PENUMPANG DI NEGERI NUSANTARA - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PENUMPANG DI NEGERI NUSANTARA



Pribumi nusantara sekelompok manusia yang merupakan penghuni awal nusantara berdasarkan persebaran untuk menetap dan membangun. Ciri-ciri manusia nusantara beberapa yang dominan adalah berkulit sawomatang dan kuning langsat, berbudaya beragam, berbahasa nusantara atau Bhinneka Tunggal Ika, dan berperawakan tidak tinggi dan tidak pendek.  Maka, selain ciri-ciri tersebut yang sekarang ikut menghuni nusantara adalah penumpang. Disebut penumpang karena mereka bukan manusia nusantara asli.
Siapakah para penumpang ini? Ada dua kelompok besar para penumpang. Pertama yang datang dari arah Barat. Kedua, yang datang dari arah Timur. Penumpang dari arah Barat mempunyai ciri-ciri yang dapat dibagi lagi menjadi dua bagian besar. Ciri-ciri pertama adalah mereka yang berperawakan tinggi besar, kulit putih dan merah, berbau amis, berambut aneka warna, berhidung mancung, dan berbahasa yang sama sekali tidak mirip dengan warga pribumi nusantara. Ciri-ciri kedua adalah mereka yang berperawakan hampir sama tingginya dengan warga pribumi, berkulit hitam, berjanggut, berhidung mancung, berbusana serba panjang, dan berbahasa yang sama juga tidak dimengerti warga pribumi. Satu kelompok besar penumpang dari arah Timur memiliki ciri-ciri yang sama yakni bermata sipit dan bertubuh pendek serta memiliki bahasa yang juga tidak dapat dimengerti oleh warga nusantara.
Wajar kalau dua kelompok besar itu tertarik menjadi penumpang di nusantara. Selain luas negerinya, juga kaya raya. Ingat lagu Kolam Susu karya Koes Plus? “Bukan lautan tapi kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kautemui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Sebenarnya tidak hanya kolam susu. Nusantara adalah kolam permata, kolam emas, kolam uranium, kolam ikan mahal, kolam tanaman bermutu, kolam surga.
Banyak yang kembali ke negeri asalnya membawa oleh-oleh untuk keturunannya. Banyak pula yang menyamar menjadi penumpang abadi dengan menikahi warga pribumi kemudian mengaku dirinya adalah warga pribumi asli. Penghasilan selama terjadi ikatan pernikahan menjadi sumber air yang deras untuk memenuhi kebutuhan di negeri asalnya.
Sebagai para penumpang yang telah lama dan mengaku dan terakui secara resmi sebagai warga negara pribumi menjadi sangat serakah. Keserakahannya dibantu oleh alat kekuasaan yang dijabatnya. Merajalela. Pribumi yang seharusnya majikan di negerinya sendiri, berubah menjadi kacung untuk memenuhi hasrat kebuasan sang penumpang. Tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa malu.
Sebagian lagi beralibi merasa ikut memerdekakan nusantara. Sebagian lagi berargumen telah memberikan pencerahan. Sebagian lagi merasa telah banyak membantu. Dengan alasan tersebut mereka layak diakui sebagai pribumi bukan sebagai penumpang. Bagaimana bisa mereka mengaku sebagai pribumi, ciri fisik, cara hidup, dan cara berbahasa mereka tidak sama? Masuk akal?
Pantaskah penumpang minta dilayani dan dihormati? Penumpang mempunyai kewajiban dilayani dan dihormati hanya sebatas tiga hari. Selebihnya harus tenggang rasa membalas budi kebaikan warga pribumi, bangsa nusantara. Sementara mereka yang menjadi penumpang telah bercokol di nusantara berhari-hari, bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, memperbesar produksi generatifnya.
Penumpang yang telah lama dan baru berdatangan. Dalam waktu cepat mengurusi negara. Dalam waktu singkat mengatur perekonomian untuk bangsa asalnya. Mereka telah memiliki surat sakti menggali lebih dalam tanah nusantara. Mereka telah memiliki tanah sewa bahkan membeli tanah pribumi untuk anak keturunannya. Pribumi menangis. Pribumi belum sampai pada tahapan sila kelima Pancasila. Pribumi masih beranjak pada taraf sila kedua. Dan memang dijaga untuk tidak sampai pada sila ketiga agar mereka lebih leluasa menguras bersih kekayaan nusantara.
Mereka berkoar-koar menyatakan perjuangannya untuk nusantara. Apakah yang mereka perjuangkan? Untuk kelangsungan nusantara dan bangsanya atau untuk kelangsungan anak cucunya baik yang berada di nusantara atau yang berada di negeri asalnya. Mana buktinya? Apakah perjuangan mereka telah mengantarkan bangsa nusantara pada tahapan sila kelima? Atau sengaja mereka atur untuk tetap berada pada tahapan sila pertama dan kedua?
Bangsa nusantara adalah pemilik yang sah atas tanah, air, dan udara nusantara. Yang memiliki gunung-gunung emas dan permata. Yang memiliki hutan-hutan dan lautan surga. Bangsa nusantara pemilik sah atas teritorial politik dan ekonomis nusantara. Akui dan jangan serakah. Jangan mengangkangi tanah nusantara. Jangan berlama-lama. Bangsa nusantara juga memiliki anak cucu. Memiliki keturunan yang jauh lebih banyak jumlahnya dari keturunan para penumpang. Tapi, sangat sedikit yang mencicipi citarasa surga negerinya sendiri. Entah, apakah anak cucu warga nusantara nantinya memperoleh warisan untuk kelangsungan hidupnya? Atau akan menagih ke negeri-negeri penumpang untuk mengambil kembali hartanya?


Posting Komentar untuk "PENUMPANG DI NEGERI NUSANTARA"