PANGGIL SAYA 'PAK GURU' - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PANGGIL SAYA 'PAK GURU'


Sebagai salah satu sekolah dasar rujukan nasional, berproses dengan berbagai bentuk pembiasaan berperilaku baik menjadi pilot project yang harus dipikul bersama oleh sekolah. Pembiasaan berperilaku baik selanjutnya disebut dengan program Penguatan Pendidikan Karakter atau disingkat PPK. PPK menjadi salah satu bagian dari prioritas pembangunan yang menjadi misi pemerintah dengan revolusi mentalnya. Untuk bahasan bentuk-bentuk pembiasaan berperilaku baik tersebut, secara khusus akan ditampilkan potret salah satu guru dari satu kelas secara zoom in yakni SDN Pangarangan 3, Kabupaten Sumenep. Sebut saja nama guru tersebut Pak Badrul karena ia tidak mau disebut nama aslinya. Ia adalah guru kelas 4-A. Guru ini nantinya hanya mau dipanggil Pak Guru, bukan Pak Badrul. Alasannya akan disampaikan pada bagian akhir tulisan ini.

Langsung saja ke tempat kejadian peristiwa. Di depan pintu gerbang SDN Pangarangan 3 sudah berdatangan wali murid mengantar putera-puterinya. Para guru telah menanti kedatangan mereka sejak pukul enam pagi. Mereka menyambut kedatangan para murid dengan pembiasaan melakukan ’salim’ (memposisikan kedua tangan dalam keadaan menyembah sebagai tanda penghormatan, kemudian meraih dan mencium tangan para guru).

Setiba di kelas, murid-murid melanjutkan aktivitasnya dengan melaksanakan jadwal piket harian membersihkan dan menata perabotan kelas. Mereka yang tidak sedang piket memburu buku bacaan umum di etalase buku kelas, mencatat identitas buku, kemudian mencatan hal-hal yang menurut mereka penting. Ini disebut sebagai kegiatan literasi. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar tiga puluh menit sebelum pelajaran dimulai. Aktivitas tersebut tentu didampingi guru kelas.

PANGGIL SAYA 'PAK GURU'

Ketika bel penanda masuk kelas berbunyi, murid-murid keluar kelas kemudian berbaris rapi dipimpin oleh ketua kelas. Sang guru sudah berdiri di pintu masuk menyambut para murid masuk kelas sambil kembali ‘salim’ sebagai tiket masuk mereka. Pemandangan yang sama dijumpai pula ketika mereka pulang.

Dimulailah proses pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, berdoa, menghormat bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya (saat ini ditulis, mereka sudah mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza diiringi musik). Guru kelas menyapa mereka dengan greeting berbahasa Inggris seperti good morning, how are you today? Mereka pun menjawab dengan membalas sapaan good morning, dan I am fine. Tak lupa pula meneriakkan yel-yel kelas sebagai penyemangat pagi. Ketika guru kelas meneriakkan kata “4-A” mereka menyambutnya dengan yel “Yes, the best, uing uing uing, huh hah, hihihihi (tertawa kecil).”

Kelas tersebut memiliki beragam aksesoris kelas yang semuanya diduga dapat bersinergi untuk tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di dalamnya meriah dengan atribut dan perlengkapan yang mendukung program PPK sepeti bendera merah putih, gambar presiden dan wakil presiden, papan pajang karya siswa per kelompok, papan pengumuman, papa reward, papan struktur, perpustakaan mini kelas yang bertema hutan baca (lebih besar dari sudut baca), sudut agama, sudut pasar, dan sudut prakarya.

Bagian muka kelas selain terdapat perabotan kelas, di bagian atas dinding berbaris foto para murid ukuran  A4 berwarna hasil cetak banner. Pada foto-foto tersebut terdapat identitas siswa seperti nama, tanggal lahir, dan cita-cita. Setiap hari mereka selalu melihat foto mereka dan mengingat cita-cita. Dengan harapan semakin diingat semakin kuat cita-cita tersebut terwujud kelak. Cita-cita dan mengafirmasinya setiap hari adalah bentuk lain dari doa. Hal itu selaras dengan spanduk panjang yang menempel di tembok bagian belakang yang berisi kalimat ‘Imagination is more important than knowledge.’

