Kebenaran Saling Bertubrukan - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebenaran Saling Bertubrukan



Ada kelompok atau perorangan yang meyakini suatu kebenaran. masing-masing kebenaran yang mereka pegang ditafsir mutlah kebenarannya. Mereka memperjuangkan kebenaran versi mereka. Mereka merasa benar dengan tafsiran mereka tentang kebenaran. dampak kebenaran yang mereka milik, ketika bersentuhan dengan kebenaran pihak lain menjadi sebuah benturan yang hebat. Mereka bertengkar saling mempertahankan kebenaran itu. Mereka menyalahkan pihak yang dianggap salah meyakini kebenaran. Inilah yang terjadi di negeri ini.

Kebenaran seharusnya ke dalam diri dan disimpan rapi. Kebenaran bersifat sangat privasi, hanya milik diri. Ketika kebenaran itu tampil ke luar dari dirinya, maka ia akan bernama kebaikan. Ketika faktanya kebenaran hanya berlari di tempat dan muncul ke luar diri kemanusiaan menjadi perasaan menilai kebenaran pihak lain menjadi salah, mencederai dan melukai hati pihak lain, berdampak saling bermusuhan, maka ada yang salah dengan cara tafsir dan cara menampilkan kebenaran. Output kebenaran adalah hanya kebaikan. Kebenaran yang berbeda harusnya berujung pada kebaikan. Ketika kebaikan itu berhadapan dan bersentuhan dengan kebaikan, harusnya muncul pengembangan kebaikan yang menjadi rahmat bagi semua manusia.

Tatanan yang dibela mati dengan harga mati, yakni Pancasila, bukanlah sebagai urutan yang bisa dianggap wacana, mudah dihafal, dan indah dipajang. Pancasila merupakan tangga kebenaran yang outputnya harus kebaikan. Ketika berkali-kali gagal mengejawantahkan dan menumbuhkembangkan kebaikan berarti ada yang salah tentang cara menafsir dan cara menanamkannya.



Sila pertama telah final sejak ditetapkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia bahwa semua agama berbuah aplikasi berupa kebaikan sedangkan kebenaran dalam agama yang dianut merupakan harta rahasia antara pribadi dengan Tuhannya. Kebaikan yang muncul dari kebenaran sila pertama akan menjadi sikap saling menghormati kebenaran tentang keyakinan berketuhanan. Ketika perilaku saling menghormati kemanusiaan atas dampak pemahaman atas sila pertama, maka sampailah pada tangga sila berikutnya.
Sila kedua sebagai tangga kedua akan berdampak ketika sila pertama telah tuntas menjadi sikap kebaikan bagi semua. Kemuliaan manusia akan dijunjung tinggi sebagai buah dari pemahaman yang benar tentang kebenaran pada sila pertama. Selama sila pertama belum tuntas dipahami, maka rasa kemanusiaan itu tak akan terwujud. Kasih sayang alami yang menjadi cita-cita indahnya memanusiakan manusia gagal tercipta. Bhinneka Tunggal Ika pun tercabik-cabik.
Sila ketika juga merupakan buah dari sila pertama dan kedua. Rasa kekeluargaaan dan persatuan hanya akan muncul ketika pemahaman kebenaran sila pertama dan kedua itu telah benar. Pemahaman hati yang benar akan menjadi kebaikan kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan bulu. Puncak dari sila ketiga adalah persatuan, rasa kebangsaan, rasa patriotisme, rasa kekeluargaan, senasib, saling berempati, bersimpati, tak ada yang saling melukai hingga terwujudlah kondisi indahnya kebersamaan.
Ketika ketiga sila Pancasila itu benar terpahami dan tuntas teramalkan, maka rakyat akan sampai pada kepatuhan kepada pemimpin dan kerelaan menjadi yang dipimpin. Keseimbangan rasa antara rakyat dan pemerintah, antara hak kewajiban sebagai pemerintah dan warga negara. Pemerintahan mudah dijalankan, ketatanegaraan mudah diposisikan, dan rakyat saling mendukung cita-cita nasional. Inilah buah dari sila keempat Pancasila. Puncak kerelaan terpimpin pada sila keempat Pancasila inilah yang akan menjadi bagian pamungkas dari tujuan nasional, tujuan negara, yakni terciptanya kondisi adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejenak refleksi, pada sila keberapakah posisi bangsa saat ini? Masih tangga pertamakah? Sejak diresmikan tertanggal 1 Juni 1945, masihkah bangsa ini bertahan pada tangga pertama? Di bagian mana letak kesalahan penafsirannya? Pada bagian mana terjadi kesalahan teknik sosialisasinya? Kalau saat ini ada yang mempertanyakan eksistensinya, bukankah telah final Indonesia sebagai suatu negara? Kalau belum final, akankah kita mundur sejauh 72 tahun dan meraba-raba kembali tentang nama sebuah negara atau membubarkan tatanan negara dengan mengabaikan perjuangan tanpa pamrih para pejuang bangsa?
Kalau dianggap belum final tatanan negeri ini, bersediakah kembali keratusan tahun lampau menikmati masa terjajah? Mengapa masih berkutat pada tangga dan enggan melanjutkan melangkah? Apa yang memberatkan hati? Ambisikah? Gambaran suatu negara yang seperti apa yang akan ditawarkan hingga rela menghapus catatan dan darah perjuangan para pahlawan? Bukan bangsa yang besar itu adalah bangsa yang selalu mengenang dan menghormati jasa para pahlawan? Ataukah ada skenario baru dari oknum-oknum untuk mengganti para pahlawan pendiri bangsa dengan pahlawan baru seperti mengganti tokoh Superman menjadi Powerangers? Jangan-jangan telah banyak penumpang gelap di negeri ini hingga berani berjemaah menggugat Pancasila. Jangan-jangan telah banyak penumpang yang menunggang negeri ini hingga rela menukarnya dengan kenikmatan sesaat sesuai dengan ambisinya. Sejarah berbicara, menulis, dan bersaksi bahwa tahapan dari tangga pertama ke tangga kelima Pancasila ketika masih ditawar dan bukan lagi harga mati dibutuhkan masa yang tak jelas, bisa ratusan tahun untuk mencapai cita-cita nasional. Cita-cita bangsa seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Ketika pada bagian akhir tulisan ini berupa banyak pertanyaan, maka itu berarti sudah cukup waktu untuk saling menunjukkan kebenaran pribadi. Sudah cukup waktu untuk saling mempertentangkan kebenaran dengan kebenaran karena kebenaran hakiki tak akan pernah saling bertentangan. Kebenaran hakiki akan saling melengkapi menjadi kesatuan yang utuh. Sudah waktunya menunjukkan kebaikan sebagai buah dari kebenaran yang diyakini oleh masing-masing pribadi. Waktunya membangun bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Lahir batin. 

Posting Komentar untuk "Kebenaran Saling Bertubrukan"

  • Bagikan