Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Diganggu Lagi WA-an dengan Tuhan


Iseng-iseng aku memeriksa kontak di aplikasi whatsapp. Kuroll ke bawah. Sampailah di huruf depan T yang membuatku terkaget-kaget. Ternyata di kontak WA-ku ada nama Tuhan. Benarkah ini kontak Wa Tuhan?
“Ma, Mama yang buat kontak baru di WA papa?” teriakku ke isteriku biar terdengar ke dapur.
“Nggak Pa. Kenapa?” istriku juga mengeraskan suara.
“Kok, di kontak papa ada nama Tuhan?”
“Wah, mama gak tau Pa. Jangan-jangan memang kontak Tuhan. Coba aja disapa!”
“Wah, gimana ya? Papa sungkan Ma!”
Jangan-jangan semua statusku terbaca sama Tuhan. Jangan-jangan pula semua chatku dengan teman-teman dan orang-orang kebaca sama Tuhan. Mati aku! Jadi malu.
“Sudah menyapa Tuhan?” tanya isteriku sambil membawa secangkir kopi cappucino panas untukku.
“Belum, Ma. Sungkan papa!”
Lho, kenapa sungkan. Toh, apapun yang papa omongkan Tuhan pasti tau, kok. Dan setau mama Tuhan gak akan meledek kita dengan chat-chat kita dengan siapapun! Iya, kan?”
“Iya, juga sih!”
“Sudah sana, sapa Tuhan. Tapi, jangan tanya apa kabar lho, ya?”
“Kenapa Ma?”
“Gak pantes, Pa. Wong Tuhan yang ngasih sehat dan sakit dan Dia sendiri mahasehat gak pernah sakit. Masak tanya gimana kabar Tuhan?”
Betul juga isteriku. Tuhan gak akan pernah meledek apapun yang kita omongkan. Tuhan gak pernah resek. Kalau itu benar kontak WA Tuhan, enak juga. Aku bisa curhat kapan dan tentang apa saja. Tapi, apa Tuhan akan membalas Wa-ku?
“Kalau benar itu kontak WA Tuhan, Tuhan akan membalas apapun curhat kita, Pa. Tuhan selalu punya waktu untuk hamba-hambaNya di mana pun, kapan pun. Tak satu pun hambaNya tak terlayani. hambaNya tak akan pernah kecewa. Tuhan selalu membalas setiap obrolan kita. Selalu available. Selalu online, kok. Gak, pernah Tuhan membuat status ‘maaf jangan diganggu, lagi sibuk!’ Iya, kan?”
“Hmmm, Mama tau banget tentang Tuhan. Apa Mama juga punya kontak Tuhan?”
“Gak, Pa. Kan Tuhan memang bersifat seperti itu!”
“Baiklah, nanti aja Papa sapa Tuhan!”
Tak sabar ingin menyapa Tuhan. Sebaiknya menunggu malam. Semua orang terlelap. Jadi bisa fokus ngobrol sama Tuhan. Gimana ya rasanya ngobrol sama Tuhan. Seumur-umur belum pernah ngomong sama Tuhan. Selama ini ngomong sama Tuhan hanya searah. Rata-rata temanku juga bilang. Gak ada yang pernah berbincang-bincang dengan Tuhan. Mereka mengaku hanya berbincang searah. Jadi gak pernah tau jawaban Tuhan seperti apa atas semua permasalahan hidup. Seolah-olah curhat yang sia-sia.
“Papa tidurnya jangan malam-malam, ya?”
“Iya, Ma. Ini papa lagi nunggu waktu WA-an sama Tuhan.”
“Oke, sampaikan salam Mama, ya?”
“Gak mau, salam itu harus disampaikan langsung Ma kepada Tuhan. Kalau titip-titip sepertinya gak sopan.”
“Iya, iya! Mama tidur duluan ya, Pa.”
“Baik, Ma. Met rehat, ya?”
Isteriku menuju kamar. Aku masih di ruang tengah. Kira-kira sapaan pertamaku gimana ya? Masak kubilang assalamu alaikum? Toh pemilik keselamatan dan kesejahteraan hanya Dia. Bisa-bisa tersinggung dan marah besar kalau aku bilang begitu. Tuhan kok didoakan. Aneh. La, terus, apa ya kira-kira kalimat pertamaku? Mau langsung videocall juga gak enak. Sungkan sekali. Takut melanggar privasi ketuhanan.
