LILIK ROSIDA IRMAWATI: PRIHATIN TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI DI SUMENEP - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

LILIK ROSIDA IRMAWATI: PRIHATIN TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI DI SUMENEP

Oleh Liza Ulfa Maesura

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Pepatah itu cocok untuk menggambarkan sosok wanita kelahiran jember 16 Juli 1964 yang satu ini. Sejak menikah dengan Syaf Anton W.R. pada tahun 1984 dan menetap di Sumenep kecintaan dan kepeduliaannya terhadap budaya Sumenep tidak perlu diragukan lagi. Karya-karyanya mulai dari buku pendidikan sampai pentigraf banyak bertemakan khas budaya Sumenep, khususnya bahasa Madura. Bisa dikatakan kemampuannya dalam Bahasa Madura bisa jadi melebihi kemampuan penduduk asli setempat.

“Saya prihatin sekali terhadap dunia literasi Sumenep khususnya guru SD. Mereka sangat minim kemampuan di bidang itu.” Kata ibu tiga anak ini. Saat ditanya alasan mendirikan Rumah Literasi.

Posisinya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Sumenep membuatnya mengenal betul kondisi dunia pendidikan di Sumenep saat ini. Ia sangat menyayangkan jika para guru SD kurang aktif berliterasi karena kemampuan guru berliterasi dapat ditularkan kepada murid-murid sehingga masa depan dunia literasi Sumenep menjadi lebih baik lagi.

“Banyak anak didik kita yang pandai membaca. Bahkan mungkin kelas satu SD saja sudah sangat lancar membaca. Tetapi sangat jarang di antara mereka yang paham apa yang mereka baca meski sudah kelas 6 SD sekalipun. Memahami bacaan atau mengerti betul maksud bacaan itulah literasi. Bahkan literasi memiliki makna yang lebih luas daripada itu,” ungkapnya.

Besar keinginan dan harapan wanita yang biasa saya sapa Bu Lilik ini terhadap organisasi yang awalnya ia dirikan dari berbagai obrolan sesama guru, yang kemudian atas dasar memiliki keinginan dan tujuan yang sama, maka dibentuklah organisasi yang bergerak di bidang literasi. Karena gayung bersambut, maka Bu Lilik tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di sela-sela kesibukannya ia mengundang beberapa guru dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda untuk menyatukan tujuan, visi, dan misi sebagai kelanjutan dari pertemuan sebelumnya.

“Karena kebanyakan dari kami itu guru, bahkan ada yang dosen. Maka agak susah mencari hari yang tepat untuk menjadwalkan pertemuan.” Ucapnya seraya tersenyum. ”Biasanya antara sabtu sore dan minggu pagi sering menjadi pilihan waktu yang tepat.” Lanjutnya.

Tepat pada tanggal 11 November 2016 disepakati terbentuknya Rumah Literasi Sumenep beserta pengurusnya yang berjumlah belasan orang. Kemudian organisasi ini diresmikan dan dikuatkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor AHU-0006409.AH.01.07.2017. Sejak diresmikan Bu Lilik semakin giat untuk menularkan semangatnya kepada guru-guru yang lain. Sehingga ia tak berhenti merajut mimpi dengan membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Rulis (Rumah Literasi Sumenep) ke depannya.

Maka sebagai wujud mimpi besarnya itu, tepat pada tanggal 25 Maret 2017 Ia bersama pengurus Rumah Literasi Sumenep lainnya mengadakan workshop kepenulisan untuk guru-guru sekolah dasar se-kabupaten yang bertempat di aula SMA PGRI Sumenep. Narasumber yang melatih para guru pada acara tersebut adalah Moch. Khoiri, M. Fauzi, dan M. Shoim Anwar. Acara tersebut sukses dihadiri puluhan guru SD perwakilan dari berbagai kecamatan. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Sehingga beberapa minggu sejak acara tersebut dilaksanakan terbentuklah komunitas guru penulis Sumenep. Sebagai wujud antusiasme guru dalam menggalakkan budaya literasi di Sumenep.
“Saya percaya sebenarnya kebanyakan guru di Sumenep itu berbakat. Mereka hanya butuh wadah yang menfasilitasi, memperhatikan, dan mendukung, serta mengembangkan bakat mereka. Terutama dalam hal literasi.”

Semangat untuk terus maju berkarya yang dimilikinya patut di contoh. Energinya untuk senantiasa berkreasi sepertinya tak pernah kunjung habis. Hal ini dibuktikan dengan salah satu karyanya yang baru saja diterbitkan baru-baru ini yang berjudul, “Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin Ke Surga”. Meski buku ini merupakan karya bersama hal ini tetap membuktikan bahwa bakatnya sebagi penulis sangat diperhitungkan.

“Membaca. Membaca. Kemudian membaca lagi. Setelah itu baru menulis. Menulis, dan menulis. Begitu seterusnya.” Jawabnya saat ditanya rahasianya dalam mengembangkan bakat menulisnya.
Mengingat banyak buku yang berjejer di rak tempat ruang tamu, mungkin resep menulisnya benar adanya. Membaca dan menulis merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

“Kita lihat saja nanti.” Ucapnya dengan tawa mengembang saat ditanya kegiatan Rulis selanjutnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara di radio kegiatan eksaina (Ekspresi Anak Indonesia) bersama Rumah Literasi Sumenep baru dimulai.

Posting Komentar untuk "LILIK ROSIDA IRMAWATI: PRIHATIN TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI DI SUMENEP"

  • Bagikan