Tidak lupa pula terpajang pada tembok foto guru kelas 4-A sebagai bentuk partisipasi guru membuat suasana kelas bernuansa kekeluargaan. Mirip seperti ruang keluarga. Ketika guru sedang tidak berada di kelas karena tugas lain, paling tidak foto guru mereka menjadi hipnosis bagi mereka bahwa mereka tetap dalam perhatian guru kelas mereka atau sebagai pengobat rindu mereka ketika sang guru lama mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar kota.

Saat proses pembelajaran berlangsung, guru hampir tidak pernah duduk di kursi. Guru berkeliling ke tiap-tiap kelompok kadang duduk bersama mereka dalam kelompok secara bergilir. Pada waktu tertentu pengelompokan diatur ulang kembali sehingga tidak terjadi dominasi menoleh ke arah tertentu saja dan selalu mendapat teman kelompok yang berbeda setiap bulannya.

Saat proses pembelajaran juga guru tidak pelit untuk memberikan satu atau dua tanda bintang untuk satu atau beberapa murid sebagai penghargaan karena pertanyaan kritis murid, tepat menjawab pertanyaan guru, atau dengan senang hati membantu teman sekelas tentang materi tertentu. Bintang yang mereka peroleh berlabel sesuai dengan kemampuan mereka pada materi-materi tersebut. Bintang tersebut mereka tempel sendiri di papan reward kadang dibantu temannya untuk sekedar merekatkannya.

Sang guru juga membentuk para asisten di bidang-bidang tertentu seperti murid ahli dalam muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan sebagainya. Ketua kelas dan murid yang memperoleh bintang terbanyak akan mendapatkan sematan pin garuda Pancasila di dada sebelah kiri diiringi tepuk tangan hangat teman sekelas. Menghargai pencapaian mereka walau sedikit memberikan kepercayaan diri yang besar kepada mereka untuk lebih pesat berkembang.

Ketika para murid tampak kelelahan atau jenuh, sang guru kelas mengajak mereka menonton film anak-anak seperti ‘Di Timur Matahari,’ ‘5 Elang,’ atau bermain alat musik recorder dan memainkannya dengan iringan musik yang sudah disiapkan. Sang guru sering mengajak murid untuk memainkan recorder dengan lagu sederhana yang hanya terdiri dari dua atau tiga not seperti Flying Kite, Hot Cross Burns, Stairs Race, Mary Had A Little Lamb, Andante, dan Buzz Buzz Buzz. Ada pula lagu dengan not yang lebih kompleks seperti lagu Hymne Guru dan Trimakasihku. Sang guru yakin musik membantu memberikan keseimbangan otak kiri dan kanan serta memberikan endorphin alami bagi murid. Mereka merasa senang. Ketika senyum dan tawa mereka telah kembali, guru mengajak mereka kembali pada tematik pembelajaran.

Uniknya, ketika proses pembelajaran berlangsung kemudian ada tamu mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam, mereka serentak menjawab salam tersebut dan dilanjutkan dengan menyapa balik dengan good morning/good day mr./mrs. Kalau mereka tidak mengenal tamu tersebut mereka akan memanggilnya dengan good morning/good day visitor.  Kebiasaan tersebut tentu telah dibiasakan oleh sang guru. Tanpa pembiasaan, mustahil dapat tertanam dengan baik.

Sebelum mereka asyik mengerjakan tugas menghitung, guru selalu menanyakan lagu kesukaan mereka. Setelah sepakat dengan satu atau dua lagu yang sekiranya cukup waktunya, diputarlah lagu mereka sekaligus sebagai penanda saat lagu kesukaan mereka habis berakhir pula waktu yang disediakan untuk pekerjaan mereka. Lumayan, mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas.

Setiap hari, walaupun bel penanda istirahat berbunyi, mereka enggan keluar kelas. Mereka lebih asyik di dalam kelas. Ada banyak alat-alat permainan di kelas seperti catur, alat-alat musik, wayang kardus, atau alat permainan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Mereka keluar sebentar hanya untuk membeli minum atau kue kemudian kembali ke kelas. Ramailah kelas setiap hari.

Selama kegiatan proses pembelajaran, sang guru juga selalu merekam momen-momen penting dan unik. Selain merekamnya dalam bentuk catatan pada buku anekdot/catatan murid juga diabadikan dengan kamera baik dalam bentuk foto atau video. Beberapa momen istimewa dibagikan di media sosial dan grup paguyuban. Ketika salah satu dari mereka tertidur di kelas, guru melarang membangunkannya, tapi tetap merekamnya dengan baik sebagai bahan diskusi pribadi dengan wali murid.

