Pentol Bakso Bergelimpangan - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentol Bakso Bergelimpangan

Parto dan Paimin ugal-ugalan di jalan. Mereka penjual bakso keliling dengan sepeda motor. Dua-duanya agak miring pikirannya. Jualan sepi. Dari pagi ke siang belum ada penglaris. Untuk menghibur hati, keduanya kebut-kebutan di jalan. Meliuk-liukkan sepedanya sehingga terlihat dari jauh seperti balapan kardus.
Sepanjang jalan orang-orang melongo menyaksikan ulah Parto dan Paimin. Ada yang mengelus dada mendoakan mereka selamat di jalan. Parto dan Paimin masih asik meliuk-liukkan sepeda motor mereka sambil cekakak-cekikik kadang terbahak-bahak. Kadang Parto yang di depan, kadang juga Paimin.
Tawa mereka yang renyah di sepanjang jalan tiba-tiba terhenti. Terjadi benturan hebat.
“Braaak, kedubraak!! Sreeet! Duooor!!!”
“Ya, Allaaah!!!” suara histeris orang-orang di tepi jalan.
Parto dan Paimin terjungkal, terlempar, terseret menjauhi rombong bakso mereka. Helm-helm mereka menggelingding. Kaca mata Parto tersangkut di ranting pohon. Sementara rombong bakso mereka terburai isinya. Pentol-pentol bergelindingan dengan uap panas menari-nari. Kuah dalam kuali bakso mereka juga tumpah-ruah membanjiri aspal. Botol-botol pecah berserakan.
Orang-orang menyerbu mereka. Mereka menolong Parto dan Paimin. Ada yang membantu menegakkan sepeda motornya, ada yang memunguti sendok dan garpu, ember, tabung gas, sandal, dan botol cuka. Mereka meminggirkan sepeda motor dan rombong bakso. Ada yang memunguti helm. Ada pula yang langsung ke arah Parto dan Paimin, membantu mereka berdiri dan menuntunnya ke tepian.
Parto dan Paimin celingak-celinguk, kemudian tertawa lagi lebih keras. Mereka terbahak-bahak sepertinya bahagia. Orang-orang yang menolongnya terheran-heran padahal kondisi Parto dan Paimin terluka. Ringan, tapi justru malah terbahak-bahak. Mereka yang menolong akhirnya pun tertawa. Tak perlu menanyakan “Pak, Mas, tidak apa-apa?”
Cuma ada bapak tua yang bilang begini: “Lain kali lebih hati-hati, ya?”
“Makasih, Om!” jawab Parto.
Sepeda motor keduanya tidak bisa jalan lagi bahkan tidak bisa nyala lagi. Mereka harus mendorongnya setidaknya sampai ke bengkel. Rombong mereka sudah ringsek, tak terselamatkan. Rangka kayu penopang rombong, patah. Kacanya juga hancur. Mereka harus memperbaikinya. Itu langkah yang hemat. Kalau harus bikin rombong baru, tak mungkin. Kecelakaan itu telah membuat mereka rugi besar. Rugi modal dan harus membiayai perawatan sepedanya, juga memperbaiki rombongnya.
Pentol mereka laris manis dilindas mobil, motor, dan becak. Laris manis seperti habis laku terjual. Tapi, mereka tetap saja tertawa. Tak tampak wajah kesedihan di mata mereka. Mereka pun akhirnya sama-sama pulang.
 Sepeda motor mereka tak bisa langsung beres. Besoknya baru selesai diservis. Mereka hanya membawa pulang rombongnya dengan becak. Di rumah, isteri-isteri mereka sudah menunggu.

Di rumah Parto.
Narti sedang mendulang anaknya yang kelima, sore itu. Buah cintanya dengan Parto. Narti terkaget-kaget melihat suaminya di atas becak dengan rombong baksonya yang ringsek.
“Duh Gusti, Bapak kenapa? Bapak kecelakaan? Bapak terluka ini!” isterinya tampak panik.
“Tenang, Bu. Bapak tidak apa-apa! Hanya terjatuh tadi!”
Narti pun membantu menurunkan rombong baksonya. Parto juga dipapahnya masuk rumah. Parto didudukkan di kursi ruang tengah kemudian Narti ke dapur menyalakan kompor sambil menggendong anaknya.
Luka lecet Parto disekanya dengan air hangat. Parto sedikit merenges menahan nyeri. Baru terasa nyeri padahal tadinya ia tidak merasakan apa-apa.
“Lain kali, Bapak hati-hati! Aku tak mau Bapak kenapa-napa!”
“Iya, Bu!”
Tidak biasanya Narti menemani Parto. Parto dikeloninya biar pulas. Ternyata Parto tidak tidur-tidur malah minta jatah. Narti hanya pasrah.

Di Rumah Paimin
Sesampai Paimin di rumah dengan becak, isterinya melihatnya kemudian beriteriak.
“Hancuuur! Hancuuur!!”
“Apanya yang hancur sayang, Mas gapapa!”
“Modalnya hancur Mas. Kamu apakan  hingga hancur seperti ini! Bukannya membawa untung malah bawa buntung!”
“Yang penting Mas selamat, sayang!”
“Selamat, selamat! Kalau begini, dari mana lagi dapat modal?”
“Sabar, sayang!”
“Mana sepedanya?”
“Masih di bengkel, Dik!”
“Gobloook! Itu baru cicilan ketiga, Mas! Mikir! Jangan ngawur gini!”
“Loh, siapa yang ngawur, ini kan kecelakaan!”
“Kecelakaan, kecelakaan! Paling matanya jelalatan! Makanya hancur gini!”
Bukannya membantu menurunkan rombong dan memapah suaminya masuk rumah, malah dimarahi. Sumi memang begitu. Sangat berbeda dengan Narti, isteri Parto.
“Sana mandi! Bersihkan lukanya!”
“Buatin air panas, dong!”
“Bikin sendiri! Salah siapa?”

Paimin menyalakan kompor kemudian mandi dengan air hangat. Rencananya ia ingin tidur dengan isterinya malam itu. Tapi, Sumi sudah tengkurap duluan di antara tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Paimin gigit jari.


Posting Komentar untuk "Pentol Bakso Bergelimpangan"

  • Bagikan