Bagaimana Cara Memulai Menulis? (Klasik) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Cara Memulai Menulis? (Klasik)


S. Herianto




Ini sebuah pengalaman menarik ketika mengisi workshop menulis cerpen. Pesertanya siswa-siswi sekolah menengah pertama dan atas. Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah bagaimana memulai menulis? Si penanya menyatakan tidak bisa menulis. Lalu kujawab dengan bercanda, kalau tidak menulis, ketik saja! Serentak semua peserta bersorak, ramai sekali. Sepertinya mereka sedang membuli temannya karena tidak bisa menulis.

Untuk mendinginkan suasana, kemudian kulanjutkan dengan pertanyaan balik. Punya media sosial? Punya WA? Cewek yang bertanya menjawab dengan iya. Bukankah itu menulis, mengetik, atau apalah sebutannya. Berapa banyak dari kita menulis setiap hari di media sosial. Jadi ketika menyatakan tidak bisa menulis, sungguh itu kufur nikmat atas tangan dan otak ini! Tapi, kalimat itu tidak kusampaikan kepada mereka. Takut baper.

Kemudian kulanjutkan dengan latihan langsung. Dimulai dari bagaimana mencari ide, bagaimana membuat judul menarik (khusus judul biasanya baru dipikir di bagian akhir proses), kemudian membuat etalase cerita di paragraf pertama. Kebetulan kegiatan itu menggunakan teknik estafet. Jadi kusiapkan satu paragraf berbeda untuk masing-masing kelompok. Kemudian mereka melanjutkan paragraf tersebut secara bergiliran. Buktinya mereka bisa menulis, kok. Mungkin harus ada sikap diri militerian dalam tiap diri mereka agar tetap terjadwal dengan kejam untuk melatih menulis.

Hasil mereka kuapresiasi. Karya terbaik kuhadiahi satu buku karyaku (sekaligus iklan, hehehe). Mereka senang sekali. Kemudian di tengah-tengah kegiatan ada pula yang bertanya. Ini juga pertanyaan yang biasa dilontarkan ketika ada kegiatan menulis. Bagaimana caranya ketika di tengah perjalanan tulisan kita macet, tidak ada pengembangan ide lagi? 

Kujawab juga dengan bergurau dengan menggunakan analogi. Kalau di tengah jalan mobil yang kita kendarai mogok, ya sudah cari bengkel terdekat, kemudian ditinggal ngopi di cafe atau belanja di mall. Mereka pun tertawa. Kemudian kukembalikan ke topik menulis. Ketika seseorang mengalami kemacetan dalam proses menulisnya, maka hentikan dulu sejenak. Jangan dilanjutkan karena ide yang ditulis tidak lengkap. Itu indikasi bahwa gagasan utama dan pendukungnya belum sepenuhnya lengkap. Bagaimana mengatasinya? Ada banyak hal, tapi terutama: biar saja.Tinggalkan, bahkan lupakan. Cari kegiatan yang mampu memancing ide baru, atau mampu memberikan gizi pada otak. Misalnya: jalan-jalan, shopping, nonton film, nyetel musik, mancing, baca buku, atau tidur. Nanti pada saatnya, ketika tulisan itu benar-benar memiliki hasrat untuk dilanjutkan, ide pelengkapnya akan datang dengan sendirinya. Yakinlah!

Kemudian di bagian akhir dari kegiatan workshop tersebut, kuakhiri dengan pernyataan bahwa karya, tulisan, entah cerpen atau puisi, bahkan buku layaknya kelahiran manusia. Ketika dalam kandungan itu masih berwujud ide. Ketika dilahirkan barulah berwujud manusia, tapi ada yang meninggal saat masih dalam kandungan (idenya belum sempat tertulis). Ada yang lahir tapi cacat (tulisannya tidak lengkap, macet, ditinggal). Ada yang lahir dan tumbuh dewasa (tulisan ini jenis yang kemudian populer dan bersaing, tapi kemudian tidak laku). Bahkan ada yang lahir dan hidup selamanya (tulisan jenis ini kusebut legendaris, walaupun melewati beberapa generasi karya itu masih dibaca orang).

Posting Komentar untuk "Bagaimana Cara Memulai Menulis? (Klasik)"