Antara Iman dan Imron - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Antara Iman dan Imron




Sore-sore kami menemukan topik yang menarik tentang ayam. Betapa ayam tahu betul bahwa hari sudah sore atau hari menjelang pagi. Sampai-sampai suatu saat kami berkesimpulan bahwa ayamlah yang paling disiplin di dunia dibanding dengan manusia. Tidak pernah khianat untuk tidak membangunkan manusia. Tidak pernah telat bangun dan paling waspada dalam tidurnya daripada maling.
Sore itu, tampak oleh kami seekor ibu mengajak anak-anaknya tidur. Sang ibu mengajari bagaimana cara naik pohon Srikaya dan mencari tempat bertengger yang kokoh untuk dibuat pegangan. Anak-anak itu begitu belia, tapi sudah masanya mulai diajari bagaimana hidup. Salah satunya adalah cara mencari tempat tidur yang nyaman.
Sang ibu begitu telatennya mengajari melompat dari ranting ke ranting srikaya diikuti oleh anak-anaknya. Semua anaknya ada lima. Semua ikut naik. Beberapa di antara mereka ada yang jatuh karena bulu pada sayapnya belum sempurna tumbuh. Kemudian setelah semua pada naik, dua sayap ibu mereka membentang, mengekepi kelima anaknya dengan kehangatan. Entah bagaimana menderitanya bila hujan turun. Tentu mereka sangat kedinginan, tapi Tuhan Maha Pemelihara yang Maha Sempurna tak akan membiarkan ayam-ayam itu mati kedinginan, maka diberilah pada ayam-ayam itu bulu yang lebat dan licin.
Di tempat lain, sang bapak, si jantan, berkokok meneriakkan kejantanannya. Seolah-olah menandakan bahwa tempatnya tak boleh ada yang berkokok selain dirinya. Kalau ada yang berkokok seperti dia, itu berarti ada dua kepemimpinan. Tak boleh dalam satu wilayah ada dua pemimpin, menurutnya. Bisa-bisa terjadi perang untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Harus satu pemimpin saja.
Sang bapak itu, yang pernah memberinya ibu itu lima anak berikut segala beban hidup ditanggungnya sendirian. Sang bapak tak pernah ambil pusing dengan   dengan apa yang terjadi terhadap ibu dan anak-anaknya   Kegagahannya sebagai  jantan telah memberinya banyak peluang untuk memberi ayam-ayam perawan di wilayahnya beberapa butir telur setiap hari. Tanpa harus merasa tak enak telah berbuat tak setia kepada isterinya. Tanpa harus merasa terbebani dosa telah melanggar hukum manusia. Semua dia lakukan atas dasar mau. Memang begitulah ayam. Tidak seperti manusia yang terikat dengan berbagai aturan dan rasa etis.
Sementara di masyarakat sedang tren yang namanya selingkuh. Kata anak-anak muda SLI (Selingkuh Itu Indah). Fakta tersebut banyak menyerang orang-orang yang beruang. Tapi, tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang yang tidak berduit untuk tidak melakukannya. Fakta itu banyak yang dilakukan dengan terang-terangan. Artinya, baik si suami atau pun sang istri sama-sama tahu kalau di antara mereka ada orang lain. Hal ini diperkuat oleh sinetron-sinetron Indonesia dan telenovela-telenovela dubbing-an. Seolah-olah tontonan-tontonan itu   mengajak secara resmi untuk  melakukan selingkuh secara massal. Tanpa malu-malu. Tanpa rasa takut. Arti kasarnya, harus dicoba walapun harus ada yang sakit.
Kalau dinilai-nilai, tak ada bedanya dong, ayam dengan orang? Tapi kenapa sang ibu ayam dengan perilakunya yang mirip manusia tidak disebut manusiawi? Dan kenapa manusia tidak mau disamakan dengan ayam padahal jelas-jelas manusia menuruti sisi jelek ayam? Ah, itulah repotnya! Memang beda manusia dengan ayam. Sesempurna-sempurna ciptaan Allah hanya manusia, bukan ayam. Mungkin artinya, manusia dilengkapi dengan dua perilaku. Satu, perilaku malaikat. Dan satu lagi, perilaku binatang.  Tinggal dekat pada perilaku yang mana? Pada perilaku malaikat atau binatang? Atau kedua-duanya? Ah, ngelantur!
Sebenarnya, aku tak ingin benar-benar bicara tentang ayam. Tepatnya, aku ingin centa tentang seorang teman. Namanya, Imron, tapi bukan karena namanya Imron lantas aku cerita, tapi karena keluhannya kepadaku.
Memang, nama Imron sering kali dijadikan ledekan. "Iman sin kuat, tapi Imron?" ledekan itu untuk mengatakan bahwa nafsu sering-sering mengalahkan iman. Imron menunjuk pada kejantanan laki-laki. Tepatnya, bukan hal ini yang ingin aku ceritakan. Ada hubungan, tapi bukan itu. Imron ini bercerita padaku begini.
"Setiap kali aku meniduri Romlah, aku selalu teringat Hesti. Seolah-olah aku sedang menidurinya. Aku jadi merasa bersalah. Aku merasa kehilangan kesetiaan. Aku merasa telah berkhianat pada isteriku!"
Aku mencoba menenangkan kegelisahannya dengan menganggapnya bahwa hal itu wajar. Biasa dan bisa terjadi pada siapa saja.
"Tidak bisa begitu. Aku tetap telah berkhianat. Memang awalnya selalu dimulai dari perselingkuhan di dalam kepala, lama-lama kan bisa ke dada!"
"Apa kamu memang punya niat untuk berselingkuh?"
"Tidak! Demi Allah, tidak!"
"Tapi kenapa kamu merasa bersalah seperti itu?"
"Itulah masalahnya. Kenapa setiap kali aku melakukannya itu dengan Romlah, justru yang datang wajah Hesti!"
"Kan enak, kamu tidak perlu benar-benar melakukannya dengan Hesti. Cukup dengan Romlah, isterimu!"
"Iya, tapi itu tetap selingkuh namanya!"
Pembicaraan itu tidak pernah menemukan solusi. Setiap kali bertemu Imron, pasti terjadi perdebatan itu. Tapi setelah lama tak bertemu dia lagi, aku dengar kabar bahwa Imron meninggalkan Romlah, isterinya, dan menikahi Hesti.
"Dasar!!!"

Posting Komentar untuk "Antara Iman dan Imron"