Apa kuawali dengan kalimat ‘Wahai, Tuhan yang baik. Perkenal nama saya....’ gak enak juga. Nanti dikira aku mengakui ada Tuhan lain yang tidak baik. Atau dikira ada Tuhan yang baik, ada yang tidak baik, dan ada yang sangat baik. Bisa-bisa dihukumi syirik aku! Apalagi kuawali dengan ucapan selamat malam, Tuhan akan marah.
Kalau Tuhan dan malaikat saja memberikan salam penghormatan kepada Nabi, kukira tak ada salahnya kalau aku membalas dengan mengawali WA-ku dengan salam. Baiklah, ini sudah kupikir dengan matang. Aku akan mengawali WA-ku dengan salam.
”Assalamu alaika, Tuhan!” sent.
Sejak kukirim duapuluh empat menit yang lalu belum ada balasan. Jangan-jangan bukan WA Tuhan. Apa anak-anak yang mengganti salah satu kontak menjadi nama Tuhan? Atau ada teman iseng di kantor yang sengaja menambah kontak dengan nama Tuhan?
Mungkin Tuhan sedang sibuk, tapi apa mungkin Tuhan sibuk? Toh, semua tugas sudah dibagikan kepada para malaikat? Jangan-jangan aku terlalu banyak dosa sehingga Tuhan enggan menjawab WA-ku. Apa kalau banyak dosa Tuhan tak akan berbicara dengan pendosa? Aku kan juga hambaNya? Tidak mungkin Tuhan begitu.
Facebook saja sangat perhatian dengan usernya. Ia selalu menanyakan apa yang sedang dipikirkan penggunanya. Masak Tuhan kalah sama facebook? Sangat tak mungkin. Mungkin perlu tiga kali kuucapkan salam.
“Assalamu alaika, Tuhan!” sent.
Sudah bertanda biru. Berarti sudah terbaca oleh Tuhan. Mengapa masih belum membalas? Kalau sudah biru berarti ada harapan dibalas. Jangan tidak sabar, ya. Aku menghibur diri.
Sehari, dua hari, tiga hari belum juga ada balasan. Jangan-jangan memang bukan Tuhan. Atau kalau memang itu kontak WA Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak paham bahasa Tuhan. Atau karena aku pendosa sehingga Tuhan tidak mau membalas WA-ku? Benar-benar membuat galau. Tak pernah aku segalau ini. Biasanya kalau ada teman WA yang tidak merespon langsung kublokir. Nah, ini Tuhan! Masak kublokir? Toh, aku berharap Tuhan mau berbincang denganku sekali saja.
“Apa benar ini Tuhan?” sent.
“Y.”
Alhamdulillah, akhirnya terjawab juga WA-ku. Senanngnya tak terbayangkan walaupun hanya balasan satu huruf. Biasanya kalau sedang chat di WA ada jawaban satu huruf gitu langsung juga kublokir. La, ini Tuhan, walaupun membalas satu karakter saja aku sudah senang.
Berarti aku keliru menyapa Tuhan dengan salam. Tuhan pemilik salam. Tentu tak perlu salam dari ciptanNya. Kalau tidak salam, aku bingung memulai sapaan dengan Tuhan. Kalau video call dengan Tuhan sopan, tidak ya? Pasti melanggar privasi ketuhanan. Jangan sampai terjadi walaupun hatiku sangat penasaran.
“Kalau engkau mau tahu tentangku, cari nama Tihami. Ia tahu tentangku. Ia tahu sifatku. Iya tahu bahasaku. Mintalah petunjuk jalan kepadanya! Jangan hubungi aku lagi sebelum engkau memperoleh izin darinya!”
Ia engkau memang mahatahu apa yang kumau. Engkau memang Tuhan yang mahatahu. Balasan pertama singkat hanya satu huruf. Balasan kedua panjang dan terakhir. Itu kurasa sangat cukup buatku sebagai bekal pencarianku. Baiklah aku akan mencari Tihami sebagai wasilah mengenalMu, Tuhan.

Tihami. Siapakah orang hebat ini sehingga Tuhan merujuk kepadanya? Mengapa tidak langsung saja dengan sumber utamanya yakni Tuhan saja? Toh, harusnya kan cukup dengan Tuhan saja? Tihami, tiba-tiba nama itu terasa sangat akrab dengan diriku. Nama itu tiba-tiba menjadi pikiran utamaku. Di mana aku akan memperoleh informasi tentangnya? Para pembaca, ada yang tahu tentang nama ini? Kalau ada yang tahu, tolong WA aku ya di nomor 081-xxx-xxx-xxx (nomor disamarkan).