SEKOLAHKU MENYENANGKAN - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SEKOLAHKU MENYENANGKAN

Karya  Agatha Neysha Anindiar//Kelas IV-akademik//

Namaku Agatha Neysha Anindiar, biasa dipanggil Neysha. Aku bersekolah di satu-satunya SDN rujukan di Kabupaten Sumenep yaitu SDN Pangarangan III. Sekolah ini sejak awal berhasil membuatku tertarik. Banyak hal yang berbeda dengan sekolah lain. Biasanya murid-murid di sini datang ke sekolah antara jam 06.00 – 06.30 karena ada jam ke 0 yang harus kami ikuti sesuai jadwal. Jam ke 0, digunakan untuk melakukan pembiasaan kegiatan positif, dimulai jam 06.30 hingga 07.00. Senin hingga Sabtu. Dimulai dari upacara tiap Senin, kemudian hari Selasa hingga Jumat bergantian antara membaca buku di pojok literasi yang tersedia di setiap kelas dan membaca Al-Qur’an. Khusus hari Sabtu kami semua senam pagi.

Tiap pagi guru termasuk Kepala Sekolah menyambut siswa di depan gerbang, menyapa kami satu per satu dengan senyum hangat. Bahkan tak jarang juga menyapa wali murid yang mengantarkan putera-puterinya. Kami diajarkan untuk mencium tangan atau “salim” ke guru-guru. “Salim” ini pun tidak sembarang, salim sesuai adat istiadat Keraton Sumenep. Salim dimulai dengan “nun” (posisi kedua telapak tangan merapat seperti posisi menyembah) kemudian kepala menunduk dan mencium tangan guru tepat di hidung bukan di kening atau pipi. Gerakan salim ini ada maknanya, ada nilai penting yang ingin disampaikan yaitu kami orang Madura sangat menghormati dan berharap barokah ilmu dari guru. Murid yang membawa sepeda memarkir dulu sepedanya di luar untuk melakukan kegiatan “salim” ini, setelah itu baru sepeda dituntun memasuki area parkir.

Fasilitas di sekolahku cukup lengkap. Ruangan kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, dan ruang pertemuan tersedia. Fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tersedia lengkap dengan program dokter ciliknya. Toilet yang bersih serta kantin yang menyediakan jajanan sehat juga ada. Sekolahku juga memiliki halaman rindang nan luas, tempat kami bermain, upacara, atau kegiatan sekolah lainnya.

Laboratorium komputer digunakan bergantian oleh semua kelas sesuai jadwal. Seru ketika belajar di ruang ini karena siswa bisa belajar teknologi informasi ditemani guru yang sabar dan telaten. Aku juga sering ke perpustakaan. Jajaran buku yang tertata rapi hampir semua telah kulahap. Aku punya mimpi semoga suatu saat ada donatur yang mau memberi sekolahku buku-buku lebih banyak lagi. Semakin banyak buku semakin membuat kita semangat.

Oh ya, ini bagian yang paling aku suka, aku akan bercerita tentang kegiatan di UKS. Kebetulan cita-citaku adalah ingin menjadi dokter. Bukan berarti ikut-ikutan karena hampir semua anak bercita-cita menjadi dokter, tapi bagiku menjadi dokter itu bisa membantu banyak orang. Jadi ketika ada program sekolah “Kader Tiwisada” atau dokter cilik, aku mengajukan diri untuk ikut serta. Untuk bisa menjadi dokter cilik, ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu siswa harus berpakaian bersih dan rapi serta harus selalu menjaga kebersihan diri. Aku diterima menjadi dokter cilik di sekolah. Dokter cilik memiliki tugas untuk membantu guru mengobati siswa yang sedang sakit. Dokter cilik ini diberi pelatihan untuk pertolongan pertama oleh dokter dari Puskesmas atau dinas kesehatan.

Selain bercerita tentang kondisi fisik sekolah, aku juga ingin bercerita tentang pembiasaan makan makanan sehat yang diwujudkan dengan “Gerakan membawa bekal”. Bekal sekolah ini dibawa siswa dengan menu rumahan, menu yang bergizi untuk menghindari anak memakan jajanan yang tidak sehat. Acara membawa bekal ini diikuti dengan acara makan bersama. Guruku juga ikut membawa bekal ke sekolah. Tiap makan bersama, kita bisa berbagi cerita, atau bahkan berbagi lauk. Tak jarang kami juga sering tertawa bersama.

