SAYA TERUSIK - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SAYA TERUSIK

Oleh Andilala.

Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita” Pidato Bung Hatta dalam pembukaan Rapat Besar di Lapangan Ikada di Jakarta tanggal 11 September 1944.
Kepercayaan sekaligus harapan dari bung Hatta selaku founding father, seirama dengan harapan dan target presiden Republik Indonesia yang ke-7.

“"Kita akan bisa melahirkan generasi emas Indonesia. Generasi yang produktif, generasi visioner.” Kutipan Pidato bapak Joko Widodo dalam acara Puncak Peringatan ke-23 Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2016 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. (news.liputan6.com tanggal 30 juni 2016)
Para pendiri dan pemimpin bangsa sangat menaruh harapan besar terhadap pemuda sebagai pemangku masa depan bangsa, untuk mewujudkan harapan itu merupakan kewajiban bagiku sebagai seorang guru.

Menjadikan pemuda sebagai generasi yang mempunyai kebulatan hati, sanggup berjuang, mau menderita, produktif, dan visioner harus dimulai sejak usia anak-anak dengan melakukan character building untuk menemukan dan mengembangkan potensinya bukan menjadikan anak-anak sebagai bahan baku dan sekolah sebagai tempat produksi, kondisi tersebut semakin diperparah oleh kasus-kasus pelanggaran yang terjadi pada anak-anak kita yang digadang-gadang sebagai calon generasi emas. Berikut statement yang disampaikan oleh bapak Susanto salah satu pengurus KPAI.

"Meski ada kemajuan dalam penyelenggaraan perlindungan anak, kasus pelanggaran anak masih kompleks. Trend kasus pelanggaran anak mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, tahun 2014 mencapai 5.066 kasus. Tahun 2015, 4.309 kasus dan tahun 2016 mencapai 4.620 kasus. Khusus pornografi merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Data tahun 2016, anak korban pornografi mencapai 587. Hal ini menduduki rangking ke 3 setelah kasus anak berhadapan dg hukum mencapai 1.314 kasus dan kasus anak dalam bidang keluarga 857 kasus," ungkap Susanto urai Susanto kepada SINDOnews. Minggu, 23/7/2017 ( metro.sindonews.com)

Menelaah data KPAI diatas ditambah dengan mempelajari  Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tetang penguatan pendidikan karakter yang selanjutnya disebut PPK, Membuat saya merasa terusik untuk tidak berpangku tangan. Apapun kebijakan presiden dibidang pendidikan khusunya PPK akan menjadi pepesan kosong jika  saya dan teman-teman seprofesi apatis terhadap fenomena anak-anak Indonesia. 

Rasa terusik itulah yang mengispirasi saya untuk membentuk kelas Nasionalis di kelas IV akademik SDN Pangarangan III Kabupaten Sumenep, tempat saya mengabdi. Dimulai dari pintu yang bertuliskan “ DILARANG MASUK KECUALI NASIONALIS” dengan memberikan penguatan mental  pada anak-anak bahwa yang berada didalam kelas adalah orang-orang nasionalis. Didalam ruangan terdapat miniatur tongkat komando Bung karno yang bertuliskan toleransi,kejujuran,persatuan, dan kebangsaan tongkat komando yang berisi pesan-pesan itulah harus dipegang secara estafet oleh anak-anak kelas nasionalis dari generasi ke generasi. Pada perpustakaan mini bertemakan “ Indonesia Membaca” bahwa apapun yang kita baca dan pengetahuan yang kita dapatkan semuanya untuk  Indonesia. Pada dinding samping atas terdapat foto presiden ke-1 sampai presiden ke -7 sedangkan pada bingkai berikutnya bertuliskan “Presiden selanjutnya akan terlahir dari kelas ini”. Didekat bendera merah putih terdapat teks proklamasi dan sumpah pemuda yang mereka baca secara bersama-sama setiap mau pulang sekolah.

