - arudam: madura - amalatok: kotalama - onosogrem: mergosono - nahelop: polehan - rajajowas: sawojajar

3. nama makanan/minuman: - oges: sego - lecep: pecel - ipok: kopi - oskab: bakso - senjem: menjes/sejenis tempe - itor: roti

4. kata kerja: - ngayambes: sembahyang - rudit: tidur - nakam: makan - halokes: sekolah - hailuk: kuliah - ngalup: pulang - ladub: budal/berangkat - rekem: meker/mikir - uklam: mlaku - utem: metu - ibar: rabi - kolem: melok/ikut - helom: moleh/pulang

5. kata sifat/keterangan/predikat: - tahes: sehat - sinam: manis - ewul: luweh/lapar - kadit: tidak - itreng: ngerti - kipah: apik/bagus - kewut: tuwek/tua - baiks: seweng/sinting - licek: kecil - komes: semok - nayamul: lumayan

6. kata sebutan: - sam: mas/kakak/bro! - ayas: saya - umak: kamu - kodew: wedok/cewek - nganal: lanang/cowok - ngonceb: bencong - ojob: bojo/pacar/pasangan hidup - teles ketep: selet petek/dubur ayam - tenyom: monyet - sukit: tikus - ongis nade: singo edan - nawak ewed: kawan dewe/dekat

7. kata tanya/sebut: - orip: piro/berapa - oyi: iyo/ya!

8. nama orang: - tigis: sigit - uyab: bayu - kidnep: pendik (vokalis Flanella) - suga: agus


Bagi orang di luar Kota Malang, bahasa ini memang sulit diadaptasi. Butuh semacam cermin imajinasi dalam pikiran sehingga bisa mendapatkan visualisasi kata asli dan pembalikannya. Tapi, bagi warga asli Kota Malang, begitu mudah mengucapkan dalam komunikasi karena telah dilestarikan dengan baik.

Banyak masyarakat yang tidak tahu akan bahasa ini, sehingga membalik-balik seenaknya, akibatnya kita menjadi bingung untuk mengartikannya, untuk itu saya mengajak agan-agan kaskuser arema untuk bersama-sama mengorganisir dalam database ini.

Bahasa Walikan masa kini menjadi bahasa gaul masyarakat Malang. Yang menjadi garda terakhir pelestarinya adalah supporter sepak bola yang disebut Arema (arek-arek Malang) yang berlambang Singo Edan. Singo Edan sendiri dibalikkan kata menjadi Ongis Nade.

Sumber gambar:





Posting Komentar untuk "Kera Ngalam, Ker!"

  • Bagikan