Begitulah sekilas penampakan kelas dan kegiatan pra dan pasca pembelajaran harian. Bentuk-bentuk kegiatan yang intra dan ekstra sekolah juga saling mendukung penguatan pendidikan karakter seperti kegiatan Sanggar Karembangan dengan kegiatan teater, tari tradisional, dan gamelannya. Gugus Depan 0115/0116 dengan kegiatan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaannya juga berkiprah. Visioner (nama majalah sekolah per tengah tahunan) dengan kegiatan redaktur cilik dan majalah sekolah juga mendukung dan saling menguatkan penerapan program PPK.

Sebagai akhir dari keseluruhan proses pembelajaran setiap hari, selalu ditutup dengan berdoa, memberi salam, kemudian menyanyikan lagu wajib Syukur. Sang guru menetapkan pilihan yang tepat atas lagu tersebut sebagai bentuk dan cara yang lain dari wujud rasa bersyukur atas ilmu yang diperoleh para murid hari itu. Setelah lagu Syukur, mereka kembali duduk menunggu ditunjuk secara berkelompok untuk pulang lebih dulu. Dasar penunjukannya cukup sederhana. Kelompok yang paling rapi, atau paling bersih di bawah bangku-bangku mereka, atau sikap paling manis senyumnya.

Pilihan doa penutup yang dibaca para murid adalah doa akhir majelis. Doa tersebut sangat tepat mewakili rasa syukur dan tekad untuk senantiasa memperbarui keimanan. Doa Pembuka Kepahaman Ilmu dilanjutkan dengan Doa Nabi Musa yang memohon kelapangan dada dan kemudahan dalam segala urusan juga pilihan yang sangat tepat dan saling mendukung dari awal hingga akhir proses pembelajaran.

Dari sekian bentuk dan cara tersebut, sang guru selalu merasa ada saja yang kurang sehingga perlu menemukan ide baru. Bulan kedua tahun pelajaran 2017/2018 semua murid kelas 4-A wajib memanggil guru kelas dengan sebutan Pak Guru. Sebelumnya mereka memanggil dengan Pak diikuti nama guru yang bersangkutan yakni Pak Badrul. Cukup lama merenungkannya, akhirnya harus diterapkan. Dengan pertimbangan bahwa panggilan pak dilanjutkan dengan nama terasa kurang sopan dan santun.

Guru adalah bentuk profesi sama halnya dengan dokter. Pasien rata-rata memanggil dokter dengan Dok atau Pak/Bu Dokter, bukan Pak kemudian diikuti namanya. Menurut guru kelas 4-A terasa nikmat sekali ketika mendengar murid-murid memanggilnya dengan Pak Guru, tanpa namanya. Setidaknya dengan panggilan profesi tersebut dapat menanamkan sifat sopan dan santun kepada guru. Panggilan tersebut juga dapat menjadi penyetara dari keragaman di sekolah. Hanya dengan panggilan Pak/Bu Guru, semua keberagaman menjadi setara dalam profesi. Pembiasaan sebutan atau panggilan tersebut setidaknya sebagai bentuk penghargaan terbaik dari para murid untuk guru mereka.

Kesimpulan sang guru, dengan panggilan Pak/Bu Guru secara tidak langsung diperoleh dampak sebagai berikut. 1) kesadaran bawah sadar bahwa para guru adalah pribadi yang terhomat yang patut digugu dan ditiru; 2) kesadaran bawah sadar bahwa para murid pada posisi haus ilmu, butuh asupan ilmu sehingga gurulah orang yang paling berjasa setelah kedua orangtua; 3) kedudukan terhormat guru di hati para murid yang pantas adalah mendapatkan sikap dan perilaku sopan dan santun; 4) guru adalah utusan Tuhan dalam bidang ilmu pengetahuan dan perilaku yang baik yang wajib disyukuri keberadaannya; dan, 5) guru adalah orangtua kedua yang menemani belajar mereka dengan tulus dan penuh curahan kasih sayang seperti orangtua mereka.

Bagaimana Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan Nasional apakah ide sebutan ‘Pak Guru termasuk pembiasaan perilaku yang baik? Semua murid di kepulauan Madura serta orangtua mereka memanggil guru dengan Pak/Bu Guru, lho! Kalau memang baik dan membawa dampak kebaikan, apa tidak sebaiknya dibuatkan peraturan presiden atau peraturan menteri? Tinggal menunggu jawaban terbuka Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan.



Posting Komentar untuk "PANGGIL SAYA 'PAK GURU'"