Saya juga berusaha menyederhanakan nilai-nilai yang terkandung dalam PANCASILA sehingga mudah dipahami oleh anak-anak saya di kelas nasionalis dengan menjadikannya nama kelompok belajar. Terdapat lima kelompok belajar didalam kelas nasionalis. pertama, kelompok bintang yang bermakna semangat beribadah, seseorang tidak dikatakan nasionalis jika tidak berpegang teguh pada ajaran agamanya dan tidak semangat dalam menjalankan ibadahnya sehingga berimplikasi terhadap kekhusyu’an anak-anak dalam berdo’a memulai dan mengakhiri pelajaran (sikap Religius) . Kedua, kelompok rantai yang bermakna semangat menghargai hak orang lain; bukan seorang nasionalis jika masih menginjak-injak hak orang lain demi kepentingan diri sendiri maupun kelompoknya. Ketiga, pohon beringin yang bermakna semangat bersatu; seorang Nasionalis akan berusaha untuk selalu menjaga keutuhan bangsa dan negara dengan menjadikan perbedaan sebagai anugrah bukan sebagai alasan untuk bermusuhan.keempat, kepala banteng yang bermakna semangat bermusyawarah; seorang nasionalis tidak akan pernah merasa yang paling benar sehingga apapun keputusan yang diambil harus berdasarkan kesepakatan bersama. Kelima, padi dan kapas yang bermakna semangat berbuat adil; seorang nasionalis selalu berbuat adil terhadap sesama.

Anak-anak kelas Nasionalis selalu meneriakkan semangat nilai-nilai pancasila dalam bentuk yel-yel kelas dengan meresapi nilai-nilai yang terkandung dari setiap lambang yang mereka ucapkan; ketika saya meneriakkan kata “SEMANGATKU” maka direspon dengan cepat dan lantang oleh kelompok pertama dengan meneriakkan “ BINTANG” dilanjutkan kelompok kedua meneriakkan “ RANTAI” kelompok ketiga meneriakkan “ POHON BERINGIN” kemudian kelompok keempat meneriakkan “ KEPALA BANTENG” dan kelompok kelima meneriakkan “ PADI dan KAPAS” setelah itu saya mengucapkan “ KELAS IV AKADEMIK” direspon dengan ucapan “ KECE”(bagi anak kelas nasionalis, kece itu adalah smart ) dan terakhir saya mengucapkan “ INDONESIA” mereka menjawab “ LUAR (mengepal dan mengangkat tangan kanan) LUAR (mengepal dan mengangkat tangan kiri) LUAR BIASA (menunjuk dan menengadah kelangit)”. Yel-yel dapat dilihat di channel youtube dengan menegtik kelas nasionalis atau Instagram dengan mengetik @kelasnasionalis.

Sebelum pelajaran dimulai anak-anak kelas nasionalis menjajakan jualan yang dibuat oleh mereka di rumah dengan dibantu oleh orang tuanya berupa minuman ataupun kue. Mereka menjajakannya kepada teman-teman mereka, guru, kepala sekolah, maupun wali murid yang kebetulan mengantarkan anaknya. Bahkan anak-anak kelas nasionalis berani melobi kepala sekolah supaya setiap kebutuhan konsumsi rapat memesan kepada mereka. Anak-anak  kelas nasionalis saling bekerja sama dalam berjualan tetapi bergantian dalam membuat kue maupun minuman dengan jadwal yang mereka susun sendiri, setiap anak mendapat modal sebesar Rp.30.000 dengan modal awal diambil dari kas kelas. Keuntungan yang didapat selama berjualan dari bulan Agustus 2017 s/d Oktober 2017 sebesar  Rp. 1.378.000. dari keuntungan itu mereka mampu mewujudkan salah satu mimpinya untuk membeli kaos seragam kelas nasionalis. Mereka sekarang sedang berusaha untuk mewujudkan mimipi kedua mereka yaitu berziarah ke makam Bung Karno. Inilah sikap mandiri dan bergotong royong  dalam berwirausaha yang dilakukan kelas nasionalis untuk mewujudkan tujuan mereka.      

Kegiatan didalam kelas Nasionalis diawali dengan berdo’a untuk memulai pelajaran,saya selalu mengarahkan anak-anak untuk menundukkan kepalanya dan menengadahkan kedua tangannya sambil meresapi arti dari do’a yang mereka baca karena do’a merupakan media komunikasi dengan Tuhan. Selanjutnya anak-anak  menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya memberikan motivasi kepada anak-anak untuk  membayangkan cita-cita yang ingin dicapai pada waktu menyanyikan lagu Indonesia raya, misalnya: yang ingin menjadi pemain bola menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambil malakukan afirmasi terhadap dirinya bahwa mereka berada ditengah lapangan sedang membela Tim Nasional Indonesia. Mereka melakukan afirmasi sesuai cita-cita mereka masing-masing.

