Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Complained on The Facebook

http://elartedesabervivir.com/significa-padecer-trastorno-obsesivo-compulsivo/

Mengeluh tentang cinta, denda 50 ribu. Mengeluh tentang uang, denda 25 ribu. Mengeluh tentang keadaan, denda 100 ribu. Dipaksa mendengarkan keluhan, 200 ribu. Mengeluh tentang keluarga, 100 ribu. Mengeluh tentang pekerjaan 50 ribu. Mengeluh tentang sikap dan perlakuan seseorang, denda 250 ribu. Semua berlaku per jam. Itulah daftar menu layanan yang memenuhi beranda medsosku di facebook, whatsapp, line, dan sebagainya.
Selain itu ada menu kombinasi seperti Tarif mengeluh 3 in 1; tarif mengeluh paket hemat; tarif mengeluh plus komen; tarif mengeluh tanpa respon; tarif mengeluh direkam; dan sebagainya.
Sudah dibilangi berkali-kali jangan mengeluh, tetap saja mengeluh. Anehnya, tetap saja mereka si pengeluh memilih aku. Mereka pikir aku wc? Mereka pikir aku tempat pembuangan sampah? Akhirnya kubikin status tentang tarif mengeluh dan bayar dimuka. Tujuanku biar mereka berhenti mengeluh. Ternyata mereka makin rajin mengeluh. Mereka tidak eman-eman uang mereka demi membeli waktu. Jadilah ini ladang penghasilan buatku. 
“Mbak, saya mau konfirmasi. Saya sudah transfer 5 juta ke rekening sampean. Tolong nanti kalkulasi sendiri tarifnya. Kalau sudah habis deposit saya, bilang ya saya bisa kirim lagi!” Sebuah pesan di whatsapp yang mengawali bisnis anehku. Namanya Bu Mala, isteri pejabat legislatif.’
Bu Mala ternyata sangat suka curhat walaupun sebagian besar adalah keluhan. Ia mengeluhkan tentang suaminya yang selingkuh, anaknya yang jarang di rumah, tetangganya yang irian, dan sebagainya. Sedangkan isi curhatnya mengenai hal-hal remeh seperti habis belanja ke Singapura, nyalon, beli rumah mewah, mobil baru, dan sebagainya.
Setelah Bu Mala, berdatanganlah teman-temannya. Ibu-ibu sosialita. Hahaha. Bu Mala tidak membawa malapetaka, malah membawa berkah. Dalam hati aku sangat berterima kasih karena memberiku pekerjaan ringan dengan penghasilan yang Wow!
Sudah setahun aku menekuni usaha ini. Dalam setahun itu aku bisa beli rumah, mobil, dan kelengkapan rumah. Semua cash. Penghasilan yang luar biasa. 
Ternyata kota besar seperti Surabaya dengan segala hiruk-pikuknya membuat banyak orang kaya stress. Mereka butuh tempat curhat. Mereka perlu orang yang peduli untuk sekedar mendengarkan keluhan mereka.
Mereka memilih membayarku daripada tidak bisa menahan diri dan akhirnya bunuh diri. Mending mereka membayarku. Toh  tairfnya murah, Pikir mereka.
Aku aku satu-satunya yang buka usaha seperti ini. Se Indonesia, baru aku. Berdatanglah orang, baik langsung atau via online dari berbagai kota besar di tanah air. Mereka rela bayar aku demi mrnumpahkan keluhan mereka. Mengeluh saat ini mirip dengan hasrat syahwat, tak bisa dibendung selain ditumpahkan.
Karena waktuku habis untuk mendengarkan keluhan orang-orang, akhirnya kunaikkan tarifnya duakali lipat. Bukannya kapok, mereka tambah rame berdatangan. Tampaknya harga mahal membuat mindset mereka tajam. Mereka mengira dengan tarif mahal, pasti konsultannya ahli dan profesional. Lucu, sangat lucu sekali.
Itu alasan aku berhenti bekerja. Cukup dengarkan keluhan, dibayar mahal. Kuberi nama usahaku ini dengan Konsultan Beban Hidup Berbayar. Silakan yang mau mengeluh atau curhat bisa kontak 0856-0827-4426.

Posting Komentar untuk "Complained on The Facebook"