Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

POLISI KOK TIDUR


Sudah lama kubertanya-tanya mengapa lengkungan di tengah jalan gang kampung itu diberi nama polisi tidur. Mengapa tidak diberi nama lain saja misalnya lengkungan jalan, benjolan jalan, atau apalah?
“Ada apa Mas?” rata-rata orang yang lewat bertanya padaku yang duduk-duduk di ujung polisi tidur.
“Tidak apa-apa. Saya Cuma berpikir mengapa ini diberi nama polisi tidur?” sahutku.
“Kurang kerjaan apa sempat-sempatnya mikir gituan?”
Aku cuma tersenyum ramah tanpa kubalas lagi. Aku takut kalau aku ngomong panjang dan suara keras bisa jadi tawuran.
Mengapa ya? Kasihan polisi namanya dikorbankan. Apa polisi tidak tersinggung jadikan gundukan tengah jalan begitu? Mengapa polisi diam saja? Harusnya kan mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa diri mereka keberatan dengan penamaan lengkungan jalan atau gundukan itu diberi nama seperti nama dirinya. Kemudian, adakan sosialisasi penggunaan nama polisi dan bentukan kata yang menggunakan kata dasar polisi dengan benar dan santun. Perlu juga dihapus dan direvisi bentukan kata ‘polisi tidur’ yang ada dalam kamus besar Bahasa Indonesia. Dewan pers, wartawan, dan para penulis buku diingatkan agar tidak lagi menggunakan bentukan kata itu dalam tulisan dan diskusi mereka. Jika melanggar, mereka akan mendapatkan sanksi atau denda sekian rupiah. Anggap saja itu tuduhan atas tindak pelecehan profesi aparat negara yang menguasai republik Indonesia. Bukankah nama kesatuan mereka adalah Polri? Polisi Republik Indonesia. Berbeda dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia), mereka pemilik rasa nasionalisme. Sedangkan pemilik negara adalah ASN (Aparatur Sipil Negara). Hahaha. Ada-ada saja pikiranku jadi kemana-mana.

esai,polisi,polisi tidur,konferensi pers,wartawan,bahasa indonesia,TNI,asn,informasi,thionghoa,rt,rw,motivasi,kata-kata,aneh,organ tubuh,

Kembali ke polisi tidur, mengapa polisi tidur jadi terkenal. Anak kecil pun tahu bahwa gundukan itu bernama polisi tidur. Seluruh Indonesia ketika ditanya serentak tentang benda itu pasti mereka serentak pula menjawab nama benda itu adalah polisi tidur. Apa penggunaan nama itu menyiratkan bahwa polisi kerjanya banyak tidur? Maaf pak polisi, sekedar analisa dan sekedar menafsir.
Tunggu sebentar, kubrowsing dulu. Mungkin ada sejarahnya, mungkin ada asal-usul penggunaan nama yang melibatkan nama polisi. Nah, ternyata ada. Ternyata yang disebut dengan polisi tidur itu maksudnya sebagai alat pembatas kecepatan. Terbuat dari semen atau aspal yang dipasang melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju kecepatan kendaraan.
Wah, polisi tidur ternyata ada diatur oleh hukum yakni Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 3 Tahun 1994. Dalam aturan tersebut ketebalan pembuatan polisi tidur tidak lebih dari 120 milimeter dengan kemiringan 15% dari tinggi maksimum. Penempatannya juga diatur. Polisi tidur hanya diperbolehkan di lingkungan perumahan, jalan kelas IIIC, atau jalan yang sedang dilakukan pekerjaan konstruksi. Polisi tidur juga harus dilengkapi dengan garis marka jalan sehingga terlihat ketika malam hari. Tapi mengapa di kampung-kampung atau di perumahan polisi tidurnya sampai mengenai kotak mesin sepeda motor? Bahkan, ada pengendara yang terjungkal di malam hari.
Maraknya polisi tidur di masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan cukup meresahkan. Setidaknya para pengendara yang melewatinya menggerutu karena merasa kaget, merasa terguncang hebat, dan merasa rugi karena barang-barang mereka berjatuhan. Telur-telur mentah pecah. Kepala-kepala beradu. Organ tubuh bagian dalam tiba-tiba mengajak berkeringat dingin, dan sebagainya. Seandainya aku jadi lurah atau ketua RW di kampungku, maka hal pertama yang kuperintahkan adalah “Lenyapkan polisi tidur!”
“Sudah ketemu Mas tentang polisi tidurnya?” orang yang bertanya waktu lalu kembali lewat.
“Sudah, tapi masih sedikit informasi!”
“Baiklah, selamat ya!”
Mencari asal-usul polisi tidur kok diucapin selamat. Aneh, orang itu.
Saat browsing, aku menemukan sesuatu. Ternyata selain istilah polisi tidur yang membuatku berpikir keras, ternyata ada juga bentukan kata yang melibatkan nama polisi, yakni polisi cepek. Cepek itu artinya 100 berasal dari bahasa Hokien (Thionghoa). Polisi cepek berarti polisi mata duitan kasarannya. Menyindir polisi lagi.
Jadi berpikir keras lagi, nih. Mengapa masyarakat sangat suka melecehkan polisi sehingga dengan kreatifnya membuatkan bentukan nama seperti polisi tidur dan polisi cepek? Apa memang seburuk itu perilaku polisi di mata masyarakat? Memberi nama yang baik bukankah itu bagian dari motivasi? Begitu yang kusampaikan pada saat rapat RT. Beberapa tetangga yang berprofesi sebagai polisi seperti agak tersinggung dengan kata-kataku.

Besok paginya, ketika aku harusnya melewati beberapa polisi tidur dari rumah ke jalan besar, aku terkaget-kaget. Semua polisi tidur lenyap. Berganti dengan lubang bekas polisi tidur melintang. Jangan-jangan pak polisi tetanggaku terisnggung beneran. Lebih kaget lagi, saat di ruang kerja, kubaca korang. Semua polisi tidur di Indonesia lenyap. Serentak. Wao, amazing!

Posting Komentar untuk "POLISI KOK TIDUR"