Kegiatan pembiasaan dimulai pada jam pelajaran ke Nol sesuai jadwal yang telah disusun; jika jadwal mengaji, anak-anak kelas Nasional mengaji Al-quran dengan cara tadarus yang dipimpin oleh anak-anak yang hafal Juz/surah tertentu, sehingga dapat memotivasi teman-temannya untuk belajar menghafal Al-quran. Jika jadwalnya membaca buku, maka mereka membaca buku sesuai keinginan mereka, buku yang mereka baca dibawa dari rumah masing-masing yang diletakkan di perpustakaan mini “Indonesia Membaca”, setiap dua minggu sekali mereka menggantinya. Setelah selesai membaca satu judul buku saya memotivasi anak-anak untuk membuat resume.

Ketika jadwal pelajaran jam pertama dimulai anak-anak belajar dengan aktif, saya memotivasi mereka dengan sistem POIN, anak-anak berkompetisi untuk mendapat Poin sebanyak mungkin sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Setiap pekan Poin akan dihitung, Anak yang memperoleh poin tertinggi akan dinobatkan sebagai student of the week dengan prosesi penyematan pin garuda. Saya kagum kepada anak-anak karena mereka mempunyai semangat berkompetisi yang sangat tinggi tetapi tidak lupa untuk saling berbagi tanpa melihat perbedaan, mereka berkompetisi dengan suasana saling membantu dan menolong. Menurut saya inilah makna dasar dari integritas, tetap menjaga keutuhan meskipun dalam atmosfer kompetisi.

Di tengah proses pembelajaran anak-anak saya motivasi supaya terbiasa melakukan budaya antri dan budaya bersedekah, mereka harus antri dengan tertib setiap mau mengumpulkan hasil pekerjaan mereka kepada saya dan merekah menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk disumbangkan kepada anak yatim melalui kotak sedekah yang sudah disiapkan dimeja saya, tentunya diawali dengan contoh nyata dari saya.

Setiap penilaian saya selalu menulis “ berbuatlah jujur karena Allah Maha melihat lagi maha mendengar” (anak-anak kelas nasionalis beragama islam), tulisan itu memotivasi mereka untuk berbuat jujur sehingga proses menjawab soal, koreksi, dan menginput nilai kedalam analisis di laptop dilakukan oleh masing-masing siswa dengan ditayangkan melalui LCD proyektor tanpa ada pengawasan secara ketat dari saya. Saya percaya mereka mau berbuat jujur, tetapi kadang-kadang kita yang tidak memberinya kesempatan.

Diakhir Kegiatan pembelajaran, anak-anak menceritakan pengalaman terbaik yang mereka dapatkan selama berada disekolah kemudian mereka berjanji bahwa pengalaman terbaik itu akan dilakukan di rumah dan di masyarakat. Saya selalu meminta supaya mereka menjadi agen perubahan prilaku dilingkungannya, saya meyakini gerakan untuk merubah prilaku masyarakat kearah yang lebih baik lebih efektif jika dipelopori anak-anak dibandingkan doktrin dari sesama orang dewasa.

Semua kegiatan yang dilakukan dikelas maupun disekolah akan berjalan pincang jika tidak ada partisipasi aktif dan kesadaran orang tua, untuk itu diawal tahun pelajaran saya mengadakan pertemuan untuk melakukan kesepahaman dengan orang tua dari anak-anak kelas nasionalis; saya menyampaikan bahwa pada prinsipnya saya sekedar membantu mendidik anak-anak mereka kewajiban utama untuk mendidik tetap berada dipundak orang tua, jadi orang tua harus berperan aktif dalam proses tumbuh kembang anak-anaknya baik disekolah,dirumah, dan dilingkungan masyarakat. sehingga orang tua harus berkomunikasi secara intens dengan saya sebagai guru melalui berbagai media sosial atau berkonsultasi secara langsung. Saya juga memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa belajar bukan sekedar mendapatkan nilai diatas kertas melainkan bagaimana anak-anak mendapat pengalaman terbaik sehingga orang tua harus meluangkan waktu ketika anak-anak pulang sekolah untuk menanyakan pengalaman  yang sudah didapat disekolah bukan bertanya berapa nilai yang diperoleh. Semua kesepahaman dalam pertemuan itu dituangkan dalam nota kesepahaman bersama.  Setiap tiga bulan saya rutin mengadakan pertemuan dengan orang tua, untuk mengevaluasi realisasi nota kesepahaman bersama.   

Saya sebagai guru melakukan semua upaya diatas untuk menumbuhkan sikap Religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas karena jika hari ini anak-anak kita tidak memiliki sikap tersebut maka generasi emas Indonesia tidak akan pernah lahir. Saya melakukan semua upaya bukan karena saya profesional tapi karena saya terusik terhadap fenomena anak-anak saat ini. Sudahkah teman-teman Guru terusik?

Posting Komentar untuk "SAYA TERUSIK"

  • Bagikan