Membayangkan Naik Pesawat - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membayangkan Naik Pesawat

Membayangkan Naik Pesawat


Di bawah pohon cerry, aku duduk mendengarkan lagu ‘Menunggu” Rhoma Irama. Di atas pohon cerry, pesawat lewat. Asapnya membuat garis putih memanjang. Saat lihat pesawat ketika kududuk di bawah pohon cerry itulah, imajinasi pertamaku tentang naik pesawat.

Sebenarnya aku habis membaca buku The Secret, karya Rhonda Byrney. Dalam buku itu mengulas tentang hukum magnet alam semesta. Intinya, apa yang dipikirkan akan menarik segala sesuatu tentang yang dipikirkan itu. Imajinasi akan menarik bayangan itu menjadi nyata. Benarkah? Nah, awal pembuktiannya kutargetkan ke naik pesawat yang lewat di atas pohon cerry itu.

Kadang, pikiran logis tidak mau menerima. Ia selalu menegasikan apa pun imajinasi kita. Seolah-olah pikiran negasi itu bilang, “Ah, tak mungkin kamu bisa naik pesawat. Lagian mau kemana? Punya uang banyak? Yah, apalah-apalah, yang penting aku mencoba mengimajinasikan naik pesawat.

Kondisiku waktu itu begitu banyak beban hidup. Tak perlulah kuceritakan. Pikirku, dengan mengimajinasikan naik pesawat hatiku sedikit terhibur. Menurut buku itu imajinasikanlah dengan detil. Karena imajinasiku tentang naik pesawat, maka kuimajinasikan bagaimana duduk di atas pesawat, memandangi awan yang berkumpul. Getaran pesawat membentur awan dan angin. Hilir-mudiknya pramugari menawarkan layanan. Aroma dalam pesawat. Sabuk pengaman seolah-olah terasa mengikat pahaku. Kerlingan pramugari. Duduk dekat jendela pesawat memandangi dataran bumi yang makin mengecil isinya. Rumah-rumah mengecil. Pohon-pohon mengecil. Mobil dan manusia menjadi sangat kecil kemudian lenyap sehingga yang tampak hanya daratan dan oerairan.

Lagu yang kuplay sangat cocok suasananya. Seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk naik pesawat beneran. Apakah sama mengimajinasikan sesuatu sama dengan berdoa? Menurutku sih sama. Toh, itu keinginan dan tak ada yang bisa mengabulkan keinginan tanpa diketahui Tuhan. Tuhanlah yang pada akhirnya berhak menentukan untuk mewujudkan keinginan itu atau membiarkannya tetap sebagai impian atau imajinasi.

Hampir setiap hari sepulang kerja ketika sore hari yang kulakukan adalah membayangkan naik pesawat. Sekali saja seumur hidupku waktu itu belum pernah naik pesawat. Apakah Tuhan tega membiarkanku mati penasaran naik pesawat? Tak mungkinlah menurutku. Dia kan mahakaya, mahabesar, maha Pemurah, maha Mengabulkan, masa untuk urusan sekecil pesawat saja tidak mau memberikan kesempatan. Toh, aku hanya ingin naik pesawat, bukan membeli pesawat.

Setiap selesai membayangkan naik pesawat sambil mendengarkan lagu yang sama, aku selalu mengafirmasi bahwa suatu saat pada tahun itu aku akan diberi kesempatan oleh Tuhan, terkabul naik pesawat. Aku yakini itu. Yah, aku yakin. Yakin membabi buta. Tak pernah lagi aku menggunakan kata ‘tapi.’ Karena ketika keinginan kuat diracuni dengan kata ;tapi’ akan hancur separuhnya dan pasti tidak akan berhasil. Prinsip ini juga kuyakini dengan membabi buta.

Imajinasiku tidak mendiktekan tujuan. Terserah Tuhan saja aku mau diberi kesempatan naik pesawat ke mana pun. Aku pasrah. Tidak penting tujuan pesawat itu kemana. Yang terpenting aku naik pesawat. Itu saja. Tuhan, tapi jangan ke akhirat dulu ya tujuannya. Aku masih muda. Masih banyak yang ingin kulakukan sedikitnya menjadi yang berguna.
Sudah sebulan lebih imajinasiku berjalan. Sebuah buku lagi menguatkan keyakinanku. Judulnya The Answer, karya Bob Proctor. Ternyata ia adalah guru si penulis The Secret. Buku itu mengatakan bahwa apa saja yang kita imajinasikan akan menjadi titik-titik yang lebih kecil dari atom. Frekuensi dari imajinasi kita itu akan menjadi bentuk di alam semesta. Ketika bentuk titik-titik atom itu telah sempurna wujudnya, ia akan menjelma menjadi nyata. Ah, benarkah? Bisa jadi. Yah, bisa jadi begitu.

Tepat tiga bulan sejak mengawali imajinasiku, aku mendapatkan panggilan resmi untuk melanjutkan kuliah. Sandwitch Program. Sebagian kuliah di dalam negeri sebagian waktunya lagi di luar negeri. Berarti naik pesawat? Tanyaku kepada yang mengabariku. Yah, naik pesawat yang pertama kalinya langsung tiga kali dengan tiga pesawat yang berbeda. Tujuan Juanda-Singapura. Singapura-Manila dan Manila-Naga City. Wao, Tuhan memang super. Aku benar-benar naik pesawat tiga kali sekali jalan.

Sebentar, walaupun itu pengalaman pertamaku naik pesawat, tapi tidak kutunjukkan, lho. Aku tetap bersikap wajar seolah-olah seudah serng naik pesawat. Aku berkomunikasi dengan sebelah-sebelahku seperlunya. Jaga imej. Dengan turis juga harus begitu. Yang wajar saja karena sebagian mereka suka menyindir orang-orang Indonesia dengan sebutan Simpe Human. Mereka kira kita orang purbakala. Hahaha.
Setelah beberapa bulan di Naga City, aku pun naik pesawat lagi tiga kali sekali jalan. Semua sudah enam pesawat kunaiki. Wah, Tuhan bercandanya kelewatan, tapi kusuka. Imajinasiku tercapai. Sukses.


Inilah sedikit pengalaman tentang imajinasi. Imajinasikan, afirmasi, yakini. Selesai. Tekan munculnya pikiran yang diawali dengan kata ‘tapi.’ Kata itu bisa menghancurkan keyakinan. Lakukan dengan sukarela dan suka hati. Ciptakan suasana hati pada tingkat sangat ingin hingga ngiler. Kalau sudah ngiler, tidak lama lagi imajinasi itu mewujud jadi kenyataan. Buktikan!

Posting Komentar untuk "Membayangkan Naik Pesawat"

  • Bagikan