Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kamu Siapa?


Umurmu berapa? Lahir tahun berapa? Oke, anggaplah kamu lahir tahun 1970. Kira-kira kamu tahu kapan bapakmu lahir? Anggap saja tahun 1950. Tahu tahun berapa kakekmu lahir? Anggap saja tahun 1930. Kalau bapakmu tidak ada dan terlahir tahun 1950, apakah kamu ada? Apakah kalau kakekmu tidak terlahir tahun 1930 apakah kamu ada? Sebenarnya kamu ada karena tahun 1930 atau 1950?

Ketika aku balik bertanya, apakah kamu bisa menjawab? Kamu pasti tak bisa menjawab apa-apa selain kata ‘tidak tahu.’ Dapatkah kamu menelusuri keturunan siapakah sebenarnya kamu? Paling tidak sampai ke masa cicit Nabi? Atau kalau bisa sampai ke Nabi Adam. Jangan-jangan kamu keturunan Namrud? Jangan-jangan juga keturunan Firaun? Atau Abu Sofyan atau Abu Jahal? Atau siapa?

Begitu mudahnya mencaci, memaki, memfitnah, tanpa dasar yang jelas. Begitu lancarnya lisanmu mengafirkan sesamamu dengan bangganya. Hoax di media massa merajalela dengan kambing-kambing hitamkan memperkeruh keadaan, merusak ruang hati. Apakah kamu merasa suci dan berhak mengkapling surga? Apakah  yang lain dianggap bejat dan pasti masuk neraka? Mengapa kamu mengenyampingkan rasa cinta Tuhan dan hak sewenangNya? Tunggu, dulu! Jangan terlalu mudah menghakimi. Runut dulu kebenaran-kebenaran yang dipunyai hingga yakin dan berdasar jelas. Jangan nyampah dan memperkeruh keadaan. Mencari jati dirimu saja belum mampu kok. Memenukan aliran darahmu hingga ke leluhurmu juga tidak sanggup kan?

Kamu Siapa?

Cobalah lihat struktur kita. Terdiri dari air, tulang, darah,daging, dan kotoran. Kotoran itu kita bawa ke mana-mana. Ketika kita ngomong tentang kesucian, bukankah kotoran itu ada di dalam perut kita? Bahkan ketika menghadap Tuhan pun, kotoran di dalam usus kita pun masih kita bawa. Mengapa begitu melewati batas kita menajiskan seseorang atau sekelompok orang? Sedangkan di dalam perut kita, di dalam usus dan kandung kemih kita menyimpan kotoran dan najis yang menjijikkan. Keturunan siapakah sebenarnya kamu?

Kalau saja dalam perutmu tidak ada kotoran dan najis, aku masih mau menerima lontaran lisanmu dengan akal yang paling sederhana. Tapi, ini sudah keterlaluan. Kamu masih sibuk dengan duniamu dengan mengisi kotoran ke dalam perutmu tiga kali sehari masih sok suci. Yah, aku marah! Aku marah dengan kelakuanmu. Kelakuanmu itu sungguh tak pantas disebut manusia. Darahmu mirip-mirip darah yuwaswishu. Karena kelakuanmu, yang dulu saling tegur sapa, saling kunjung mengunjungi, satu bangsa, satu keyakinan, jadi bubrah! Dan kamu tidak merasa bertanggung jawab, kan?

Naif sekali dirimu. Tidak begitu baik  mengenal dirimu sudah menyampah dan mencaci ciptaan Tuhan. Ingat ya, ketika kamu menghina dan mencaci maki ciptaan Tuhan, itu sama saja kamu menghina Penciptanya. Tunggu dulu! Jangan keburu nafsu menilai orang. Mengapa kamu suka sekali menyibukkan diri menilai orang lain? Apakah dengan menilai orang lain kamu mendapat manfaat? Apakah hasil penilaianmu itu akan membawamu ke surga Tuhan? Is is! Tidak, lo, ya! Justru kamu akan bertransaksi untung rugi atas apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kau caci maki bahkan yang kau kafir-kafirkan. Jangan-jangan nanti kamu termasuk orang yang bangkrut!

Suka sekali hatimu memandu mulutmu untuk menilai orang lain. Jadi lebih pintar mulutmu ketimbang hatimu. Apa yang berkuasa dalam dirimu, mulutmu? Ayo, berhentilah! Puasakanlah anggota tubuhmu! Diam sejenak! Heningkan!


Posting Komentar untuk "Kamu Siapa?"