Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rohimah




Karya WPJ

Krik krik krik. Hanya suara itu. Yah, suara binatang malam yang setia menemani Isyah. Malam semakin larut, rintihan tangisan Isyah di dekat jendela ditemani temaram lampu. Isyah menangis tersedu-sedu tak kuasa menahan perih di hatinya.
“Tuhan, rasa apa ini?” keluhnya. Isyah masih saja merenung menatap langit malam dengan berlinangan air mata. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
“Tok..tok..tok….” Isyah yang menangis mendadak berhenti. Isyah mencoba keluar kamar kemudian mengintipnya dari lubang kunci .ternyata tak ada siapa-siapa.
“Siapa ya?” batinnya. Perasaan Isyah yang sedih berubah menjadi takut dan penasaran.
 Isyah tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya tak layak dan berada jauh dari perkotaan. Ia sebatang kara, dia tidak tahu siapa orang tuanya dan tak tahu di mana ia tinggal tepatnya.
Beberapa menit kemudian Isyah kembali ke kamar dengan rasa penasaran siapa yang mengetuk pintu di malam hari. Perasaan tak enak karena kejadian tadi, Isyah pun segera menutup jendela lalu berbaring di gelaran tikar anyaman. Isyah berusaha memejamkan matanya. 

*********

Sinar matahari yang melewati lubang dari jendela kamar Isyah, membuatnya terbangun dan bergegas mencari rejeki. Isyah tak pernah merasakan pendidikan. Yang ia bisa hanya pergi ke hutan mencari makanan untuk bertahan hidup.
Sepulang dari hutan, Isyah membasuh wajah cantiknya yang kusam. Tiba-tiba Isyah tertegun sejenak melihat bayangan wajahnya di permukaan air dari dalam sumur. Isyah teringat lagi kesedihannya dan berlinang air mata. Isyah berkata. “Apakah dia?”
Malam pun turun. Isyah masih dengan kesedihannya. Tak kuasa menahan sedih, Isyah lari ke kamar dan membuka jendela menatap daun-daun hijau untuk menghibur diri.
Tok..tok..tok…. Suara ketukan pintu terdengar lagi, Isyah kaget dan cepat keluar untuk memeriksa.
Isyah melihat wanita cantik setengah baya berdiri di depan pintunya. Dia lalu membuka pintunya dan bertanya. “Siapa anda?”
Wanita itu menjawab “Saya Rohimah!”
Ada perlu apa Ibu?  Kenapa ibu berada disini?” tanya Isyah lagi.
Wanita itu pun menjawab “Saya tersesat dan tak tahu arah pulang, Nak. Saya butuh tempat tinggal. Apakah saya bisa tinggal di sini untuk sementara waktu?”
Perasaan Isyah bingung dan takut, tapi dia merasa kasihan. Isyah pun akhirnya mengizinkan karena menurutnya wanita itu baik.
“Baiklah, silahkan masuk, Bu!” kata Isyah.
“Terima kasih, Nak” jawab Bu Rohimah.
Isyah memberi makanan hasil dari hutan. Rohimah dengan senang hati menerima makanan tersebut dengan sunggingan senyum.
“Terima kasih, Nak!” ucap bu Rohimah.
“Sama-sama, Bu.”
Rohima bertanya lagi pada Isyah, “Di mana keluargamu yang lain?”
“Maksud Bu Rohimah?” Tanya Isyah dengan wajah bingung.
“Maksud saya di mana orang tuamu dan saudaramu?” jawab Bu Rohimah.
Isyah berlari ke kamar, lalu menutup pintu. Bu Rohimah bingung lalu menghampiri  Isyah ke kamar dan bertanya ,“Kenapa kamu, Nak? Apakah kamu tersinggung dengan pertanyaan Ibu? Ibu minta maaf atas pertanyaan tadi, ya.”
Isyah merasa tidak nyaman atas tindakannya kemudian ia keluar. Dia menghapus air matanya lalu kembali menemani Ibu Rohimah.
“Maafkan saya, Bu. Saya hanya sebatang kara” ucap Isyah.
“Tak perlu minta maaf, Nak. Seharusnya Ibu yang minta maaf telah menanyakan soal orang tuamu.” kata bu Rohimah.
“Tidak apa-apa, Bu.” jawab Isyah sambil memaksakan tersenyum.
Hari mulai malam, Isyah berpamit untuk tidur lebih dulu kepada ibu Rohimah yang tidur sebelah Isyah.
Bu Rohimah tersenyum dan berlinang air mata saat menatap wajah Isyah yang sedang tidur lelap. Malam semakin larut, Isyah bermimpi. Dalam mimpinya, ia berlari di tengah padang yang penuh bunga-bunga indah sambil tertawa. Isyah melihat sesosok perempuan dengan sinar di wajahnya dari jauh. Isyah mendekati wanita itu, Isyah kaget dan berkata “Loh Ibu Rohimah. Kenapa ada di sini?” tanya Isyah dalam mimpi.
Ibu Rohimah tiba-tiba memeluk Isyah sambil menangis.
Isyah bertanya “Kenapa Ibu memeluk Isyah dan menangis?”
“Ibu rindu kamu, Nak. Kamu adalah anak Ibu. Maafkan  ibu meninggalkanmu sendiri. Ibu pergi, selamanya. Jaga diri baik-baik, ya. Ibu sayang kamu!” kata Bu Rohimah.
Isyah pun terbangun dari mimpi sambil menangis. Saat berbalik untuk melihat Bu Rohimah yang tidur di sebelahnya, ternyata tak ada siapapun. Isyah pun tak dapat menahan air matanya.
“Ibu, Isyah rindu Ibu setiap malam. Isyah selalu menangis menatap langit malam ditemani suara jangkrik. Terima kasih ibu telah hadir dalam hidup Isyah walau sebentar, walau hanya dalam mimpi.”

Posting Komentar untuk "Rohimah"