Sekolahku juga mendukung pengembangan jiwa seni siswanya dengan memberikan fasilitas berupa sanggar “Karembangan”. Aku dan teman-teman bisa belajar bernyanyi lagu daerah, tarian daerah, teater hingga sekolah kami menciptakan pertunjukan cupsong. Cupsong sesuai namanya berarti bernyanyi dengan mengandalkan keterampilan menggunakan gelas plastik untuk menghasilkan suara rancak dan menjadi nada mengiringi alunan lagu Madura. Seru sekali sekolahku, aku bisa belajar apa saja. Belajar tentang pelajaran bahkan belajar kesenian khas “Madura.”  Semakin semangat, semakin cinta kesenian Madura.

Aku sekarang  berada di kelas IV Akademik. Kelas IV akademik ini berarti untuk anak-anak yang memiliki minat terhadap bidang akademik. selain akademik, ada kelas IV kreatif, untuk mereka yang memiliki minat dan tingkat kreatifitas seni yang tinggi, dan kelas IV Bina prestasi. Pembagian kelas ini untuk memaksimalkan minat siswa. Di sekolahku, guru dan siswa bebas menentukan tema kelas. Proses belajar mengajar tidak kaku, tapi dikembangkan sesuai kondisi masing-masing kelas. Guru-guruku di sekolah sangat kreatif mengembangkan cara menemani anak-anak belajar. Di Kelasku bertema “Kelas Nasionalis”. Tiap pagi, kelas selalu dimulai dengan berdoa, hormat kepada bendera sambil menyanyikan lagu indonesia Raya. Setelah itu, aktivitas jam ke 0 dimulai sesuai jadwal. Pelajaran pun dimulai dengan cara berkelompok, presentasi, diskusi, atau sambil melakukan permainan. Di kelasku semua anak bebas menyalurkan bakat dan kreatifitas.

Sistem poin digunakan di kelasku. Sistem ini bukan semata-mata mengambil nilai dari mata pelajaran saja, namun semangat dan kreatifitas siswa juga dihargai dengan poin. Contoh apabila mereka telah selesai membaca di pojok literasi kemudian meringkas buku yang dibaca, maka akan mendapat poin. Siswa yang bisa bernyanyi kemudian tampil bernyanyi dan diunggah ke grup wali siswa, maka juga akan mendapat poin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Poin ini dikumpulkan tiap minggu, ditulis sendiri oleh siswa (belajar jujur), dan ditandatangani oleh wali siswa di buku poin. Pemilik poin tertinggi akan mendapat pin Garuda dan terendah akan mendapat pin hitam. pin ini adalah semacam penghargaan atas “semangat” bukan  nilai akademis saja. Semua siswa sangat bersemangat, ada teman yang pertama masuk dapat pin hitam, kemudian karena usahanya bisa berubah menjadi pin Garuda. Begitulah cerita sistem poin di sekolahku. Saat bel pulang berbunyi, kelas nasionalis membaca doa, setelah itu membaca naskah proklamasi. Sungguh nuansa nasionalisme yang kental sangat terasa setiap hari.  Selain siswa tahu tentang simbol dan sejarah penting bangsa, juga agar semanagat cinta tanah air tertanam kuat dalam diri mereka. Semoga ke depan di antara kami ada yang menjadi pemimpin negeri ini. Begitulah harapan guru kami. Keren kan?

Oh ya, selain cinta tanah air, kelasku juga berusaha menanamkan cinta bahasa Madura. Setiap hari Sabtu kita semua menggunakan bahasa Madura dalam setiap percakapan. Banyak kejadian lucu kalau hari Sabtu karena mereka yang aslinya berasal dari suku di luar Madura, sering “medok” atau intonasinya lucu ketika mengucapkan bahasa Madura. Kami sering tertawa, tapi kami tidak mem-bully-nya.  Kami senang bisa berbahasa Madura bersama.


Selain  jiwa nasionalisme,  kelasku juga  belajar berwirausaha. Siswa bergiliran berjualan kue. Modal untuk berjualan sebesar Rp 30.000. Hasilnya akan dikumpulkan sebagai kas kelas. Kas kelas sudah cukup untuk membeli kaos “merah putih”, identitas kelas nasionalis. Cita-cita besar kami adalah uang kas kami cukup untuk berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Di kelasku juga memberikan wadah bagi anak-anak yang minat di teknologi informasi untuk menjadi admin di media sosial kelas. Instagram  kelasku @kelasnasionalis dan channel Youtube “kelas nasionalis.” Pokoknya kelasku benar-benar seru. Aku memiliki teman-teman yang baik, guru yang asik, dan banyak pengalamanku di sini. Tak lupa aku juga suka berteman dengan kelas lain. Pokoknya sekolah ini adalah sekolah terbaik bagiku.

1 komentar untuk "SEKOLAHKU MENYENANGKAN"

  1. Nesya.....bagus tulisannya. banyak membaca terus pastikaya kosakatanya.Sukses ya Buat Nesya. (Oba' Andi)

    BalasHapus